
Syafiq merobek bajunya lalu mengikat lengan Glinda dan mengendongnya.
"Bang Polisi, tolong bawa temanku masuk ke dalam mobilku," ucap Syafiq.
"Baiklah," angguk Brima membawa Yedi masuk ke dalam mobil Syafiq.
Syafiq memasukkan Glinda ke mobil mendudukkannya di kursi penumpang.
"Ikut aku ke rumah sakit," ucap Syafiq.
"Baiklah," angguk Brima.
Syafiq menginjak pedal gas mobilnya dan melaju kencang.
Glinda menatap Syafiq yang sedang serius menyetir mobilnya. "Dia tadi mengendongku, padahal yang sakit itu tanganku, bukan kakiku, tapi... di merobekkan baju mahalnya demi menginkat lukaku yang berdarah, dia sangat baik," ucap Glinda dalam hati.
Tak lama kemudian sampailah di rumah sakit, Syafiq mengangkat Glinda dan membawa masuk ke dalam rumah sakit.
"Bang tolong bawa temanku juga," ucap Syafiq.
"Iya," angguk Brima.
Yedi dan Glinda langsung di beri pertolongan pertama oleh dokter rumah sakit, luka di lengan Glinda di jahit sedangkan Yedi di rawat inap karena luka senjata tajam dan luka lebamnya lumayan banyak.
Syafiq melihat Yedi dan Yedi juga melihat Syafiq dengan mata sayup dan tubuhnya yang lemas.
"Maafkan aku Yedi, masalah ini membesar karena aku," ucap Syafiq duduk di kursi samping ranjang Yedi.
"Tidak Syafiq, kita mempunyai musuh yang sama, Roni adalah musuh kita, jika dia melakukan hal buruk kepadaku juga itu wajar, karena ia juga membenciku dan aku membencinya, lagian aku juga masih hidupkan, seharusnya aku yang berterima kasih denganmu kau sudah menyelamatkanku, jika kau tidak datang aku rasa hanya tinggal namaku saja lagi, aku juga minta maaf karena menyusahkanmu, aku yang tidak kuat sehingga mekibatkanmu juga" ucap Yedi merasa bersalah.
"Kau juga harus berterima kasih dengan Roni, jika bukan dia yang memberi tahuku, mana aku tau jika kau tidak baik-baik saja, aku rasa dia tidak begitu benci denganmu, dia sengaja menangkapmu untuk menangkapku demi balas dendam, aku harap dia di hukum sesuai dengan kejahatannya," ucap Syafiq.
"Aku berharap dia di hukum seberat-beratnya, heh! Aku sangat ingin melihatnya di penjara," jawab Yedi geram.
"Cepatlah sembut jika ingin menjenguknya," ucap Syafiq.
"Ah ini hanya luka, bukan patah tulang," ucap Yedi.
__ADS_1
"Untung saja tulangmu nggak di patahkan," ucap Syafiq tersenyum kecil.
"Itu karena kau datang cepat," ucap Yedi.
Syafiq menarik nafas panjang. "Baiklah, aku keluar sebentar untuk menelpon keluargamu," ucap Syafiq.
"Iya," angguk Yedi.
Syafiq menuju mobilnya untuk mengambil ponselnya.
Tuuut
Tuuut
Tuuut
"Halo Syafiq, ada apa?" tanya ibu Yedi.
"Tante, Yedi masuk rumah sakit," ucap Syafiq.
"Hm... dia... dia hanya sakit perut," ucap Syafiq beralasan agar ibunya tidak panik.
"Sakit perut kok bisa masuk rumah sakit?" tanya ibu Yedi nggak jadi panik.
"Hehehe... iya tadi kami makan mie level 17, jadi dia terus mencret," ucap Syafiq menyengir.
"Oh gitu, ya udah Tante ke sana sekarang, rumah sakit apa?" tanya ibu Yedi.
"Rumah sakit perawang medikal," ucap Syafiq.
"Oh baiklah, Tante ke sana sekarang ya," ucap ibu Yedi memutuskan panggilannya.
"Iya Tante," ucap Syafiq. Ia terdiam sejenak dan orang-orang lewat melihat ke arahnya.
"Kenapa mereka menatapku, apa karena aku ganteng?" tanya Syafiq heran. Namun ia kembali ke kamar Yedi.
"Bagaimana?" tanya Yedi.
__ADS_1
"Aku sudah menelpon ibumu, aku mengatakan jika kamu sakit perut makan mie level 17 agar ia tak panik," ucap Syafiq.
"Iya, terima kasih Syafiq," ucap Yedi.
Pintu terbuka, Glinda masuk ke dalam ruangan Yedi bersama Brima.
"Gimana keadaanmu?" tanya Syafiq kepada Glinda.
"Aku tidak apa-apa, jangan mengendongku, yang sakit itu tanganku, bukan kakiku, aku malah terlihat lebih parah dari Yedi," ucap Glinda.
"Iya, itu karena aku panik melihat kalian yang sepertinya parah banget," ucap Syafiq.
"Tapi makasih ya Syafiq, kamu udah melindungiku dan sampai merobek bajumu untuk lukaku," ucap Glinda terharu.
Syafiq melihat baju di bagian bawanya robek, ia mengingatnya kembali saat ia mengigit bajunya dan merobeknya. "Pantasan orang-orang tadi melihat ke arahku, ternyata mereka merasa aneh dengan bajuku," ucap Syafiq dalam hati.
"Eh... iya sama-sama, nggak apa-apa ini baju juga bisa di beli lagi," ucap Syafiq tersenyum kecil.
Tok!
Tok!
Tok!
Mereka semua melihat ke arah pintu.
"Mama," lirih Yedi.
Ibu Yedi pun masuk dan melihat keadaan anakknya.
"Ya ampun Yedi, kenapa kamu parah seperti ini, kamu kenapa?" tanya ibu panik.
"Aku tidak apa-apa Ma, ini hanya luka kecil," ucap Yedi tersenyum.
"Tapi Syafiq bilang kamu sakit perut, tapi kenapa jadi seperti ini," ucap ibu.
Bersambung
__ADS_1