
Setelah selesai, Grizelda pun keluar dari dapur dan ia juga sudah bersiap-siap.
"Ya sudah, aku sudah siap nih," ucap Grizelda.
"Ya udah, ayo," ucap Syafiq dan mereka pun menuju mobilnya.
Dan mereka pun pergi.
Sesampainya tempat pembuatan paspor, mereka harus menunggu.
"Silakan menunggu ya pak, Buk nanti saat giliran Anda kami akan memanggil nama Anda," ucap pegawai itu.
"Baik Buk terima kasih," ucap Grizelda.
"Sama-Sama Buk," ucap pegawai itu tersenyum.
Syafiq dan Grizelda menunggu di kursi tunggu.
Ding ding
Misi baru
Seorang buronan polisi ingin keluar negeri dan sedang mengurus paspor dan ia menyogok pegawai itu dengan uang yang banyak.
Hadiah 3.000.000.000
"Wah, aku harus telpon Glinda secepatnya nih," ucap Syafiq.
__ADS_1
"Grizelda, kamu tunggu sebentar ya di sini, aku telpon Glinda," ucap Syafiq.
"Ya udah," angguk Grizelda.
sebelum keluar, Syafiq memperhatikan semua orang dan ia melihat seorang pria masuk untuk ke sebuah ruangan dan wajah yang di tutupi topi dan memakai mantel panjang padahal cuaca sangat panas.
Tuuut
Tuuut
Tuuut
"Halo," jawab Glinda.
"Halo Glinda, di tempat pembuatan paspor ada seorang buronan yang juga ingin membuat paspor, sepertinya dia ingin lari keluar negeri, kamu cepat ke sini sebelum ia kabur, karena proses pembuatan paspornya kemungkinan akan cepat selesai karena ia menyogok uang jepada pegawai itu," ucap Syafiq memberi tahu.
"Ayo Brima kita ke tempat Syafiq sekarang," ucap Glinda masuk mobilnya.
"Ngapain kita ke sana?" tanya Brima heran.
"Ada buronan yang akan keluar negeri, kita harus segera menangkapnya dan Syafiq akan memantaunya terus," ucap Glinda cepat menginjak pedal gas dan melaju sangat kencang, dan tak lupa ia menghidupkan sirinai polisi agar pengendara memberinya jalan.
"Ini orang main matiin aja, ya udah aku harus memantau pria itu," ucap Syafiq dan ikut masuk ke ruangan tersebut dan mendengar pecakapan mereka dari depan pintu yang hanya tertutup dan masih bisa mengintip.
"Saya ingin cepat membuat paspornya karena sangat penting, saya ingin mengejar penerbangan siang ini karena anak saya meninggal di sana, agar secepatnya bisa bertemu dengannya," pinta pria itu memohon.
"Anak Anda sudah di sana, kenapa Anda ada di sini?" tanya petugas itu.
__ADS_1
"Iya, karena Saya dan istri saya bercerai dan ia membawa anak saya keluar negeri bersama suaminya yang baru, saya sangat ingin bertemu dengannya," ucap Pria itu mengiba.
"Tapi Anda tetap harus Antri pak karena yang lain juga ingin cepat, tidak mungkin kami dahulukan bapak sedangkan yang lain menunggu dari tadi dan nomor antriannya di geser, mereka juga punya keperluannya masing-masing," ucap pegawai itu.
"Begini, bagaimana jika aku memberikan uang, Anda mau berapa? 1 juta, 5 juta, 10 juta atau akan saya beri 20 juta," ucap pria itu.
Pegawai itu terdiam sambil berpikir, tawaran yang sangat mengiurkan baginya.
"Tapi pak ini di luar batas kemampuan saya," tolak pegawai itu.
"Begini, ini tawaran yang terakhir, bagaimana jika 30 juta," ucap pria itu.
Pegawai itu terdiam lagi dan masih berpikir, tawaran yang sangat tinggi, 30 juta sama dengan gajinya 6 bulan.
"Baiklah," ucap pegawai itu setuju.
"Wah.. bapak emang dermawan," ucap pria itu mengosok-gosokkan tanganya sambil tersenyum.
"Baiklah kita isi datanya dulu," ucap pegawai itu mengambil formulirnya.
"Tapi pak yang kira-kira yang tembak yang sudah jadi ada nggak?" tany pria itu lagi
Bersambung
Jangan lupa likevote komen dan hadiah
Terima kasih
__ADS_1