
"Udah, kita beli aja," ucap Syafiq enteng.
Mereka pun kembali pulang dan masalahnya sudah selesai.
Syafiq berhenti di depan restoran.
"Kalian mau makan di sini apa di bungkus?" tanya Syafiq menongolkan kepalanya lewat jendela mobilnya.
"Bungkus aja, kamu yang bungkusin, kami pulang dulu," ucap Sahara.
"Ya udah pergi kalian dulu," ucap Syafiq turun dari mobilnya. Sahara menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya.
Syafiq masuk ke restoran itu dan segera memesan makanannya.
"Mereka pengen apa ya? Ya udah sama aja semuanya," ucap Syafiq.
Syafiq pun memesan menu yang sama untuk mereka berempat dan melebihkan dua, siapa tau mereka kelaparan.
"Eh tadi kalian dengar, perusahaan bermerk itu sekarang udah bangkrut gara-gara manejernya korupsi.
"Iya, berapa milyar yang ia kantongi tuh, sayang banget uang milyaran di rumah, malah masuk penjara, istri yang nikmati bersama suami baru," ucap mereka terkekeh.
"Sayang banget ya, kerja udah enak, gaji udah mahal, tapi masih aja kurang, apa sih yang di pikiran dia," ucap temannya.
"Tapi katanya udah ada ceo baru di sana membeli perusahaannya, katanya sampe triliunan malah," ucap temannya sambil mengunyah makanan.
"Orang bodoh mana mau membelinya sampai triliunan, kalo aku sih kasih saja 500 milyar, selesai, ya kan?" ujar temannya mencibir.
__ADS_1
"Mereka ini mengatakan aku bodoh di depanku," ucap Syafiq dalam hati.
"Udah biarkan saja, lihat saja jika barangnya itu-itu aja apa laku? Maunya ganti baru. Oh mungkin dia menjual barang sisaan itu untuk modal lagi kali," sahut temannya sambil tertawa.
"Sialan!" ucap Syafiq geram ketika ia ingin menghampiri para pembincang itu tiba-tiba makanannha selesai.
"Tuan, ini pesanan Anda," ucap pegawai itu menyerahkan beberapa bungkus makanan.
"Oh baiklah, terima kasih," ucap Syafiq yang tiba saja ia nyelonong pergi.
"Tuan bayarannya!" teriak pegawai itu.
"Oh maaf-maaf, aku lupa," ucap Syafiq.
"Ini pasti gara-gara orang itu," ucap Syafiq geram sambil melihat para pria pengosip itu.
"Tuan, kembaliannya," teriak pegawai itu lagi.
"Ambil saja," ucap Syafiq.
"Kenapa dia menatap kita seperti itu?" tanya pria itu dengan nada mengejek.
"Ah abaikan saja dia," jawab temannya.
Syafiq pun langsung masuk mobil dan bergegas pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah dan ternyata Jelita sudah ada di rumahnya.
__ADS_1
Syafiq menenteng bungkus makanannya masuk ke dalam rumah.
"Syafiq, maaf ya nggak bisa bantu kamu," ucap Jelita merasa bersalah.
"Udah nggak apa-apa, semuanya udah kelar dengan gampang, ya udah ayo makan," ucap Syafiq meletakkan bungkus makananya di atas meja dan membukanya.
"Untung saja aku belinya lebih, takutnya nanti kalian nggak cukup," ucap Syafiq.
"Heh! kamu pikir kami babi gendut?" sergah Glinda.
"Eh... bukan gitu maksudku, biar kalian nggak kelaparan pas tengah malam," ucap Syafiq.
"Perempuan itu harus jaga tubuh biar tetap langsing dan sehat," sahut jelita.
"Ngapain diet-diet, ntar mati baru nyesal nggak bisa makan enak," ucap Syafiq mencibir.
"Justru wanita itu nyesal kalo nggak bisa merawat tubuhnya sewaktu dia hidup," celetuk Sahara.
"Kalian wanita emang beda ya, heran," ucap SYafiq melahap makananya.
"Kalian para pria itu yang aneh," sembur Glinda.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih
__ADS_1