
Syafiq dan Sahara tertawa.
"Baiklah, kamu serius nggak mau beli mobilģ lagi?" tanya Syafiq.
"Enggak," jawab Sahara mengelengkan kepalanya.
"Ya sudah, yang 2 mobil itu saja mbak," ucap Syafiq.
"Baik Tuan, mobilnya akan kami keluarkan, silakan selesaikan administrasinya Tuan di kasir," ucap pegawai itu.
"Baik," angguk Syafiq yang di antarkan oleh pegawai itu.
Pegawai itu memberi tahu mobil yang di beli oleh Syafiq.
"Baik Tuan, silakan isi data Anda sebagai kepemilikan kendaraan," ucap kasir itu.
Syafiq pun mengisi data dan juga begitu Yedi.
"Ini sudah selesai," ucap Syafiq menyerahkan kembali kepada kasir itu.
"Baik Tuan kedua mobil itu harganya 160 milyar," ucap pegawai itu.
Syafiq mengangguk, ia mengeluarkan kartu ATM-nya dari balik ponsel lalu mengesek di mesin pembayaran.
Ding ding
Hadiah Anda di kurang 160.000.000.000
Sisa hadiah Anda 2.900.133.800.000.
"Terus mobilku yang satunya siapa yang bawa?" tanya Yedi bingung.
"Jual aja mobilmu itu," ucap Syafiq.
"Gak Ah, kan lumayan buat di ganti-ganti mobil," ucap Yedi.
"Ah bener juga ya, aku mau 3 mobil lagi," ucap Syafiq.
"Tuh kan, kamunya boros," ucap Sahara melipat tangannya.
"Kan buat ganti-ganti sayang," ucap Syafiq.
"Hm… terserah sih, itu kan uang kamu," ucap Sahara.
Syafiq pun kembali membeli mobilnya dan ia pun membayarnya di kasir.
"Ketiga mobil ini 280 milyar Tuan," ucap Kasir itu.
Syafiq mengangguk dan mengesek kartu ATM-nya.
__ADS_1
Ding ding
Hadiah Anda di kurang 280.000.000.000
Sisa hadiah Anda 2.620.133.800.000.
"Mobilnya mau di antar di mana Tuan?" tanya Pegawai showroom itu.
"Antarkan di alamat ini ya," ucap Syafiq mencatat alamatnya di secarik kertas.
"Baik Tuan, akan segera kami antar," angguk pegawai itu.
"Antar ke mana?" tanya Sahara.
"Ke vila aja," ucap Syafiq.
"Kalo aku tebak, para kakak-kakak itu pasti bakalan pindah ke vila," ucap Sahara.
"Jika di lihat itu bakalan jadi tempat tinggal, dan juga tempatnya sangat indah," ucap Syafiq.
"Bang sekalian ya mobilku antarkan ke alamat temanku ini juga," ucap Yedi memberikan kunci mobilnya kepada pegawai itu.
"Baik Tuan," angguk pegawai itu dengan terpaksa, karena mobil yang di titipkan oleh Yedi adalah mobil lamanya.
"Ayo kita ke tempat usahaku yang lain," ajak Syafiq.
Mereka masuk mobil barunya dan menuju super marketnya.
"Iya," angguk Syafiq.
"Kemaren kalian mau minta super market 'kan? Nih udah aku belikan," ucap Syafiq.
"Wah… makasih ya sayang," ucap Sahara senang.
"Ini pacarku dan temanku, jika dia ngambil apa pun dia nggak perlu bayar, dan juga ada 3 orang lagi teman-temanku, jika mereka menggambil apa pun jangan di tagih ya," ucap Syafiq.
"Hm… baik Tuan," angguk pegawai itu meskipun ia binggung.
"Astaga! Bos ini royal banget," ucap pegawai itu dalam hati.
"Hm… mumpung di sini nih, aku mau beli cemilian buat mereka juga," ucap Sahara.
"Ambillah, kamu juga ambil untuk Keponakanmu," ucap Syafiq kepada Yedi.
"Dengan senang hati," ucap Yedi maju kedepan, ia mengambil keranjang dan memilih cemilannya.
Tuuut
Tuuut
__ADS_1
Tuuut
Ponsel Syafiq berdering.
"Eh Bibi," ucap Syafiq. Dan oa pun mengangkatnya.
"Halo Bibi," jawab Syafiq.
"Kamu di mana? Kamu datang ya ke rumah sakit," ucap Bibi terdengar seperti panik.
"Ada apa Bibi?" tanya Syafiq.
"Alviso demam panas, sekarang di rumah sakit," jawab bibi.
"Rumah sakit mana Bi?" tanya Syafiq.
"Di rumah sakit perawang medikal," ucap bibi.
"Baik Bi, aku ke sana sekarang," ucap Syafiq. Panggilan pun terputus.
"Kalian udah belum, aku mau ke rumah sakit," panggil Syafiq.
"Kenapa?" tanya Sahara yang sedang memegang keripik kentang.
"Alviso masuk rumah sakit," ucap Syafiq.
"Apa! Ayo kita ke sana," ucap Sahara membawa keranjangnya, ia membawa keranjang masuk ke dalam mobil.
Yedi meletakkan semua makanan di bagasi mobil dan ia pun duduk di kursi penegemudi.
Mereka bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana Syafiq pun melihat Paman Rocky di depan pintu menunggu kedatangan Syafiq.
"Paman," sapa Syafiq menyalami Rocky.
"Ayo ke ruangan Alviso," Rocky langsung mengajak Syafiq, Sahara dan Yedi.
Syafiq mendekati Alviso dan mengelus kepalanya. "Alviso, kok deman dek?" tanya Syafiq.
"Iya, tiba-tiba saja panasnya meninggi dan tubuh jadi lemas," jawab bibi.
Syafiq memegang dahi Alviso yang masih panas.
"Alviso, cepat sembuh ya, nanti kalau udah sembuh kakak janji beliin mainan untuk Alviso, tapi Alviso sembuh dulu ya," ucap Syafiq.
"Enggak usah, mainannya udah banyak itu," ucap Bibi menolaknya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih