
"Baiklah, harap menunggu," ucap pelayan itu.
"Tempatnya sangat indah, pokoknya kamu harus bikin restoran di tepi pantai deh," ucap Sahara memaksa.
"Iya, masa skorku 2 hari lagi, aku akan usaha secepatnya mencari tempat yang strategis," ucap Syafiq.
"Nah gitu donk, ada untungnya juga kamu di skor," sahut Yedi.
"Hehehe, apa yang aku lakukan semuanya keberuntungan berpihak padaku," ucap Syafiq bangga.
"Tapi katanya kamu mau transfer uangnya," ingat Glinda.
"Ups iya, bentar," ucap Syafiq mengirim mereka masing-masing 10 juta.
Ding ding
Hadiah Anda di kurang 40.000.000
Sisa hadiah Anda 1.968.460.400.000
"Udah aku kirikan," ucap Syafiq.
"Oke thank you," ucap Grizelda senang.
"Aku di kirim juga nih," ucap Jelita saat melihat pesan dari sms banking masuk di ponselnya.
"Iyalah, aku adalah pria yang adil dan bijaksana," ujar Syafiq tersenyum mengembang.
Tak lama, makanannya pun sampai. Mereka pun langsung melahap makanannya.
Tririring
Triring
Triring
Ponsel Jelita berbunyi dan ia pun mengangkatnya.
"Halo," jawab Jelita.
"Nona, ada malah dengan perusahaan kita, sepertinya kita di serang," ucap sekretarisnya panik.
"Apa! Apa maksudmu di serang?" tanya Jelita panik.
"Sepertinya ada hack yang menyerang data-data kita di laptop lewat satelit, apa yang harus kita lalukan Nona?" tanya sekretarisnya ketakutan.
"Baiklah aku akan ke kantor sekarang untuk mengatasinya," ucap Jelita.
__ADS_1
"Perusahaanku sedang dalam masalah, aku pergi dulu," ucap Jelita mengambil tasnya dan pergi.
"Hey Tunggu! Kita akan pergi bersamamu," ucap Syafiq. "Mbak, saya mau bayar," ucap Syafiq buru-buru yang langsung mengesek kartu ATM-nya tanpa menanyakan harganya dan mereka pun langsung berlari masuk mobil.
Ding ding
Hadiah Anda di kurang 3.000.000
Sisa hadiah Anda 1.968.457.400.000
Mereka langsung tancap gas melaju kencang di jalanan.
Sesampainya di sana, Jelita berlari masuk perusahaannya.
"Wawwww.... ini perusahaan kak Jelita, sangat keren," ucap Grizelda terpesona.
"Kalian ngapain terpesona begitu sampai nggak ingat masuk, ayo cepat masuk," ajak Syafiq menarik tangan Grizelda dan Sahara masuk ke dalam.
Jelita pun langsung ke ruang kontrol dan melihat perkembangannya.
Syafiq dan teman-teman masuk le dalam ruangan.
Ding ding
Misi baru
Hadiah 5.000.000.000
Syafiq dan teman-teman yang lain juga ikut masuk ke ruang kontrol.
"Ya ampuj kenapa bisa begini?" tanya Jelita mengacak-acakkan rambutnya.
"Kak Jelita sabar ya," ucap Grizelda memeluk Jelita.
"Aku akan telpon polisi yang lain, untuk membantu menyelesaikan, ini adalah suatu pelanggaran di dalam media sosial, jika bisa melacak ID-nya kita akan tahu siapa pelakunya," ucap Glinda ia membalik badannya dan menelpon Brima.
Tuuuut
Tuuuut
Tuuuuut
"Halo," jawab Brima.
"Kamu ke jalan melati sekarang," ucap Glinda.
"Ada apa?" tanya Brima.
__ADS_1
"Di sini ada pelanggaran informasi dan komunikasi, data-data di perusahaan Jelita di hack orang, semua datanya bocor, kamu juga bawa beberapa orang uang ahli komputer," perintah Glinda.
"Siap, laksanakan," ucap Brima.
Tut! Tut! Tut!
Panggilan di matikan.
"Eh kenapa dia seperti komandanku? Ya sudahlah, secepatnya aku pergi," ucap Brima mengajak rekan kerjannya yang lain.
"Sini biar aku kendalikan," ucap Syafiq mengambil alih.
"Tapi..." ucap karyawan kerja itu ragu-ragu.
"Berikan saja kepadanya," peritah Jelita.
"Tapi dia orang Luar Nona," bantah karyawannya.
"Dia bukan orang luar, berikan padanya, jikau kau di pecat kau juga orang luar," ucap Jelita.
"Ba-baik Nona," ucap karyawan itu menurut dan menepi
Syafiq pun duduk dan mulai memegang keyboardnya.
Meskipun tak tau apa yang di ketiknya namun data itu muncul kembali secara perlahan-lahan dan Syafiq terus mengetik.
Saatnya menekan Enter.
Data yang hilang itu bermunculan terus dan saat terakhir sekali lagi Syafiq menekan Enter dan keluarlah ID pengguna yang menghack komputer Jelita.
"Sekarang di berada di warnet yang tidak jauh dari sini, sekitar 500 meter, mari cepat pergi sepertinya dia sudah menyadari jika ia sudah ketahuan," ucap Syafiq.
Glinda dan Syafiq langsung berlari dan tidak lupa Glinda menelpon Brima agar langsung ke warnet dan ia pun segera mengirim lokasi terkininya.
Sesampainya di warnet dengan ngosan-ngosan, Glinda berdiri di depan pintu warnet.
"Jangan ada yang keluar dari arah manapun, aku polisi," perintah Glinda menunjukkan kartu identitas yang selalu ia bawa.
Seketika warnet itu hening.
"Apa ada sesuatu di sini?" tanya pemilik warnet takut jika tempat usahanya bermasalah.
"Kami sedang mencari seseorang yang sudah melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan penyalah gunaan informasi dan komunikasi, lebih baik mengaku atau hukumannya bertambah berat," ancam Glinda.
Mereka melihat satu sama lain, kira-kira siapa yang melakukanya.
Bersambung
__ADS_1
330