
"Bapak tunggu dulu!" panggil Syafiq.
"Ada apa?" tanyanyq buru-buru.
"Sini dulu," ucap Syafiq. Dan bapak itu pun pergi ke arah Syafiq.
Syafiq membisikkan sesuatubdi telinga bapak itu, dia mengangguk mengerti dan kemudian ia pun keluar.
Kini tinggal Syafiq, Emerson, anak yang di peluk Syafiq, ibu anak itu dan oelayan pribadi sang ibunya.
"Sekarang hanya ada kita, lebih baik kamu serahkan penawarnya," ucap Syafiq.
"Kamu ngomong sama siapa?" tanya Emerson bingung.
"Yang merasa punya penawarnya, lebih baik berikan, maka kau akan bebas, jika kau tidak memberikannya maka akibatnya akan buruk untuk anak ini dan juga untukmu, terutama untukmu, kau bukan hanya di hukum berat, penawar itu malah penyakit untuk kau simpan," ucap Syafiq.
"Tidak akan," ucap pelayan itu menatap tajam Syafiq.
Emerson dan ibu itu melihat ke arah pelayan tersebut.
"Berikan, atau aku akan mengambilnya sendiri," ucap Syafiq.
"Heh! Padahal tinggal sedikit lagi semuanya selesai," ucap pelayan itu menyunggingkan senyumnya.
"Apa maksudmu?" tanya ibu anak itu kaget dengan pernyataan pelayan kesayangannya.
"Sedikit lagi, anak itu mati dan juga nyonya ini akan mati dan akhirnya aku akan menjadi nyonya di rumah mewah ini," ucap pelayan itu dengan mata yang berapi-api.
"Apa yang ingin kamu lakukan! Aku sudah baik denganmu selama ini, kenapa kau ingin membunuh kami, dia juga salah apa denganmu, kurang baik apa denganmu," ucap ibu anak itu menghadap pelayannya.
"Kenapa? Tentu saja aku sangat iri, kalian teetawa bahagia di depanku dan hidup dengan bergelimangan harta, sedangkan aku hanya seorang pelayan yang setiap hari kalian menyuruhku ini dan itu, aku capek, aku juga ingin hidup seperti kalian, kenapa bukan aku saja yang hidup bahagia bersama suamimu dan kenapa bukan kau yang menjadi pelayanku!" teriaknya marah.
__ADS_1
"Sepertinya dia punya penyakit mental," ucap Emerson.
"Iya, aku punya penyakit mental, aku iri denganmu, kenapa malah keluargaku yang ku sayang hancur karena orang ketiga dan mereka sekarang hidup bahagia, jadi aku juga ingin menjadi orang ketiga agar aku bisa bahagia," ucapnya dengan dengan hati yang sangat tak bisa ia gambarkan.
"Jika begitu berikan obat penawarnya, kau akan di bebaskan," ucap Syafiq.
"Aku tidak akan memberikannya, jika aku memberikannya maka aku tetap saja akan di bunuh," ucap pelayan itu mundur.
"Emerson, tolong pegang anak ini," ucap Syafiq.
Emerson segera memangku anak itu dan Syafiq pun mendekati pelayan itu. Pelayan itu lari lewat pintu depan dan sayangnya pintu itu tidak bisa ia buka ketika bisa di buka ternyata ada pengawal yang menjaganya dan juga ikut mengejarnya. ia kembali berlari ke pintu belakang dan pintu juga tak bisa di buka.
Ia pun lari di kamarnya dan masuk sebuah jalan rahasia yang ia buat sendiri, jalannya seperti lorong sangat kecil bahkan dia sendiri saja sangat sempit.
"Kalian semua cepat cari jalan tembusannya," perintah Syafiq kepaada pengawal yang lain.
Para pengawal itu berpencar mencari tembusannya jalan rahasia itu.
Akhirnya jalan tembusan itu di temukan yaitu di sebuah lubang tembusan air.
Mereka menunggu di tembusan tersebut dan saat pelayan itu keluar ia langsung di tangkap.
"Lepaskan!" teriaknya meronta-ronta.
Akhirnya Syafiq keluar dari lubang sempit itu dengan sakit pinggang.
"Lepaskan aku!" teriaknya.
"Berikan obat penawarnya dulu," ucap Syafiq.
"Lepaskan aku, atau aku akan bunuh diri," ancamnya.
__ADS_1
"Astaga! Dia malah mau bunuh diri, pegang dia yang erat agar dia tidak bisa bunuh diri," perintah Syafiq.
Pengawal itu memegang tangannya dengan kuat.
Syafiq mendekatinya dan memeriksa seluruh tubuhnya tapi tidak di temukan.
"Di mana kamu simpan penawar itu?" tanya Syafiq.
"Hahahaha... aku tidak akan memberikannya, biar aku dan anak itu mati bersama," ucapnya tertawa mengilai.
"Periksa di dalam kamarnya," ucap Syafiq memerintah sebagian pengawalnya. Dan pengawal itu berlari kembali ke rumah
"Ayo kita bawa dia kembali ke rumah," perinta Syafiq kepada pengawal yang memegang wanita itu.
Mereka kembali menuju rumahnya dan pengawal yang mencari penawar itu tidak menemukannya di kamarnya.
"Di mana kamu menyimpannya?" tanya Syafiq.
"Aku tidak akan memberi tahunya, cepat lepaskan aku dulu, barunaku akan memberi tahunya," ucap wanita itu menyeringai.
"Kau lebih baik jangan main-main, atau kau malah terkena akibatnya," ucap Syafiq.
"Aku tidak akan memberikannya, jika aku mati maka kalian tidak akan dapat penawarnya dan anak itu akan mati," ucapnya.
"Dia sangat keras kepala," ucap Syafiq geram.
Bersambung
Jangan lupq like vote komen dan hadiah
Terima kasih
__ADS_1