SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 233


__ADS_3

"Apa aja yang penting bisa di makan," jawab Yedi.


"Buat apa saja asal bisa di makan pak koki," ucap Syafiq.


"Apa saja bisa di makan, asalkan mau di makan," ucap Pak koki.


"Iya buatkan saja dari eek ayam," jawab Syafiq terkekeh.


"Asem lu," ucap Yedi manyun.


Syafiq tertawa.


"Baiklah Saya buat makanan jepang saja," ucap pak koki.


"Mantap tuh," ucap Syafiq.


Sang koki pun masak dan bekerja sama untuk membuat makanan yang di luar menu.


"Oh ya, setelah makan nanti aku mau jemput bibi, kalian ikut nggak?" tanya Syafiq.


"Ikutlah sekalian jalan-jalan," ucap Yedi.


"Hm… kalian berdua kenapa nggak jadian aja?" tanya Sahara.


Grizelda diam dan menundukkan kepala.


"Aku sih mau aja, tapi Grizeldanya mau apa nggak?" ucap Yedi.


"Griz kamu mau nggak?" tanya Sahara tersenyum.


"Aku belum pengen pacaran," ucap Grizelda.


Mereka langsung terdiam dan menjadi canggung.


Tak lama makanan pun selesai di masak. "Silakan Tuan, Nona," ucap pelayan tersebut menyajikan makanannya di atas meja.


"Terima kasih," ucap Sahara.


Mereka pun melahap makanannya sedangkan Grizelda makan dengan perlahan.


Triring


Tririrng


Triring


Ponsel syafiq berbunyi dan ia pun menganggaktnya.


"Halo Bi," jawab Syafiq.


"Kamu sibuk nggak?" tanya Bibi.


"Nggak Bi, habis makan aku langsung jemput Bibi nih," ucap Syafiq.


"Oh Syukurlah, soalnya Alviso sudah nggak sabar minta jemput sama kamu," ucap bibi.


"Oh iya ya, baiklah, habis makan aku langsung ke sana," ucap Syafiq.


"Baiklah, kami juga mau siap-siap," ucap bibi.

__ADS_1


"Baik Bi," jawab Syafiq memutuskan panggilannya.


"Ayo cepat makan, kita ke rumah bibi," ucap Syafiq.


Setelah selesai duduk sebentar dan mereka pun pergi.


"Pak Koki kami jumput bibi ya, nanti malam siap-siap ya," ucap Syafiq.


"Bail Tuan," angguk para koki.


"Aku nggak pergi, kalian pergi lah," ucap Grizelda.


"Kenapa?" tanya Sahara mengangkat alisnya.


"Nggak apa-apa, aku sedang nggak mau ke mana-mana," ucap Grizelda.


"Ayolah, kamu bareng aku yuk," ajak Sahara menaril Tangan Grizelda dan masuk ke dalam mobilnya.


Mau tak mau Grizelda masuk juga di kursi penumpang.


Syafiq pun masuk ke dalam mobil Yedi dan mereka pun berangkat.


"Kita ke toko mainan dulu," ucap Syafiq.


Yedi mengangguk-angguk dan memutar setirnya dan melaju.


Ding ding


Misi baru


Menolong Seorang Nenek-nenek kehilangan uangnya


"Pelankan mobilnya," ucap Syafiq.


Yedi pun memelankan laju mobilnya. "Ada apa?" tanya Yedi.


"Ada nenek-nenek uangnya hilang," ucap Syafiq.


"Mana nenek-neneknya?" tanya Yedi penasaran.


"Aku juga nggak tau nenek yang mana, makannya lihat-lihat mana orangnya," jawab syafiq.


Mobil Sahara juga ikut memelankan mobilnya. "Ada apa mereka ini, di depan nggak macet kok," ucap Sahara.


"Mungkin ada sesuatu di depan," sahut Grizelda.


"Syafiq, itu nenek-nenek yang seperti mencari sesuatu," ucap Yedi menunjuk seberang jalan.


"Oh iya, kamu berhentikan mobilnya, biar aku samperin nenek itu," ucap Syafiq.


"Baiklah," angguk Yedi menepikan mobilnya dan memberhentikannya.


Syafiq keluar dari mobil dan kemudian berlari ke arah seberang jalan dan menghampiri sang nenek.


"Nenek, nenek sedang apa di sini?" tanya Syafiq.


"Uang nenek hilang, nggak tau kemana perginya," ucap nenek itu kebingungan.


"Berapa uang nenek yang hilang itu?" tanya Syafiq.

__ADS_1


"400 ribu," ucap nenek itu.


"Kalo uangnya aku ganti nggak apa-apa ya, uang nenek yang hilang itu anggap saja buka rezeki ya, jangan di cari lagi," ucap Syafiq.


"Beneran?" tanya sang nenek.


"Iya, tapi apa nenek sendirian saja?" tanya Syafiq.


"Ada kakek juga mencari di sebelah sana," ucap nenek itu menunjuk seorang pria yang tua renta.


"Panggil kakeknya nenek, biar dia nggak capek nyariin lagi," ucap sYafiq.


"Kakek! Kakek, ayo sini!" panggil nenek.


Namun kakek masih mencarinya. "Pendengaran udah kurang dia Nak," ucap Nenek itu malu-malu.


"Oh ya udah, biar aku yang nyamperin kakek," ucap Syafiq.


Syafiq pun mendekati kakek. "Kakek, di panggil nenek tuh," ucap Syafiq kepada kakek.


"Apa?" tanya kakek.


"Di panggil nenek," ucap Syafiq mengeraskan sedikit suaranya.


"Apa?" tanya kakek lagi.


Syafiq menarik nafas. "Di panggil nenek di sana," teriak Syafiq.


Kakek itu mengangguk-angguk.


"Astaga anak jaman sekarang memang kurang ajar ya, orang tua di bantak-bentak," ucap salah satu warga.


"Aku nggak bentak kok, kakeknya harus dengan suara keras baru dengar," ucap Syafiq mencoba menjelaskan.


"Di depan orang pura-pura baik," ucap Salah satu warga memandang sinis Syafiq.


"Hadeh! Terserahlah, di jelaskan juga nggak percaya, terserah dialah," ucap Syafiq menuntun Sang kakek ke arah nenek.


Syafiq melihat kiri dan kanan memantau takut ada yang melihat dia memberi uang kepada nenek.


"Nek, aku ada sedikit uang sebagai gantinya, tapi kalian bukanya pas di rumah aja ya, kalo di jalanan nanti takutnya di ambil orang," ucap Syafiq.


"Oh terima kasih ya Nak, semoga rezeki kamu lancar," ucap nenek itu senang.


"Kalian langsung pulang ya, hati-hati uangnya di ambil orang," pesan Syafiq.


"Iya, terima kasih Nak," ucap nenek itu.


"Iya sama-sama, kalau gitu aku pergi dulu," ucap Syafiq.


"Iya hati-hati Nak," ucap nenek.


Syafiq mengangguk dan kemudian kembali menyebrang dan masuk mobil.


Bersambung


Jangan lupa like komen vote dan hadiah


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2