
Syafiq berlari menuju toilet dan mencoba membukannya, tapi pintu itu terkunci dari dalam.
Syafiq dengan terpaksa menendang pintu toilet tersebut hingga jebol dan terpelanting.
Pintu pun terbuka Syafiq masuk ke toilet perempuan yang di ikuti Amara dan Roni.
Seorang pria sedang berusaha merobek baju gadis itu namun gadis berusaha menahan dengan tangannya meskipun ia berurai denhan air mata karena tak rela.
Syafiq langsung meninju wajah pria itu. "Kau sungguh pria bejat! Jika dia tak suka jangan kau paksa!" ucap Syafiq.
Karena pukulan Syafiq tadi, di sudut bibir pria itu mengeluarkan bercak darah dan pria itu bangun dan menyeka darah tersebut.
"Ini bukan urasanmu!" bentaknya.
"Ini adalah urusanku, emangnya kamu pikir ibunya melahirkan dia untuk kau lecehkan! Jika begitu bagaimana jika aku menghajarmu dan ini bukan urusan orang lain dan membiarkanmu mati ku hajar dan tidak ada yang membantumu?" tanya Syafiq membelalakan matanya.
"Kau berani?" tantang pria itu.
"Kau pikir aku tak berani," ucap Syafiq menarik tangan gadis itu lalu mendekati pria itu.
__ADS_1
Syafiq mengangkat tubuh pria itu lalu menghempasnya ke lantai lalu menendangnya hinggap pria itu terpojok di sudut ruangan hingga pria itu meringgis kesakitan.
"Berani melawanku lagi, kau terima saja akibatnya," ucap Syafiq meninggalkan pria itu lalu mendekati gadis yang bajunya yang setengahnya sudah robek.
"Te-terima kasih ya, sudah menolongku," ucap gadis itu.
"Iya sama-sama, kenapa kamu tidak keluar?" tanya Syafiq heran karena gadis itu masih tidak juga keluar dan masih di depan pintu.
"Aku tidak bisa keluar dengan baju yang robrk begini," ucap gadis itu memperlihatkan robekkan bajunya.
Karena kasihan, Syafiq membuka jacketnya lalu meletakkan jacket itu di punggung gadis tadi yang di saksikan oleh Amara dan Roni.
"Pakailah dulu dan pulanglah, kamu juga pasti tidak semangat untuk kuliah setelah kejadian ini," ucap Syafiq.
"Iya nggak apa-apa," angguk Syafiq.
Gadis itu memakai jacket tersebut lalu ia pun pergi.
Amara merasa serba salah dengan hatinya, ia sendiri bingung, apa ia cemburu? Bagi Syafiq biasa saja di hadapan gadis itu, tapi kena Amara malah melihat mereka sedang bermesraan..
__ADS_1
Syafiq memandang ke arah pria yang duduk di sudut ruangan meringgis ke sakitan itu yang berusaha berdiri.
"Jika kau berani melakukan lagi, aku tidak segan-segan mematahkan anu mu agar kau tidak mengatal lagi," ancam Syafiq.
Pria itu pun pergi meski dengan berjalan pincang. "Awas saja kau!" pria itu balik mengancam.
"Apa sudah puas melihatnya?" tanya Syafiq yang masih berdiri menatap ke pergian pria tadi.
Amara dan Roni bingung dengan ucapan Syafiq karena Syafiq berbicara dengan sendirinya.
Syafiq pun melihat ke arah Amara Roni yang bersembunyi di balik tembok.
Mau tak mau Amara dan Roni pun keluar karena sudah ketahuan.
"Kalian kenapa membuntutiku?" tanya Syafiq.
"Siapa juga yang membuntutimu," ujar Amara manyun sambil melipat tangannya.
"Lalu kenapa kau di sini dengan pria yang kau agungkan itu? Kalian berduaan begini apa sudah pacaran? Sudah jadian?" tanya Sultan tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Apa maksudmu bertanya begitu? Aku tidak akan pernah jadian dengan pria yang memalukankan seperti dia!" Ucap Amara kesal.
BERSAMBUNG