
Ding ding
Hadiah Ada di tambah 18.000.000.000.000
Hadiah Anda menjadi 19.020.185.500.000.
Syafiq dan yang lain masih sibuk dengan komputernya.
"Syafiq, apa tidak menelpon mereka semua untuk datang ke sini?" tanya Bara.
"Ya udah telponlah," jawab Syafiq yang masih duduk di layar komputernya.
Tuuut
Tuuut
Tuuut
"Halo," jawab Jelita.
"Kalian di mana?" tanya Bara.
"Kami di jembatan melihat pemandangan yang indah. Oh ya, apa kalian sudah selesai?" tanya Jelita.
"Sudah, sayangnya kami secara tak langsung tidak di terima oleh perusahaan QR," jawab Bara sedih.
"Benarkah? Tidak apa-apa, 'kan masih banyak perusahaan yang lain, kami akan ke sana sekarang, kita cari perusahaan yang lain," ucap Jelita menghibur.
"Iya, kalian harus datang ke sini, dari perusahaan QR, kalian harus melewati 7 buah perusahaan lainnya," ucap Bara.
"Baiklah," angguk Jelita memutuskan panggilannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Sahara.
"Mereka gagal untuk mengajak kerja sama dengan perusahaan QR," jawab Jelita dengan wajah sedih.
"Berarti tugasnya juga gagal donk," ucap Yedi.
"Ya udah kita kembalu ke sana, tadi Bara bilang kalau kita harus pergi ke sebuah tempat yang jaraknya 7 buah dari perusahaan QR," ucap Jelita.
"Ayo ke sana sekarang," ajak Sahara menarik tangan Jelita.
Mereka pun menuju tempat yang di sebutkan oleh Bara tadi.
Bara berdiri di tepi jalan agar mereka tidak binggung mencari tempatnya.
"Itu Bang Bara, tapi di mana Syafiq?" tanya Yedi.
Mobil mereka pun menepi perlahan-lahan di dekat Bara.
"Ayo, parkir mobilnya di dalam," ucap Bara.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Yedi.
"Ayo masuk saja dulu," ajak Bara.
Mereka pun masuk ke dalam, dan melihat Syafiq sedang bersantai di depan komputer.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Sahara mendekati Syafiq.
"Hahahaha… tentu saja membuat perusahaan baru," jawab Syafiq merangkul pundak pacarnya itu.
"Lalu apa yang kamu lakukan dengan komputer dan orang-orang di sini?" tanya Sahara.
__ADS_1
"Mulai sekarang, mereka adalah karyawan kita, tempat ini adalah perusahaan kita," ucap Syafiq.
"Tapi… tempat ini lebih jelek dari tempat usahamu di sana," ucap Sahara melihat sekeliling.
"Tenang saja, perusahaan ini hanya tampilannya saja yang jelek, tapi coba kamu lihat di layar komputer," ucap syafiq memandang ke komputernya.
"Ha? Ini 'kan perusahaan yang berpengaruh di dunia, kenapa kamu memperlihatkannya?" tanya Sahara tak mengerti.
"Perusahaan SFQ itu adalah perusahaanku, meskipun baru masuk hari ini, tapi sudah menjadi perusahaan teratas di asia," ucap Syafiq.
"Beneran? Astaga tidak menyangka perusahaan kamu berpengaruh dunia, orang-orang di luar sana pasti tidak menyangka jika perusahaan yang kecil ini bisa menendang perusahaan besar," ucap Jelita kagum.
Salah satu wartawan mondar mandir mencari perusahaan SFQ.
"Aku yakin tadi sudah melacak alamatnya perusahaan SFQ berada di sini, tapi di mana perusahaan itu? Di sini tidak ada nama perusahaannya?" tanya wartawan itu garuk-garuk kepala.
Beberapa orang lagi datang dan bertanya-tanya tempatnya di mana. Dan akhirnya Mereka pun duduk.
"Bagaimana jika aku membuat papan tamplet nama di depan gedung ini?" saran Yedi.
"Buatlah," jawab Syafiq tak memperdulikannya.
"Hehehe… dengan senang hati," ucap Yedi mengambil kertas lalu menulis nama perusahaannya.
"Ayo Bang, bantu aku menempelkan nama perusahaan di depan," ajak Yedi kepada Brima.
"Ayo," angguk Brima.
Mereka menggunakan paku payung untuk menempel nama perusahaan tersebut.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
terima kasih