
Syafiq menatap sartifikat rumahnya sambil tersenyum. "Aku tidak pernah menyangka jika aku bisa punya rumah mewah juga, bermimpi pun dulu aku tak berani, tiba-tiba saja ini jadi kenyataan," ucap Syafiq mencium sartifikat rumah tersebut.
Ia meletakkan sartifikat tersebut di sampingnya, di perjalanan sesekali ia melihat sartifakat itu dengan tersenyum. Siapa yang senang, apa lagi Syafiq yang biasanya hanya tinggal di gubuk reot dan kita tingga di rumah elit, semua orang pasti mendambakannya.
"Bibi, bibi," panggil Syafiq dari teras rumah.
Namun tidak ada sahutan dan pintunya juga tertutup.
"Pergi ke mana mereka ya?" Tanya Syafiq heran.
Syafiq menetuk pintu namun tetap tidak ada jawaban.
"Ya sudahlah, jika begitu lebih baik aku beres-beres terlebih dahulu," ujar Syafiq mencongkel pintu tersebut dan pintu itu terbuka.
Syafiq terlebih dahulu membereskan bajunya dan perlengkapan lainnya, Setelah selesai, Syafiq membereskan dapurnya menyusun piring dan alat dapur lainnya.
Tak lama, Bibi dan Alviso pun pulang.
"Lho? Ada apa ini Syafiq?" tanya Bibi terkejut karena semua peralatan turun ke bawah.
__ADS_1
"Ayo cepat, kita akan pindah," ucap Syafiq buru-buru.
"Ke mana? Jangan-jangan kamu sudah melakukan sesuatu membuat kita harus pergi sekarang?" tanya Bibi panik.
Syafiq berhenti seketika dengan wajah manyunnya. "Ayolah Bibi, jika aku melakukan kejahatan, ngapain aku pulang bawa piring dan kalian, aku akan melarika diri sendiri saja," jawab Syafiq.
"Jadi kita akan ke mana?" tanya Bibi.
"Kita akan pindah rumah baru," ujar Syafiq.
"Ha? Rumah Baru? Kamu serius Syafiq?" tanya Bibi tak percaya.
Bibi pun bergegas membereakan barang-barangnya, sedangkan Alviso di berikan mainan agar duduk diam bermain.
Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka selesai juga membereskannya.
"Apa semuanya sudah Siap Bi? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Syafiq memastikan.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi, tuh lihat kosongkan," ucap Bibi menunjuk tempat yang sudah kosong melompong.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu kita Lets go," ucap Syafiq mengangangkat yang berat-berat masuk ke bagasi mobil Syafiq dan mobil Bibinya, sedangkan Bibi mengangkat yang sesuai dengan tenaganya, kalo Alviso, mending ngak usah, ketimbang ganggu.
"Bibi kalo cuma bawa mobil jalan lurus, bisa kan?" tanya Syafiq.
"Ya cuma lurus doank, jangan ada belok-beloknyalah, apa lagi nyebrang," jawab Bibi.
"Nggak, cuma luruuuuuus aja, pas beloknya cuma pas masuk ke halaman rumah, nggak mungkinkan mereka bikin rumah di tengah jalan?" guyon Syafiq.
"Becanda aja kamu, ya udah ayo berangkat, tapi kamu jangan laju-laju ya," ucap Bibi memperingati.
"Aman Bi," jawab Syafiq mengancungkan jempolnya kemudian masuk mobil.
Meskipun beransur-ansur seperti siput di jalanan dan meskipun membuat pengendara lain kesal, akhirnya mereka sampai di depan rumah impian mereka juga.
Bibi melongo tak percaya mendonggakan kepalanya terharu dengan rumah baru mereka.
"Ini sangat mewah Syafiq, Bibi bahkan tidak berfikir jika bisa tinggal di sini, bahkan Bibi tidak berpikir jika kau membeli rumah semewah ini," ucap Bibi tersenyum bahagia sambil memeluk Alviso.
"Aku sudah berjanji untuk beli rumah baru, kita sudah terlalu lama tinggal di rumah gubuk itu meskipun sudah banyak kenangan yang tertinggal di sana, tapi kita harus memulai hidup baru lagi, kembali menata hidup kit," jawab Syafiq.
__ADS_1
BERSAMBUNG