
Koki itu pun memberes pekerjaannya yang tersisa, meski berat baginya untuk melepaskan pekerjaan itu, namun ia tetap harus pergi.
Terlihat koki itu pergi menjauh dari restoran itu, ia menatap depan restoran itu lamat-lamat seolah-olah ia belum rela pergi. Syafiq menghampiri koki tersebut.
"Bapak mau pergi kemana?" tanya Syafiq.
"Saya, mau pulang," jawab koki itu sedih.
"Boleh saya menanyakan sesuatu hal?" tanya Syafiq.
"Silakan," ucap koki itu dengan suara pelan.
"Siapa yang melakukanya? Apa bapak tau seseorang yang mungkin menjebak bapak?" tanya Syafiq.
"Entahlah, jika ada yang menjebakku, namun ini sungguh tak berarti lagi buatku, aku tetap harus pergi," ucap koki itu.
"Yang intinya bukan bapakkan?" tanya Syafiq memastikan.
"Untuk apa saya melakukannya, di sini tempat saya mencari nafkah untuk keluarga saya, di sini awal mula saya bekerja dan saya sangat senang kerja di sini tapi malah berakhir begini dan kini saya harus mencari pekerjaan baru," ucap koki itu sedih.
"Hm... begini saja, aku punya rencana buat punya usaha restoran, nah bagaimana jika nanti Bapak yang jadi kokinya," saran Syafiq.
"Benarkah?" tanya koki itu dengan mata berbinar.
"Iya, jadi Bapak mau kemana dulu?" tanya Syafiq.
"Saya pulang ke rumah saja dulu, memangnya kapan restorannya akan di bangun?" tanya koki itu.
"Belum tentu juga, tapi... saya punya sedikit uang untuk bapak bertahan menjelang restorannya ada anggap saja sebagai DP, karena saya harus membeli sebuah gedung dulu," ucap Syafiq mengeluarkan ponselnya. "Sebutkan nomor rekening bapak," ucap Syafiq.
__ADS_1
Bapak itu pun menyebut nomor rekeningnya dan Syafiq pun menstransfernya.
Ding ding
Hadiah Anda di kurang 3.000.000
Sisa hadiah Anda 1.963.545.400.000
"Terima kasih banyak ya atas kebaikan Anda, saya akan bekerja dengan baik," ucap koki itu.
"Baiklah, sini biar saya simpan nomor bapak, jika restorannya sudah ada, aku akan telpon bapak," ucap Syafiq.
"Baiklah, baiklah," angguk bapak itu senang.
"Jika begitu saya kembali ke sana ya pak," ucap Syafiq.
"Iya ya," angguk bapak tersebut.
"Jadi bagaimana kelanjutan ini?" tanya Syafiq.
"Kasusnya di tutup," ucap Brima.
"Apa secepat itu?" tanya Syafiq lagi.
"Ya, meskipun mereka bersalah tapi kita tidak menemukan bukti apa pun," jawab Glinda.
"Tapi tenang saja, koki yang tadi sudah ku rekrut menjadi kokiku, aku ingin membangun restoran," ucap Syafiq.
"Tapikan dia di nyatakan bersalah, kenapa kamu rekrut?" tanya Glinda.
__ADS_1
"Aku rasa ada yang salah, dia hanya di jadikan kambing hitam," ucap Syafiq.
Ding ding
Misi
Temukan pelakunya
Hadiah 2.000.000.000.
"Sudah ku tebak, memang ada yang salah, seseorang sudah menjebaknya, tapi tidak tau apa alasannya," ucap Syafiq.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Brima.
"Sepertinya begitu, lihat piring yang tersedia makanannya dan juga sendoknya," pinta Syafiq.
Mereka memberikannya ke pada Syafiq dan Syafiq pun menerimanya.
Syafiq pun melihatnya dan meneliti serta mencium baunya.
"Jika aku tebak kenapa kita tidak bisa menemukan obatnya karena obat tersebut di tabur saat makanan tersebut setelah di masak, bisa jadi semua pekerja di sini, koki dan pelayan juga adalah salah satu pelakunya, hanya saja kita belum menemukan tujuannya untuk apa. Ketika makanan di sajikan di atas makanan tedsebut di taburkan sedikit dan tentu saja kita akan memakan bagian atasnya duluan sehingga tidak menyisakan obat itu lagi," ucap Syafiq.
"Wah bisa jadi, hehehe kamu emang detektif benar, tadinya aku mau tanya juga tumban kamu nggak menganalisa sebuah kasus, tadinya kamu diam saja, aku tak berani bertanya," ucap Brima memuji Syafiq.
"Lalu apa lagi yang kau tau?" tanya Glinda.
"Tebakannya sangat gampang, pasti salah satu pelayan yang melakukannya," ucap Syafiq.
Bersambung
__ADS_1
290