SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 224


__ADS_3

Sesampainya di vila dan mereka duduk di restoran.


"Mau makan apa Tuan?" tanya koki itu.


"Tidak usah, aku sudah makan, bawakan saja jus untuk kami," ucap Syafiq.


"Baik Tuan," angguk koki itu.


"Kalian baru pulang malam begini? Ke mana saja kalian? Jangan bilang ada penganggu yang menguntit kalian?" tanya Jelita melihat ke arah Yedi.


"Ayolah, aku bukan penganggu kakak cantik," goda Yedi.


"Itu mobil punya kamu semua," tunjuk Glinda menunjuk arah 3 mobil terparkir manis di depan Vila.


"Iya, aku ingin memberikan kepada bibiku 1 dan sisanya aku buat ganti-ganti," ucap Syafiq terkekeh.


"Orang kaya mah beda ya, aku saja seorang Ceo masih mikir beli ini dan itu jika bukan untuk kebutuhan," ucap Jelita.


"Ya itu juga kebutuhan, kebutuha hidup," jawab Syafiq ngasal.


"Di mana Grizelda?" tanya Sahara yang tidak mendapati Grizelda bergabung.


"Dia masih di kamarnya dan tidak mau keluar, di bawa rumah sakit juga nggak mau," ucap Glinda khawatir.


"Ini sangat aneh? Atau sakitnya di sebab oleh yang lain?" tanya Jelita.


"Biar aku yang lihat Grizelda," ucap Sahara berdiri dan ia pun pergi menuju Vila.


"Apa jangan-jangan Grizelda sudah tahu duluan kalian jadian dan dia juga menyukaimu, mungkin dia merasa sangat sedih, aku melihatnya menangis, jadi aku tebak dia bersedih atas jadian kalian, karena dia tidak biasanya seperti ini. Dia sangat periang dan ceria," ucap Jelita.


"Aku rasa juga begitu," angguk Glinda.


"Sebenarnya aku juga menyukai kamu, tapi jika kamu tidak memilihku tidak masalah, asalkan yang kamu pilih salah satu dari kami, jika ketahuan kamu memilih orang lain, aku tidak akan terima," ucap Jelita manyun.

__ADS_1


"Iya, nyatanya aku kan memilih Sahara," jawab Syafiq.


"Untung saja kamu memilihnya. Oh iya, Syafiq aku sudah membawakan karyawannya. Ayo sini," panggil Jelita kepada 2 orang pelayan.


Mereka mengangguk dan segera mendekat.


"Ini mereka, bagaimana menurutmu?" tanya Jelita meminta pendapat.


"Tidak masalah asal mereka bisa kerja," jawab Syafiq.


Pak Koki itu membawakan beberapa gelas yang berisi minuman jus buah segar dan meletakkan di atas meja.


"Silakan Nona, Tuan. Oh ya Tuan, saya juga membawakan keponakan saya ke sini untuk bekerja sebagai pelayan dan seorang koki," ucap pak koki itu.


"Di mana mereka?" tanya Syafiq.


"Ada di sana. Mari ke sini," panggil pak koki itu.


Mereka datang.


"Berarti ada 5 pelayan dan 3 koki, baiklah mari kita bahas pekerjaan kalian, 3 orang pelayan untuk mengantar makanan, 1 orang kasir dan 1 orang untuk mencatat menu pesanan, aku butuh 2 orang lagi khusus untuk mencuci piring, untuk gaji koki yaitu 8 juta dan sisanya, pelayan pengantar makanan 5,5 juta, pencatat menu 5 juta dan kasir 5 juta, untuk gaji pencuci piring 5,5 juta, karena kerjaan mereka juga beratkan. Besok malam aku mau bikin acara perayaan atas jadian aku dan Sahara, bibi beserta keluarganya datang, jadi nanti malam siapkan menunya ya," ucap Syafiq.


"Baik Tuan," angguk mereka.


"Dan sekalian ingin meresmikan restoran ini, jadi mulai malam lusa restoran ini resmi di bukan untuk pengunjung, kalian juga bawa keluarga kalian," ucap Syafiq.


"Baik Tuan, terima kasih," ucap mereka.


Bruuum


Bruuum


Bruum

__ADS_1


Sebuah mobil datang. Siapa lagi kalo bukan Brima yang membawa mobil Glinda.


"Selamat Malam," ucap Brima memberi hormat.


"Wah… selamat malam Bang polisi," ucap Syafiq.


Brima pun menyalami mereka semua, kecuali Glinda yang menepis tangan Brima.


"Kau kasar sekali Glinda, orang yang kasar itu biasanya bakal cepat jatuh cintanya," ucap Brima tersenyum.


"Iya, aku sudah terjatuh, terjatuh dalam neraka kalo melihat mukamu itu," jawab Glinda kesal.


"Kenapa dengan kalian berdua, bukannya kalian tidak bertemu dan kalian malah bertengkar, aku mencium bau-bau cinta di sini," ucap Jelita terkekeh.


"Bau cinta apa'an, bau tai ayam iya lah," jawab Glinda ketus.


"Kenapa sih?" tanya Syafiq tersenyum.


"Siapa yang nggak kesal, masa mobilku buat nabrak penjahat," ucap Glinda manyun.


"Tapi kerusakannya sudah aku perbaiki kok, aku melakukan itu juga terpaksa karena penjahatnya kabur, tapi untungnya penjahatnya hanya terluka saja dan tidak mati," ucap Brima.


"Lho? Apa abang polisi tidak di tangkap karena menabrak orang?" tanya Syafiq.


"Ya nggaklah, itu aku melakukannya terpaksa agar dia tidak kabur, dari pada dia ku tembak," jawab Brima santai.


"Mana kuncinya," pinta Glinda mengulurkan tangannya.


"Lho bukannya kamu masih sakit untuk bekerja, lagian gimana aku pulang?" tanya Brima.


"Jalan kaki saja sana," ucap Glinda kesal.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih


__ADS_2