
Sedangakan Syafiq fokus melihat pembagian materinya.
Amara kembali menatap papan tulis di hadapannya dengan wajah sedihnya.
Pembagian materi pun selesai anak-anak kampus bertebaran untuk pulang atau mencari tempat tongkrongan.
Sahara berdiri di balik tembok, saat Syafiq keluar ia pun mengangetkan Syafiq.
"Bahh!" teriak Sahara.
"Kamu pikir aku bakal kaget," ucap Syafiq mencepit kepala Sahara di ketiaknya.
"Ikh… bau tau!" teriak Sahara mengibaskan tangannya di dekat hidungnya.
"Ayo pulang," ajak Syafiq.
"Cie… cie… sok romantis kalian, mentang-mentang baru jadian, kalau kalian sedang bertengkar awas ya kalian curhat sama aku," ucap Yedi.
"Idih, siapa juga yang mau curhat sama kamu, kamu itu belum berpengalaman tentang cinta," ejek Sahara tertawa renyah.
"Asem lu, aku udah baca ribuan buku tentang cinta, boleh di katakan aku sydah ahli," ucap Yedi tak mau kalah.
"Tapi kenapa sekarang masih jomblo," ucap Sahara langsung menusuk jantung hati Yedi.
Yedi memegang dadanya yang sakit karena ucapan Sahara. "Kurang ajar ya kalian berdua, tunggu aku dapat pasangan, ku panasi kalian sampai ke ubun-ubun," ucap Yedi.
Syafiq tersenyum. "Kamu mau ke mana sekarang?" tanya Syafiq kepada Yedi.
"Kalian mau ke mana emangnya?" Yedi balik bertanya.
"Mau lihat tempat usahaku yang baru," ucap Syafiq.
"Ya udah aku ikut, aku juga nggak ada kegiatan di rumah," ucap Yedi.
"Emang kamu udah siap jadi obat nyamuk?" tanya Sahara terkekeh.
"Jadi obat nyamuk pun nggak masalah, dari menyendiri kayak orang gila," ucap Yedi pasrah.
__ADS_1
"Ya udah, ayo," ajak Syafiq.
Mereka pun pergi menuju parkiran mobilnya.
Amara yang bersembunyi di balik pintu yang mendengar percakapan Yedi, Sahara dan Syafiq, ia pun keluar dari balik pintu dengan deraian air mata.
"Ternyata mereka sudah jadian, apa akau terlambat? Kenapa hati ini sakit? Kenapa aku mengharapkannya," ucap Amara dalam hati.
"Amara!" panggil kedua temannya mendekati Amara.
"Amara pun berlari menuju parkiran mobilnya dan masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ding Ding
Misi baru
Menyelamatkan seseorang dari kecelakan mobil. Mobil berwarna merah yang ada di depan.
Hadiah 100.000.000.000.
"Mobil merah di depan? Bukannya itu mobil Amara?" tanya Syafiq.
"Mobil itu akan terkena musibah kecelakaan," ucap Syafiq spontan.
"Apa!! Kamu serius?" tanya Sahara terbelalak.
"Iya, fillingku begitu," angguk Syafiq.
"Aduh, jadi gimana donk, meskipun dia musuh bebuyutanku, tapi aku juga nggak mau dia kenapa-kenapa," ucap Sahara panik.
Syafiq tersenyum melihat Sahara yang panik.
"Hati kamu baik sekali ya," ucap Syafiq.
"Ha?" Sahara binggung.
"Ya sudah mari kita selamatkan dia," ucap Syafiq melajukan mobilnya.
__ADS_1
Sedangkan Amara terus melaju meskipun dengan pemandangan yang kabur karena matanya tertutup air mata.
"Astaga! Dia mengemudi cepat sekali," ucap Syafiq.
"Hm… Sayang, kamu pindah ke mobil Yedi sementara ya, aku takut jika terjadi sesuatu padamu, aku janji akan memberikan apa yang kamu mau nanti," ucap Syafiq memelankan mobilnya.
"Nggak apa-apa, menyelamatkan nyawa orang lebih penting," ucap Sahara mencoba tersenyum. Mobil berhenti dan Sahara pun keluar dari mobil.
Syafiq langsung melajukan mobilnya mengejar mobil Amara.
"Berhenti!" teriak Saharamelambaikan tangannya ke arah mobil Yedi.
Yedi pun memberhentikan mobilnya. Sahara membuka pintu mobil dan duduk di kurai penumpang.
"Lho kenapa? Jangan bilang kamu bertengkar secepat ini?" tebak Yedi.
"Sembarangan aja kamu kalo ngomong," ucap Sahara memukul kepala Yedi dengan tasnya.
"Aduh!" teriak Yedi memegang kepalanya.
"Dia itu mau menyelamatkan Amara dari kecelakaan," jawab Sahara manyun.
"Ha? Emang dia tau dari mana?" tanya Yedi.
"Katanya filling," jawab Sahara sambil menatap keluar jendela.
"Aku sudah lama mengenal Syafiq, jika dia bilang karena filling, itu benar sih, karena aku juga sudah sering begitu saat mengikuti dia," ucap Yedi membenarkan.
"Ya semoga saja dia sempat menyelamatkan Amara," harap Sahara.
"Cie… emang kamu nggak cemburu?" tanya Yedi mengoda Sahara.
"Ini demi keselamatan nyawa orang, aku harus membuang egoku, karena aku manusia, berpikir ya layaknya manusia, kalo hewan jelmaan manusia iya, ngomongnya nggak pake pikiran, komen yang nggak bermutu dan nggak mikir perasaan orang, dia nggak mikir apa orang itu tersinggung apa nggak, Tuhan udah memberikan dia mulut agar bisa bicara baik-baik, tapi malah dia gunakan untuk menghina orang tanpa perasaan, itu lah hewan jelamaan manusia," ucap Sahara.
"Wah, kamu hebat banget ya, jika aku mungkin aku nggak mikir lagi, dia mau mati apa nggak jika di bandingkan dengan sakit hatiku," puji Yedi kagum.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih