
"Kenapa? Tapi kamu terluka," ucap suster itu.
"Ini hanya luka kecil saja, tidak perlu di permasalahkan," ucap Syafiq.
"Justru luka kecil itu, jika di biarkan akan tambah parah," ucap suster itu khawatir.
"Berikan anti biotik saja," ucap Syafiq.
Suster itu pun memberi anti biotiknya dan Syafiq pun menelan obatnya.
"Terima kasih, berapa harga obatnya?" tanya Syafiq.
"Tidak perlu di bayar, itu hanya sebutir saja," ucap Suster itu.
"Terima kasih ya sus," ucap Sahara. Ia mengangkat tangan Syafiq dan meletakannya di bahunya dan berusaha membantu Syafiq berdiri.
"Biar aku bantu," ucap Yedi yang dengan cepat membantu Syafiq untuk masuk ke dalam mobilnya.
Amara berdiri terdiam dengan mata sembab, ia sangat merasa bersalah, karena kesalahannya Syafiq harus menjadi korban kecelakaan untuk menyelamatkannya.
"Syafiq!" panggil Amara sambil meneteskan air mata.
Mereka bertiga berhenti dan memutar kepala mereka untuk melihat pemilik suara tersebut.
"Terima kasih sudah meyelamatkanku dan Maaf, jika gara-gara aku kamu malah terluka," ucap Amara menyesalinya.
"Tidak perlu berterima kasih, atau merasa bersalah, itu sudah menjadi kewajibanku untuk menyelamati orang," ucap Syafiq datar.
"Tapi… biarkan aku membantumu," ucap Amara.
"Tidak perlu, sudah ada mereka yang membantuku," jawab Syafiq.
"Tapi…"
"Kau tidak dengar ucapannya," bentak Sahara.
Amara langsung menciut tak berani berkata.
Sahara dan Yedi memasukkan Syafiq ke dalam mobil di kursi penumpang dan Sahara duduk di sampingnya.
"Aku antarkan ke mana?" tanya Yedi.
"Ke showroom," jawab Syafiq.
"Oke!" ucap Yedi yang langsung melajukan mobilnya.
Amara melihat kepergian Syafiq, ia menundukkan kepala lalu meneteskan air mata.
Ia mengambil tas di mobil lalu berjalan kaki menyusuri jalan untuk pulang.
__ADS_1
Ding ding
Misi selesai
Selamat Anda mendapatkan hadiah 100.000.000.000
Hadiah Anda menjadi 3.060.133.800.000.
"Kamu sakit begini malah ke showroom," ucap Sahara.
"Aku kan butuh mobil buat perjalanan," ucap Syafiq.
"Gimana kamu naik mobil jika kakimu sakit begini," ucap Sahara manyun.
"Aku nggak apa-apa sayang," ucap Syafiq tersenyum.
"Cie…cie… romantis banget," celetuk Yedi menyengir.
"Diem lu!" bentak Sahara.
Yedi langsung terdiam. "Astaga! Udah nunpang di mobilku, bentakin aku lagi, di tinggal kasihan," ucap Yedi dalam hati sambil manyun.
"Nggak apa-apa gimana? Di bawa ke rumah sakit kamu malah nggak mau," omel Sahara.
"Astaga… baru ku tahu ternyata kamu cerewet ya," ucap Syafiq.
"Iya, iya, makasih ya atas perhatianmu," ucap Syafiq tersenyum sambil mengelus rambut Sahara lalu membaringkannya di pundaknya lalu memeluknya.
Yedi melihat lewat cermin di depannya.
"Astaga… mereka romantisan di belakangku, apa mereka tidak menjaga perasaanku yang masih sendiri ini, jiwa jombloku menjerit tau," keluh Yedi memanyunkan mulutnya.
Sesampainya di depan Showroom, Yedi memutar mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Sahara dan Syafiq tersentak.
"Yedi, kamu sengaja ya!" teriak Sahara.
"Kalian berdua sebagai sahabat nggak punya perasaan, romantis di mobilku, jaga donk perasaanku," ucap Yedi.
"Kayak bunga aja di jaga, mending aku jaga kambing, setidaknya bisa menghasilkan susu kambing dan di jual dapet uang," ucap Syafiq terkekeh.
"Kamu nggak usah keluar, bilang aja kamu mau mobil apa," ucap Sahara.
"Aku nggak apa-apa," ucap Syafiq dan ia pun keluar.
Syafiq berjalan seperti orang biasa lagi, tanpa merasa sakit.
"Eh, kamu beneran nggak apa-apa Syafiq?" tanya Yedi melihat kaki Syafiq.
"Kan udah aku bilang aku nggak apa-apa, luka seperti itu tidak akan membuat aku mati," ucap Syafiq.
__ADS_1
"Iya Sahara, mau kamu campakkan dari menara Eiffel dia juga nggak akan mati," ucap Yedi.
Syafiq hanya menyengir dan kemudian mereka masuk ke dalam Showroom.
"Ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya pegawai showroom datang mendekat.
"Aku mau cari mobil yang cocok untukku dan temanku ini," ucap Syafiq kepada pegawai itu.
"Aku?" tanya Yedi menunjuk ke arah dirinya.
"Iya, ganti lagi mobilmu, itu mobil udah jamannya presiden pertama belum di ganti-ganti," ucap Syafiq.
"Parah kamu ah! kalo tau sama mamaku di marahi lho," ucap Yedi.
"Justru mamamu senang kalo mobilnya di ganti dengan yang baru baru," ucap Syafiq.
"Mari Tuan, Nona saya antarkan," ucap pegawai itu memperailakan.
Mereka bertiga mengikuti pegawai itu masuk ke dalam.
"Coba Tuan lihat di sini, mungkin ada yang cocok untuk Tuan," ucap pegawai itu lagi.
"Hm… aku mau mobil yang warna hitam campur warna coklat itu," ucap Syafiq meninjuk mobil pilihannya.
"Baik Tuan," angguk pegawai itu.
"Kamu mau yang mana?" tanya Syafiq kepada Yedi.
"Hm… aku mau yang warna silver itu aja," ucap Yedi.
"Kamu mau yang mana sayang?" tanya Syafiq kepada Sahara.
"Aku nggak usah, kemarin aja baru di beliin mobil baru, itu aja udah cukup kok," ucap Sahara.
"Kenapa? Kamu mengangtikanku untuk berhermat?" tanya Syafiq menyengir.
"Percuma juga kalo kamunya boros," ucap Sahara.
"Nggak usah takut miskin hidup denganku, karena kamu mencintaiku dari hatimu," ucap Syafiq.
Yedi melihat ke arah pegawai itu sambil mengeleng kepala, Sedangkan pegawai itu tersenyum saja.
"Hey kalian! Kalo mau bucin-bucinan lihat-lihat tempat donk," ucap Yedi kesal.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih
__ADS_1