SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 138


__ADS_3

Syafiq mencari-cari uang siapa tau pria menyembunyikannya di sana.


Dan ternyata uang beserta kartu ATM-nya ia sembunyikan di balik pohon yang tempatnya hanya sedikit terkena sinar lampu.


"Tuh lihat, semua uangnya dan kartu ATM-nya ada di sana," ucap Syafiq menunjuk arah uang tersebut.


"I-itu bukan kami yang melakukannya, itu pasti dia melakukannya, sebab itu dia tahu tempatnya," ucap pria itu berdalih.


"Aku tidak percaya, pasti kalian yang melakukannya," ucap wanita gendut itu.


"Mana buktinya jika kami melakukannya, panggil saja polisi dan tangkap dia," ucap pria itu.


"Baguslah jika kalian panggil polisi, kita tidak perlu repot memanggilnya lagi, kita lihat sidik jarinya di kartu ATM dan uangnya apa ada sidik jarinya atau tidak," ucap Syafiq.


"Benar," ucap wanita itu mengambil plastik dari tong sampah yang masih bersih dan kemudian ia pelan-pelan memasukkan ke kartu ATM itu dalam kantong plastik tersebut.


Kedua pria itu langsung lari terbirit-birit kucar kacir entah kemana.


"Apa semuanya sudah jelas?" tanya Syafiq kepada satpam itu.


"Maafkan saya sudah membuat Anda tidak nyaman Tuan, kami akan menjaga tempat ini agar lebih aman lagi dan tidak salah menuduh orang," ucap Satpam itu merasa bersalah.


"Oh iya Tuan, Anda sudah membatu menemukan tas saya, terima uang ini sebagai tanda terima kasih saya," ucap wanita itu menyerahkan uang kepada Syafiq.


"Tidak perlu, saya hanya ingin membantu saja," tolal Syafiq.


"Jika begitu saya sangat berterima kasih Tuan," ucap wanita itu.


Syafiq mengangguk dan ia kembali ke tempat duduknya semula.


Pencuri itu lari, setelah jauh dan merasa aman, mereka pun berhenti.


"Sialan! Uang nggak dapat, hampir saja bertemu polisi dan sekarang capek yang dapat," sungut temannya.


"Kamu sih yang punya ide seperti itu, sengaja berpura-pura sakit agar mendapat uang tambahan, yang ada sakitbdi wajahku nggak ada uang untuk di obati, jika bukan karena idemu yang payah itu, kita sudah membawa uang dan kartu ATM itu dan bisa menikmati uangnya," gerutu pria yang wajahnya di tinju Syafiq.


"Jadi kau menyalahkanku, bukannya kau juga setuju!" teriak temannya.


"Siapa yang tahu ide yang payahmu itu membawa sial dalam hidupku, aku juga merasa sial berteman denganmu!" balas pria itu.


"Jika tidak ingin berteman, sana kau jauh-jauh, aku juga tak ingin berteman denganmu," ucap temannya pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Pergi mati saja kau sana, dan jangan kau kembali lagi," sumpah serapahnya.


"Kamu kemana saja, kenapa lama sekali?" tanya Emerson.


"Ada hal yang tak terduga saja tadi," jawab Syafiq merenggangkan tubuhnya.


"Syafiq, kok kamu lama banget sih, aku minta di belikan itu," pinta Grizelda.


"Kenapa nggak minta sama Emerson saja," ucap Syafiq.


"Mana ngerti aku bahasanya," jawab Grizelda manyun.


"Ya udah, ya udah, ayo kita pergi," ucap Syafiq mengandengan tangan Grizelda.


Grizelda tersenyum.


"Ayo Emerson, beli kembang gula," ajak Syafiq.


Emerson mengangguk dan ia mengikuti Syafiq.


"Kembang gulanya Pak," ucap Syafiq.


"Berapa Tuan?" tanya sang penjual.


"No," jawab Emerson.


"Satu saja," jawab Syafiq.


"Kalian nggak ada yang mau?" tanya Grizela.


"Hanya anak-anak yang makan ini, orang dewasa minum bir," jawab Syafiq terkekeh.


"Di mananya kamu yang dewasa?" ucap Grizelda mencibir.


"Udah ah, itu udah jadi kembang gulanya," ucap Syafiq menunjuk ke arah Bapak itu memberikan kembang gulanya.


"Berapa?" tanya Syafiq.


"20.000," jawab bapak itu.


"Biar aku yang bayar," ucap Emerson mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang kepada bapak tersebut.

__ADS_1


"Ini kembaliannya," ucap bapak tersebut.


"Tidak perlu, ambil saja untuk bapak," ucap Emerson.


"Terima kasih," ucap bapak itu kembali menyimpan uangnya.


"Sama-sama," ucap Emerson. "Ayo kita ke bar," ajak Emerson.


Grizelda langsung menatap Syafiq.


"Ayo," jawan Syafiq bersemangat.


"Syafiiiiiiqq," ucap Grizelda tak rela.


Namun Syafiq menarik tangan Grizelda dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Kamu ini gimana sih, masa ikutan juga ke bar," gerutu Grizelda.


"Itu menandakan jika aku dewasa," ucap Syafiq terkekeh.


"Huh menyebalkan," ucap Grizelda.


Tak lama sampailah mereka ke bar. Emerson memberhentikan mobilnya dan segera keluar dari mobil.


"Ayo, sepertinya semakin lama semakin ramai nih," ucap Emerson senang.


"Syafiiiiqqq," ucap Grizelda tak mau ikut.


"Ya udah kamu di dekat aku saja," ucap Syafiq.


"Janji ya, kamu jangan kemana-mana," ucap Grizelda.


"Iya, kamu terus pegang tanganku," ucap Syafiq. Dan akhirnya Grizelda pun mau turun dari mobil.


Mereka masuk ke dalam dan dentuman musik terdengar.


Bersambung


Jangan lupa like vote komen dah hadiah


Terima kasih

__ADS_1


43.460.600.000


250 poin.


__ADS_2