SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 232


__ADS_3

"Terima kasih pak," ucap Syafiq menjabat tangan pemilik lahan itu.


"Terima kasih kembali," anggup pemilik lahan tersebut.


Syafiq pun pergi mencari pacar dan teman-temannya.


Syafiq melihat mereka yang sedang asik bermain. Menjelang mereka selesai Syafiq memainkan ponselnya.


Peringatan!


Peringatan!


Ada bahaya!


Ada bahaya!


Syafiq berdiri dan melihat kiri dan kanan lalu berlari ke arah tempat Sahara dan Teman-teman yang lain sedang bermain takut terjadi sesuatu dengan mereka.


"Semoga saja tidak terjadi sesuatu dengan mereka," ucap Syafiq berdoa.


Ia sungguh tidak tahu bahaya apa yang terjadi, karena ini di bahaya dan tidak ada misi.


Syafiq melihat Sahara dan yang lainnya bermain dengan suka cita naik komedi putar.


Selang tak berapa lama, sebuah biang lala perlahan-lahan condong dan akhirnya tumbang perlahan-lahan dan akhirnya jatuh ke tanah.

__ADS_1


Braaaaaaaakkkkk!!!!


Suara yang sangat keras terdengar jatuhnya biang lala.


Orang-orang yang sedang asik bermain pun berhamburan lari ke arah biang lala yang hancur itu.


Mereka juga berlari ke sana untuk melihat kejadian tersebut.


Semua penaik biang lala tidak ada yang selamat, mereka semua meninggal dunia karena terjatuh dengan ketinggian sekitar 15 meter.


"Pantas saja tidak ada misi, mungkin karena aku tidak bisa menyelamatkan mereka," ucap Syafiq dalam hati.


"Astaga! Syafiq, aku takut," ucap Sahara menutup mulutnya, ini kejadian mengerikan yang pernah ia lihat.


"Udah, nggak apa-apa, ayo kita pulang," ajak Syafiq memeluk Sahara.


"Kalian pulanglah, biarkan kami membantu mereka," ucap Brima.


"Oh baiklah," angguk Syafiq. "Ayo Yedi," ajak Syafiq melihat Yedi.


Yedi mengangguk. Syafiq membawa Sahara masuk ke dalam mobilnya.


Di saat itu, pemilik taman hiburan sangat panik atas kejadian itu.


"Kamu nggak apa-apa 'kan sayang?" tanya Syafiq mengengam tangan Sahara.

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa," angguk Sahara mencoba tersenyum, meskipun kejadian itu mengerikan baginya.


Syafiq pun menstaterkan mobilnya dan menginjak pedal gas mobilnya dan melaju menuju arah pulang.


Sesampai di sana Syafiq membawa Sahara duduk di reastorannya, dan juga begitu Yedi, membawa Grizelda duduk.


"Kamu tadi ada urusan apa ke sana?" tanya Sahara.


"Oh, saat perjalan pergi mengantar nenek itu aku melihat sebuah taman terbengkalai, jadi aku membelinya, lumayan buat tempat usaha lagi," ucap Syafiq.


"Tapi kamu jangan bikin taman hiburan ya, ngeri banget kejadian tadi," ucap Sahara.


"Enggak, cuma bikin taman aja kok, nanam bunga berbagai spesies, guna untuk bagi yang bosan di rumah atau mau refresing di sanalah tempatnya," ucap Syafiq.


"Oh, kalo itu boleh, tapi jangan taman hiburan ya, aku juga nggak berani naik itu," ucap Sahara.


"Iya Syafiq, resikonya dan dampaknya sangat besar, ini bukan masalah tanggung jawab ganti rugi, tapi mau ke manakan nyawa mereka. Aku saja merinding di buatnya. Tapi biasanya kamu punya firasat tentang sesuatu terjadi?" tanya Yedi.


"Iya aku memang punya firasat, sayangnya aku tak mungkin bisa menolong mereka semua, dan lagi itu jatuhnya langsung ke tanah, mungkin jika ada jeda atau hanya condong beberapa menit sebelum tumbang, mungkin aku bisa menolongnya, tapi sepertinya ajal mereka sudah datang," ucap Syafiq menyayangkan.


"Bener sih, jangan di sesali sesuatu yang sudah terjadi, yang penting mereka tidak meninggal di tempat kita," ucap Yedi.


"Kalian mau makan apa?" tanya Syafiq kepada Yedi.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih


__ADS_2