
"Jika tidak tahu, apa yang mau di investigasikan," ucap Sutradaranya.
"Tenang, para petugas sedang mencari buktinya jika sesuatu akan terbukti maka kita akan tahu, siapa pelakunya," ucap Syafiq.
"Baik, kita lanjut lagi. Seseorang yang membencinya sudah mengintai dan melihat gerak gerik sang korban, saat pukul 6 pagi itu, sang korban sudah bersiap-siap dan berangkat dari rumah, saat berangkat ke tempat Syuting, korban sudah di untit oleh pelaku, ketika perjalanan mereka pun melakukan aksinya dan membunuhya secara sadis," ucap Syafiq.
Tririring
Tririring
Triring
Ponsel Syafiq berbunyi.
"Sebentar ya, halo," jawab Syafiq.
"Halo Syafiq, pasangan dari benda yang kamu pinta sudah di temukan di rumah seseorang, #€@;@@^!¥!?!&₩₩+:@^×"*@:@(@€@," ucap Brima memberi tahu Syafiq secara privat.
"Baiklah, aku mengerti," jawab Syafiq mengangguk.
"Aku sudah mendapat kabar jika sesuatu yang saya temukan di baju Lala ada pasangannnya dan itu di temukan di rumah seseorang, saat pelaku melakukannya kejahatan dia pasti tidak sadar jika ada sesuatu yang hilang dan terjatuh dari tubuhnya, saya sudah yakin jika pelakunya ada di sini," ucap Syafiq tersenyum.
__ADS_1
Brima pun datang dan membawakan barang buktinya.
"Barang buktinya ada di sini," ucap Brima menyerahkan kepada Syafiq.
"Terima kasih. Barang buktinya sudah ada di tanganku, lebih baik mengaku saja," ucap Syafiq.
Semuanya terdiam.
"Lily, kamu lebih baik mengaku saja, katakan pada Ibumu alasanmu membunuh kakakmu, agar ibumu mau memaafkanmu," ucap Syafiq.
Mereka semuanya kaget dan melihat ke arah Lily.
"Apa maksudmu, mana mungkin aku membunuh kakakku sendiri, kamu jangan menuduh sembarangan ya," ucap Lily marah sambil menunjuk Syafiq.
"Jika begitu perlihatkan buktinya," ucap lily.
Syafiq memperlihatkan buktinya.
"Ini punya kamu 'kan? Ini adalah mainan sendal pansusmu dan pecah dan terselip di baju Lala, dan setengahnya di temukan di dalam tong sampah di kamarmu, kau pasti tidak menyadari jika ada yang hilang, dan kau pasti ingin membakar sendalmu saat kau punya kesempatan, tapi kau punya kesibukan sendiri dan akhirnya melupakannya," ucap Syafiq.
"Lily... ini bukan kamu yang melakukannya 'kan Nak?" tanya Ibunya mendekati Lily.
__ADS_1
Lily terdiam sesaat.
"Bukan aku Buk," jawab Lily mengelengkan kepalanya.
"Lily, tidak tau apa alasan kamu membunuhnya, tapi yang pasti, para polisi menemukan buku diary Lala, mungkin kau ingin membacanya," ucap Syafiq menyerahkan buku tersebut.
Lily menerima buku tersebut, ia membukannya di halaman terakhir dan di sana tertulis.
Tanggal 20 bulan juni
Aku bukannya nggak mau membawa Lily menjadi artis sepertiku, aku hanya tidak mau dia mengalami apa yang aku rasakan, dia masih muda dan emosinya masih labil, di dunia hiburan sangat keras, jika tidak kuat mental maka di akan terjerumus ke dalam jurang yang hitam, berkata lembut tidak membuatnya berhenti, satu-satunya cara aku harus kasar agar ia berhenti untuk mengikutiku, caraku memang salah, tapi ini demi kebaikan dia, yang sekarang ia lihat hanyalah populerku saja, tapi sebenarnya aku tertekan oleh pekerjaan, Netizen yang asal ngomong saja dan waktuku di tambah lagi pacarku yang suka sensitif dan cemburuan, giliran aku minta putus, dia bilang dia masih kuat menjalani hubungan ini, saat setelah Syuting aku pasti di introgasi, jika ada berpegangan tangan dengan lawan aktingku, dia akan marah-marah, namun jika sudah bosan ya sudah putus adalah pilihan terbaik, tapi teruntuk adikku jika dia sudah tamat kuliah akau akan membawanya masuk ke dunia hiburan dan mengajarinya pelan-pelan agar dia kuat masuk di dunia hiburan, sabar ya Adikku, sedikit lagi kamu akan tamat kuliah, kakak akan mengajarimu nanti.
Lily langsung menagis dan mengengam erat buku diary kakaknya dan menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal, kenapa kamu menyembunyikannya, dan kenapa kamu menulisnya di buku diary biar aku tidak tahu, kenapa kau selama ini kasar denganku, dengan alasan aku tidak cantik, tidak bisa akting dan tak bisa bernyayi, aku capek kau terus menghinaku seperti itu, kau membuatku dendam denganmu, kenapa kau melakukannya," teriak Lily menangis.
"Jadi benar kamu melakukannya Lily?" tanya ibu tak percaya.
"Semua ini dia yang terus menghinaku, aku nggak tahan dia memakiku terus, aku benci dia dengan mulut tajamnya, kenapa dia tidak berbicara baik-baik denganku," ucapnya menangis sambil terduduk di lantai.
"Di sana sudah tertulis, jika dia sudah berbicara baik-baik denganmu dan kau tetap tidak mau mendengar ucapannya dan akhirnya dia mengunakan cara kasar agar kau berhenti untuk mengikutinya," jelas Syafiq.
__ADS_1
Bersambung