SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 109


__ADS_3

"Tidak," jawab Syafiq.


"Video kamu beredar di mana-mana jika kamu membuli anak bapak ini," ucap Dekan kampus menunjuk ke arah ayah Roni.


"Saya tidak membulinya, semua anak di kampus ini jadi saksinya jika dia yang membuat janji, dan saya hanya menguruhnya untuk menepatinya," jawab Syafiq.


"Tapi kamu membulinya di depan mahasiswa, kenapa kamu lakukan itu!" ucap dekan itu memarahi Syafiq.


"Di vedio sudah jelas, semua mahasiswa juga menjadi saksinya, itu semua kemauan Roni, siapa yang kalah dia harus terima kekalahannya, itu semua atas permintaan anak-anak lainnya juga," jawab Syafiq.


"Lalu kenapa kamu tidak mau memaafkannya saja, dengan begitu akan selesai," ucap dekan itu.


"Lalu, jika aku yang kalah, apa dia juga akan memaafkanku?" tanya Syafiq.


Dekan itu terdiam sambil menatap Ayah Roni.


"Lalu siapa memukul Roni hingga ia masuk rumah sakit?" tanya Ayah Roni bersuara.


"Aku," jawab Syafiq.

__ADS_1


"Apa! Beraninya kamu mengaku!" bentak Ayah Roni yang mengangkat tinjunya dan ingin memukul Syafiq.


"Sabar pak, sabar pak," ucap dekan itu menahan tubuh Ayah Roni.


"Bapak harap kamu punya alasan kamu memukulnya, jika kamu tak punya alibi yang kuat maka kampus ini tidak akan melepaskanmu," ucap dekan itu.


"Tentu saja aku punya alasan, sejak kekalahan itu di malamnya dia mengobrak-abrik pelaminan pernikahan Bibi saya dengan 3 orang temannya, apa saya membiarkan dia mengacaukan dekorasi pernikahan bibi saya sementara besoknya bibi saya menikah," ucap Syafiq.


"Alasan ini masuk akal," ucap dekan itu.


"Itu semua karena kamu membulinya terlebih dahulu!" ucap Ayah Roni marah.


"Apa? Mobil itu seharga 6 milyar?" tanya ayah Roni.


"Bukannya kau membelikan untuk taruhannya, Kenapa kau tidak tahu," ujar Syafiq menyengir.


Ayah Roni terdiam sambil menekuk alisnya. "Dari mana Roni mendapat uang sebanyak itu, bukannya waktu itu aku hanya membelikan mobilnya seharga 2 miliyar?" tanya Ayah Roni dalam hati.


"Bagaimana kamu harus membayar atas pembulian anakku?" tanya Ayah Roni menatap Syafiq tajam.

__ADS_1


"Untuk apa aku membayarnya, itu kesalahan dia, dia yang mengajak bertaruh, tapi dia yang kalah, kenapa aku yang di salahkan," ucap Syafiq tak mau kalah.


"Tunggu saja pembalasanku," ucap Ayah Roni pergi begitu saja.


Syafiq mengangkat alisnya dan mencibirkan bibirnya melihat kepergian ayah Roni.


"Kamu sangat berani ya, apa kamu tahu nama kampus kita menjadi jelek," ucap dekan itu kepada Syafiq.


"Seharusnya bapak itu marah sama Roni, bukan denganku, dia yang duluan kenapa aku di salahkan," ucap Syafiq.


"Lalu kenapa kamu menerima taruhannya," ucap Dekan itu lagi.


"Jika aku tidak menerimanya dia akan mengambil motor awal aku berjuang, jika aku tidak menerimanya mungkin aku yang sudah bersujud di kakinya, aku tak punya pilihan selain menerimanya, atau posisi kami akan berbalik," jawab Syafiq tak mau kalah.


Bersambung


Jangan lupa like vite komen dan hadiah


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2