
Sesampainya di sana, mereka hanya melihat sampan terbalik, sedangkan nelayannya tidak ada di sana.
"Ke mana pergi nelayan itu ya?" tanya Brima.
Syafiq pun berenang ke bawah, siapa tau sang nelayan tenggelam.
Sayangnya pandangan tidak terjangkau dan Syafiq pun menongolkan dirinya kepermukaan laut.
"Lho? Ke mana Bang Brima?" tanya Syafiq tidak melihat batang hidungnya.
Tiba-tiba Brima muncul ke permukaan.
"Ada?" tanya Brima.
"Tidak terlihat, apa jangan-jangan dia… sudah…" ucapan Brima berhenti sambil membelalakkan matanya.
"Ayo cari lagi," ajak Syafiq kembali menyelam.
"Ke mana nelayan itu berada?" tanya Syafiq dalam hati.
Kali ini Syafiq berenang lebih dalam lagi.
Terlihat seseorang di bawah yang pingsan. Syafiq mendekatinya dan sepertinya kakinya terlikit sesuatu, makannya ia tak bisa naik ke atas.
Syafiq membantu membukakan lilitan tali tersebut, namun tali itu sangat kuat. Syafiq berusaha mengangkatnya ke atas, namun tubuh itu sangat berat, sepertinya kakinya tersangkut.
Syafiq terpaksa muncul ke permukaan kembali. Untungnya mereka bersamaan muncul ke permukaan.
Syafiq melambaikan tangannya dan Brima pun mendekat. "Bang, Abang bawa pisau atau apalah untuk memotong tali?" tanya Syafiq.
"Oh ada," angguk Brima mengeluarkan pisau di samping kaki kirinya.
Syafiq menerimanya dan kembali menyelam. Brima mengikuti Syafiq berenang ke bawah.
Syafiq memutuskan tali tersebut, lalu memberikan pisau kepada Brima dan membawa tubuh nelayan itu naik ke permukaan.
"Huhhf…huhhff… huhhft…" nafas Syafiq tersengal-sengal.
Brima membalikkan sampan tersebut.
"Ayo aku bantu naik ke atas," ucap Brima yang terlebih dahulu naik ke sampan.
Syafiq mengulurkan tubuh nelayan itu dan Brima mengangkat nelayan itu ke atas sampan, lalu Brima membantu Syafiq naik ke atas sampan.
"Ayo kita kembali," ajak Syafiq.
Brima mengangguk dan mereka mendayung dengan tangannya, karena dayungnya sudah tidak ada lagi.
Ding ding
Misi selesai
Selamat Anda mendapatkan hadiah 400.000.000.000
Hadiah Anda menjadi 6.222.199.500.000
Selamat Anda mendapatkan 50 poin
__ADS_1
Poin Anda menjadi 1900 poin
"Wah itu mereka sudah datang," ucap Yedi melambaikan tangannya siap-siap untuk menolongnya.
Akhirnya dengan susah payah mendayung hanya mengunakan tangan, mereka pun sampai di bibir pantai.
Yedi pun berlari ke dalam air yang masih dangkal dan menarik moncong sampan ke tepian. Brima dan Syafiq juga membantunya menarik.
"Ak yang akan bawa bapak ini," ucap Yedi mengangkat tubuh nelayan itu.
"Astaga!! Berat juga tubuhnya," ucap Yedi membawanya dan menurunkan ke tanah.
Yedi menekan dada pak nelayan itu beberapa kali, untungnya air menyembur keluar dari mulutnya.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" bapak itu terbatuk-batuk.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Yedi.
Nelayan itu mengangguk meskipun dadanya masih sesak.
"Ya udah, bawa dia ke vila," ucap Syafiq.
Yedi membopong nelayan itu menuju Vila. Dan setelah sampai Yedi mendudukkannya di kursi.
Para gadis-gadis itu mendekati mereka.
"Eh apa yang terjadi?" tanya Grizelda.
"Kakek ini tadi tenggelam, Ambilkan air minumnya dulu," ucap Syafiq.
Glinda berlari menuju restoran. "Pak ada air hangat?" tanya Glinda.
"Ini Nona," ucap Koki menyerahkan kepada Glinda.
"Terima kasih," ucap Glinda berjalan cepat kembali ke tempat kerumanannya tadi.
"Ini airnya pak," ucap Glinda memberinya langsung kepada nelayan.
Nelayan itu menerimanya dan meneguk air tersebut.
"Bagaimana pak? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Brima.
"Sudah agak mendingan, terima kasih," ucap bapak separuh baya itu.
"Sahara, Ambilkan handuk untuk bapak ini dan untuk kami," ucap Syafiq.
Sahara mengangguk mengerti dan berlari masuk ke vila.
"Bapak baik-baik saja nggak? Kalau tidak kami bawa ke rumah sakit?" tawar Syafiq.
"Tidak usah Nak. Aku baik-baik saja, terima kasih," tolak bapak tersebut.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Yedi dan mereka semua merasa lega.
"Kenapa bapak bisa jatuh ke dalam laut? Yang herannya kenapa kaki bapak tersangkut sesuatu?" tanya Syafiq.
"Iya Nak. Itu sebenarnya jangkar agar sampan saya tidak bergerak oleh angin, tapi saat menceburkan jangkar itu malah kaki saya terlilit oleh tali jangkar dan membawa saya jatuh ke dalam, saya juga nggak tau kenapa bisa terikat kuat, saya pun kehabisan oksigen dan lemas, saya sangat berterima kasih kepada kalian semua yang sudah menyelamatkan saya, jika kalian tidak ada, nyawa saya sudah melayang, entah bagaimana nasib keuarga saya," ucap bapak itu meneteskan air mata.
__ADS_1
Syafiq dan Yedi mengelus pundak bapak tersebut.
"Syukurnya bapak selamat, apa pekerjaan bapak sehari-hari adalah nelayan?" tanya Syafiq.
"Iya, hanya inilah yang bisa saya lakukan, jika nggak menangkap ikan, kami nggak bisa beli beras," ucap Bapak itu menyeka air matanya.
"Ini handuknya," ucap Sahara menyerahkan handuk kepada Syafiq.
Syafiq menerimanya, Brima mengambil handuk untunya di tangan Syafiq dan juga di ikuti Yedi.
Brima meletakkan handuk tersebut di pundak bapak itu dan melingkarkan ke lehernya.
"Bapak kalau ada modal ingin buka usaha apa?" tanya Syafiq.
"Ehem… aku mencium bau-bau duin nih," ucap Brima terkekeh.
"Ingin jualan, biar dekat sama keluarga di umur saya yang sudah senja ini, contohnya seperti ini, kerja di laut terus, jarang bersama keluarga dan resiko juga besar," ucap bapak itu sedih.
"Hm… baiklah, ayo mandi dulu dan ganti baju agar nggak masuk angin, habis itu kita makan dulu," ucap Syafiq.
Bapak itu mengangguk menurut.
Syafiq dan yang lain menuju kamarnya untuk mandi, sedangkan para gadis itu memesankan makanan untuk bapak tersebut. Hari juga sudah menunjukkan pukul 17:35.
Setelah selesai mandi, Syafiq memberikan pakaiannya kepada bapak tersebut, tapi berhubungan tubub Syafiq agak kekar sedangakan tubuh bapak tersebut kurus, jadi bajunya agak sedikit kebesaran.
"Nggak apa-apa nih bajunya agak kebesaran?" tanya Syafiq.
"Tidak apa-apa, ini sangat enak di pakai, ini pasti baju mahal 'kan? Saya akan mengbaliknnya besok," ucap bapak tersebut.
"Nggak usah, jika bapak suka ambil saja," ucap Syafiq.
"Terima kasih Nak," ucap bapak itu menundukkan kepalanya.
"Ayo ke restoran, mereka pasti sudah menyipakan makanan untuk bapak," ucap Syafiq.
Bapak itu mengangguk dan mengikuti Syafiq dan yang lain.
Bapak itu terkesima melihat vila yang mewah itu sambil mengeleng-gelengkan kepala dan tersenyum.
"Tempat ini sangat mewah, meskipun mereka kaya, tapi mereka sangat baik," ucap bapak itu dalam hati.
Bapak itu hampir jatuh di tangga, untungnya Syafiq segera menangkap tangannya.
"Bapak nggak apa-apa?" tanya Syafiq.
"Eh maaf, saya nggak apa-apa, saya hanya tidak fokus saja saat turun, karena baru pertama kali masuk ke rumah semewah ini," ucap bapak itu malu-malu.
"Oh begitu, hati-hati ya pak," ucap Syafiq.
"Iya, maaf," ucap bapak tersebut.
🖕Vila Syafiq.
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa like vote komen dan hadiah
terima kasih