SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 226


__ADS_3

"Kwkwkwkw… tapi sepertinya Brima cocok sama kakak," ucap Sahara tertawa.


"Apa kamu bilang? Dia cocok! Pria menyebalkan itu sungguh bikin aku naik darah melihat wajahnya," ucap Glinda manyun.


"Haish… Kalian sudah punya pasangan, aku kapan ya? Aku pengen punya pasangan sempurna seperti Syafiq, tapi dia jodohnya Sahara. Brima meskipun nyebelin tapi dia humoris dan mencintai kak Glinda dengan tulus. Oh Tuhan kirimkan aku kekasih yang baik hati… Yang mencintai aku, apa adanya," ucap Jelita sambil bernyanyi.


"Ah, kakak kalo di bawa ke pasar laku keras," ucap Sahara tertawa.


"Ah sudahlah, aku mau tidur saja, siapa tau aku bertemu dengan jodohku malam ini," ucap Jelita menarik selimut dan memiringkan badannya lalu memejamkan mata.


xxxx


Keesokkan harinya.


Mereka bangun pagi dan menuju langsung ke restoran ketika selesai mandi.


Grizelda juga ikut bangun, ia mendapat pencerahan karena ucapan Jelita dan ia pun merelakan Syafiq untuk Sahara.


"Grizelda, kamu sudah sembuh?" tanya Sahara mendekati Grizelda.


"Sudah, terima kasih ya, karena kalian aku baik-baik saja, terima kasih untuk semuanya," ucap Grizelda tersenyum meski wajahnya sangat jelek karena seharian menangis.


"Akhirnya kau membuat kami lega juga," ucap Jelita.


"Iya, maaf udah bikin kalian khawatir," ucap Grizelda merasa bersalah.

__ADS_1


"Udah nggak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja," ucap Glinda.


"Pak koki tolong buatkan kami sarapan," pinta Syafiq.


"Anda mau makan apa Tuan?" tanya pak koki.


"Terserah bapak saja," ucap Syafiq.


"Baik Tuan," ucap pak koki dan mereka pun bersama-sama membuat makanannya.


"Wah… baunya harum sekali," ucap Brima mencium bau masakkannya.


Tak lama kemudian makanan pun selesai di masak, para koki itu menyajikan di meja mereka.


"Wah… ini seperti makanan restoran bintang 5," ucap Yedi dengan mata berbintang.


"Bener, bener, bener," ucap Brima mengangguk-angguk sambil memegang sumpit dengan mata menjelajah semua makanannya.


Mereka melahap makanannya, trutama Brima, ia tidak buang-buang waktu menyantap makanan enak.


Seorang nenek-nenek lewat sambil membawa sebuah tas berjalan pelan sambil menangis.


"Eh kenapa nenek-nenek itu?" tanya Yedi melihat seseorang yang lewat.


Sahara berdiri dan mengejar nenek itu.

__ADS_1


"Nek, mau ke mana?" tanya Sahara menghampirinya.


"Mau pulang ke tempat saudara," jawab nenek itu menyeka air matanya.


"Tapi kenapa jalan kaki? Nggak naik bus?" tanya Sahara.


"Uang yang di beri anakku di copek orang," jawab nenek itu.


"Udah telpon anaknya jika nenek kecopetan?" tanya Sahara lagi.


"Aku di usir oleh anakku, makanya ingin pulang ke tempat saudara," jawab nenek itu menitikkan air mata.


"Ya ampun, ayo Nenek ikut aku, nenek pasti belum sarapan kan? Ayo kita sarapan dulu," ajak Sahara memeluk nenek itu membawanya kerestoran.


Syafiq berdiri dan memberikan tempat duduknya. "Dudukkan nenek itu di sini," ucap Syafiq.


"Ayo Nek duduk," ucap Sahara, yang lain juga membantu Nenek itu duduk.


"Buatkan sarapannya lagi," pinta Syafiq.


"Baik Tuan," angguk pak koki.


"Kenapa dengan Nenek?" tanya Glinda.


"Dia di usir oleh anaknya dan ingin pulang ke tempat saudaranya dan malah kecopetan," jawab Sahara.

__ADS_1


"Astaga!! Anak macam apa yang mengusir ibunya, sangat tidak berbakti, mendengarnya saja membuat aku panas, ingin rasanya aku membenamnya di muka bumi," ucap Syafiq geram.


Bersambung.


__ADS_2