
"Jika bapak ingin ikut dengan kami maka aku akan menunggu bapak di sini selama 10 menit, jika bapak tidak keluar maka kedatanganku ke sini sia-sia dan wanita yang bapak cintai itu juga ia pasti sangat menderita sampai hari ini," ucap Syafiq.
Sekitar 10 menit menunggu, pak jamal itu tetap tak keluar.
"Haish ya sudahlah, dia sepertinya memang sangat trauma, jika begitu lanjut besok lagi saja, sampai dia keluar," ucap Syafiq kecewa.
Syafiq dan bapak itu kembali masuk mobil, sebenarnya Syafiq belum rela meninggalkan rumah itu sebelum menunggu ia keluar, tapi mungkin pak jamal butuh waktu untuk memikirkannya, sebelum dia benar-benar siap.
Mobil Syafiq pun meluncur di jalanan menuju rumah bapak tersebut.
"Terima kasih pak sudah menemani saya hari ini, tapi besok saya akan kembali lagi ke rumah pak jamal, semoga saja pintu hatinya terbuka dan mau datang ke vila itu," ucap Syafiq.
"Iya sama-sama, semoga sukses," ucap bapak tersebut.
Syafiq kembali melajukan mobilnya dan kembali ke vila itu.
Sesampainya di vila, sebuah mobil masuk di perkarangan halaman vila tersebut dan berhenti.
Syafiq tentu saja heran dengan kedatangan mobil itu dan sangat penasaran dengan pemilik mobil itu.
__ADS_1
Seorang pria keluar dari mobilnya dan ia menuju ke samping mobil dan membukakan pintu untuk Tuannya.
Ia membuka kursi roda lalu mengangkat seseorang dan mendudukkan di atas kursi tersebut.
"Pak Jamal," lirih Syafiq terkejut.
"Mari kita masuk," ajak pak Jamal kepada Syafiq.
"Baiklah, biarkan saya mendorong bapak," ucap Syafiq mendekati pak jamal tersebut.
Pria yang di dorong oleh Syafiq itu berusia 30 tahun, namun karena sakit dan faktor lain ia terlihat tua dan rambutnya ada yang beruban.
Syafiq membantunya masuk ke dalam dengan bantuan para penjaga itu naik ke vila tersebut.
Pak jamal melihat sekeliling dan memegang bekas tusukan itu. kejadian 10 tahun silam yang merenggut 2 nyawa sekali gus oleh tangannya sendiri.
"Maafkan aku maya, aku sangat menyesali perbuatanku sekarang, kau dan anak kita. Seharusnya aku menyetahkan diri ke polisi untuk menebus dosa-dosaku, tapi aku malah mengurungkan diri dan hidup dalam penyesalan hingga rambutku memutih. Dia wanita yang ingin ku nikahkan, ternyata dia berselingkuh dan hamil anak pria selingkuhannya itu dan setelah anak itu berumur 5 tahun aku baru menyadarinya jika itu bukan anakku, itu sangat menyakiti hatiku karena aku membunuh anak kandungku sendiri dan malah membesarkan anak orang lain, karma yang berkali lipat berbalik padaku. Maafkan aku Maya, jika bisa terulang kembali, aku ingin sekali hidup bersama kalian, aku sungguh menyesal Maya, hukuman apa yang harus ku tebus agar kalian hidup kembali, atau mungkin aku harus ikut mati agar bisa bersama kalian? Hukumlah aku Maya jika itu bisa membayar kesalahanku," ucap Jamal menangis terisak-isak.
Bayangan putih datang menembus tembok kamar itu dan berdiri di hadapan jamal.
__ADS_1
Bayangan itu menangis dan membawa anak di sampingnya.
"Maya," ucap Jamal ingin meraihnya tapi apalah daya jika kakinya tak bisa di gerakkan.
"Maya mendekatlah, biarkan aku memelukmu," ucap Jamal mengulurkan kedua tangannya.
Bayangan itu mengeleng dengan meneteskan air matanya.
"Jamal, aku senang kau datang berkunjung. aku jug senang jika kau menyesalinya, sepertinya kita memang tak di takdirkan bersama, mungkin Tuhan sudah mentakdirkan hidup kita berpisah dengan cara begini, tapi aku bahagia jika aku mati di tangan orang yang aku cintai, terima kasih sudah memberiku seorang anak yang cantik, dia sangat mirip denganmu, aku bahagia bersamanya, jadi untuk kamu juga jangan lupa bahagia," ucap bayangan itu tersenyum.
"Maya, tolong hiduplah kembali untukku, biarkan aku bersama kalian, hukuman apa pun akan aku lewati agar bisa bersama kalian," ucap Jamal dengan beruraian air mata.
"Dunia kita sudah berbeda Jamal, aku terus datang ke sini berharap kau datang melihatku, tapi aku harus menunggumu dan membutuhkan waktu 9 tahun untuk menemuimu di sini, kenapa kau baru datang? Apa kau tak merindukan kami?" tanya bayangan itu.
Mendengar itu Jamal tambah menangis dan memegang dadanya yang sangat sesak.
"Maya, kenapa kau tidak membenciku! Kenapa kau tidak menghukumku! Hukum aku Maya agar aku tenang. Maafkan aku Maya, jika aku tahu kau menungguku, aku pasti alan datang ke sini setiap hari untuk melihat perkembangan anak kita, aku juga merindukan kalian," ucap Jamal.
"Karena kau sudah melihat anakmu, maka kami pamit pergi dulu, selamat tinggal Jamal," ucap Bayangan itu melambaikan tangan.
__ADS_1
"Dada Ayah," ucap anak tersebut dan mereka pun menghilang berubah menjadi asap yang tertiup angin.
Bersambung