
"Suaranya laki-laki apa perempuan?" tanya Syafiq.
"Suaranya laki-laki," jawab mereka.
"Ponsel kalian di mana?" tanya Syafiq.
"Di sita polisi," jawab mereka lagi.
"Bolehkah aku melihat isi ponselnya?" tanya Syafiq.
"Sebentar ya, akan saya ambilkan," ucap polisi itu pergi ke salah satu meja untuk mengambilnya.
"Kalian yakin jika itu suara laki-laki?" tanya Syafiq memastikan lagi.
"Sangat Yakin," ucap mereka mengangguk hebat.
"Baiklah, akan ku pastikan dia juga di penjara, bahkan hukumannya lebih berat lagi," ucap Syafiq.
"Ini Saudara Syafiq," ucap polisi itu menyerahkan ponselnya.
"Apa kalian cuma menelpon saja? Apantidak ada riwayat pesan?" tanya Syafiq.
"Dia mengirim foto dan mengirim uang, tapi kami tak punya sms banking sebagai bukti jika dia mengirim uang kepada kami," ucap mereka.
Syafiq mengangguk-angguk dan sambil mengecek semua yang ada di ponsel tersebut.
"Ini rekaman apa ya?" tanya Syafiq. Ia iseng menekan tombol putar dan meletakkan di telingannya.
"Hey! Apa'an sih kamu."
__ADS_1
"Aku juga mau dengar."
Tiit.
"Baik Tuan, kami akan melaksanakan apa yang Anda suruh."
"Aku akan memancing dia ke suatu tempat dan kalian culik dia, terserah kalian mau kalian apa'kan setelah itu habisi dia, sisa 10 juta lagi aku akan mengirimkan setelah kalian selesai melakukannya. Ingat! Buang tubuhnya jauh-jauh. Kalian tunggu di persimpang jalan yang sepi di lewati orang ada nanti mobil sedan berwarna putih, sergap di sana."
"Siap Tuan, kami akan melakukannya dengan bersih."
"Aku kirimkan fotonya,"
"baik Tuan."
"Ya sudah itu saja."
Tut
Tut
Tut
"Wah kalian sangat pintar ya, bahkan kalian merekamnya," ucap Syafiq Tersenyum.
"Ha? Merekam? Kapan kami merekam?" Tanya mereka heran sambil menatap satu sama lain.
"Kalian tidak menyadarinya ya? Tapi yang pasti kalian harus berterima kasih kepada teman kalian yang merekam ini sehngga kalian punya bukti yang kuat, karena orangnya juga ada di sini," ucap Syafiq.
"Wah... sangat kebetulan, aku sangat ingin melihat wajahnya," ucap pria itu.
__ADS_1
"Aku bawa dulu ponselnya," ucap Syafiq.
"Tidak menyangka, malah pacarnya sendirinya yang membunuhnya," ucap Sahara manyun.
"Tentu saja dia punya alasan untuk melakukan itu," ucap Syafiq.
"Hm... jangan-jangan nanti kamu melakukan itu juga kepadaku," ucap Sahara.
"Aku harus punya alasan untuk melakukannya," ucap Syafiq.
"Alasannya adalah karena kamu sudah nggak cinta aku lagi dan mencari wanita lain," ucap Sahara manyun.
"Astaga!! Apa sih yang ada di pikiranmu itu sayang, jangan aneh-aneh deh," ucap Syafiq tersenyum.
"Siapa yang tahu, tiba-tiba kamu berubah, hati manusia siapa yang bisa tebak, apa lagi sekarang kamu kaya raya, wanita mana yang tidak mengantri, dan kamu tergoda oleh kecantikan mereka," omel Sahara.
Syafiq tertawa. "Udahlah, pikiranmu sudah sejauh itu, aku saja belum berpikir begitu. Ya udah ayo kita lihat mereka, jangan sampai dia sudah pulang duluan," ucap Syafiq menarik tangan Sahara.
Terlihat Al masih membuat laporan.
Ailes berlari ke arah Syafiq. "Tolong, bukan aku pelakunya, aku tidak membunuh Hera, di temanku mana mungkin aku membunuhnya, sms itu adalah aku hanya khawatir saja dengan Hera," ucap Ailes sambil menangis, namun Al menarik tangannya.
"Kenapa kamu membunuhnya?" tanya Syafiq kepada Ailes.
"Aku… aku tidak membunuhnya," ucap Ailes menangis histeris.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih