SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 150


__ADS_3

"Tidak perlu, saya datang hanya untuk membantu saja," tolak Syafiq.


"Kenapa Tuan menolaknya? Bukannya Tuan datang untuk hadiahnya?" tanya bapak itu.


"Aku memang datang untuk hadiah, tapi bukan hadiah Anda yang saya inginkan dan juga saya datang dengan yakin jika saya bisa menyembuhkannya," ucap Syafiq.


"Jadi hadiah apa yang ingin Tuan inginkan?" tanya bapak itu.


"Saya tidak menginginkan hadiah apa pun dari Anda, semuanya sudah selesai, hari juga sudah gelap, jika begitu kami permisi dulu," ucap Syafiq.


"Tunggu dulu! Apa Anda memang tidak mau apa pun, saya sudah menyediakan untuk Tuan, Saya harap Tuan bisa menerimanya sebagai tanda terima kasih saya kepada Tuan," ucap bapak itu memerintahkan seorang pengawalnya membawakan hadiahnya.


"Terimalah Tuan, kami akan sangat bergembira jika Anda menerimanya," ucap bapak itu menyerahkan sebuah kotak.


Syafiq menerima kotak tersebut dan membukannya, di sana ada ATM, 3 batang emas batangan dan giok berbentuk berwarna hijau berbentuk kodok.


"Baiklah, saya akan ambil giok dan 2 emas batang ini saja," ucap Syafiq kembali meletakkan kotak tersebut di atas meja.


"Kenapa Anda tidak mengambil semuanya?" tanya bapak itu.


"Ini saja sudah cukup, kami permisi," ucap Syafiq dan mereka pun melangkahkan kaki menuju mobilnya.


"Kenapa kamu tidak mengambil semuanya?" tanya Emerson saat mereka sudah di dalam mobil


"Sudahlah, mengobati seseorang itu dengan ikhlas, bukan karena hadiahnya, bersihkan hatimu makan kamu baru bisa mengobatinya,"ucap Syafiq.


(Padahal dia juga dapet imbalan)


"Apa begitu ya?" tanya Emerson.


"Ya emang harus begitu," jawab Syafiq.


Mereka pun beranjak dari rumah tersebut dan pulang ke hotel.


Sesampainya di hotel.


"Kok kalian lama amat sih," gerutu Grizelda.


"Tadi itu mengobati orang," jawab Syafiq.


"Iya, di kasi duit malah di tolak," jawab Emerson.


"Siapa yang sakit?" tanya Evelin.


"Nggak tau, orang kaya dari manalah itu," jawab Syafiq.


"Syafiq dia ternyata para normal," ucap Emerson.


"Benarkah?" tanya Evelin melihat ke arah Syafiq.


"Nggak kok, bohong dia, oh iya, kita harus beli tike buat pulang ke indonesia besok," ucap Syafiq.


"Aku belum mau pulang rasanya," ucap Grizelda sedih.


"Kenapa?" tanya Emerson yang tidak mengerti bahasa indonesia


"Besok kami akan pulang ke indonesia," ucap Syafiq.


"Kenapa cepat sekali pulangnya?" tanya Emerson.


"Perusahaanku di sana tinggal dan juga, aku masih kuliah," ucap Syafiq.


Emerson mengangguk. Teman yang baru saja ia kenal namun ia merasa sangat nyaman berteman dengannya rasanya pasti sangat rela jika ia pergi, pertemuan pasti ada juga perpisahan, begitulah hidup.


"Beri aku kenang-kenangan untukku, kau pun entah kapan datang lagi," ucap Emerson.


"Oke nanti aku berikan, tapi kalau aku beli barang darimu saja, lumayan dapat diskon," ucap Syafiq terkekeh.


"Aman, asalakan jangan bikin aku bangkrut," ucap Emerson.

__ADS_1


"Ya udah, kalian sudah makan?" tanya Syafiq kepada Grizelda dan Evelin.


"Kami sudah makan," angguk grizelda.


"Oke kami pergi makan dulu, kalo mau ikut ayo," ajak Syafiq.


"Ya udah ikut yuk," ajak Grizelda menarik tangan Evelin.


Mereka berempat pun pergi menuju restoran hotel.


"Silakan di pesan," ucap pelayan restoran memberikan buku menu.


"Aku mau makan sea food, sama puding anggur," ucap Syafiq.


"Aku juga gitu," ucap Emerson.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Syafiq.


"Aku kue rasberry sama minuman soda," ucap Grizelda.


"Hm aku mau desser box sama minuman coca cola," ucap Evelin.


"Baik Tunggu sebentar ya," ucap pelayan itu menuju ke dapur.


"Badanku pegel banget, pulang ke indonesia harus ikut trapi nih," ucap Syafiq.


"Kenapa memangnya?" tanya Emerson.


"Aku tadi ikut masuk jalan rahasia yang si buat wanita itu alhasil pinggangku rasannya mau patah, tulang tanganku capek karena tiarap belum lagi menangkapnya, itu sangat melelahkan," ucap Syafiq.


"Wanita itu tadi mati kenapa?" tanya Emerson.


"Bunuh diri dengan pecahan kaca mengorok lehernya sendiri," ucap Syafiq.


"Ihhhhh, aku jadi ngeri," ucap Emerson memegang lehernya sambil berdelik ngeri.


"Waaaw... cinta tak terbalaskan," ucap Emerson.


Tak lama kemudian makanan mereka pun datang.


"Silakan di nikmati," ucap pelayan itu menyajikan makananya di atas meja.


"Ah aku udah laper banget," ucap Syafiq langsung menyantap makanannya dengan lahap.


Selesai makan Syafiq pun membayarnya.


Aet


"Berapa semua?" tanya Syafiq kepada pelayan.


"Semuanya 140.000.000," jawab pelayan itu.


Syafiq mengeluarkan kartu ATM-nya dan mengesek di mesin pembayaran.


Ding ding


Hadiah Anda di kurang 140.000.000


Sisa hadiah Anda 1.056.600.000.000.


"Ya udah kita masuk kamar yuk, badanku pegel semua nih, mau istirahat" ucap Syafiq.


"Ya udah ayo," angguk Emerson dan Evelin.


Mereka pun beranjak dari restoran menuju kamar mereka.


"Syafiq, aku tidur di kamarmu aja," ucap Emerson.


"Boleh, tapi jangan mengangguku tidur," ucap Syafiq.

__ADS_1


"Yeee... aku juga mau tidur," ucap Emerson mencibir.


"Ya udah kalian berdua istirahatlah, biarkan aku yang pesan tiketnya," ucap Syafiq ketika sampai di depan kamar Grizelda.


"Oke," jawan Grizelda.


Grizelda dan Evelin pun masuk ke dalam kamar Grizelda.


Sedangakan Emerson membawa bajunya masuk ke dalam kamar Syafiq.


Emerson merebahkan tubuhnya di kasur. "Aku juga lelah, lelah karena deg-degan terus," ucap Emerson.


"Kamu sih nggak percaya denganku," ucap Syafiq juga merebahkan tubuhnya ke kasur dan juga memesan tiket.


Pembayaran selesai.


Ding ding


Hadiah Anda di kurang 50.000.000


Sisa hadiah Anda 1.056.550.000.000


"Oh iya, ini aku berikan untukmu 1," ucap Syafiq mengabil 1 batang emas memberikan kepada Emerso.


"Wah... kau sangat dermawan," ucap Emerson tertawa senang menerima hadiah Dari Syafiq.


"Anggap saja itu upahmu karena sudah menjadi asistenku," ucap Syafiq kembali membaringakan tubuhnya ke kasur.


Emerson bangun dan menyimpan emas batangan itu masuk ke dalam kopernya. "Terima kasih ya hadiahnya, akan aku masukkan ke dalam gelas kaca untuk hiasan," ucap Emerson juga terbaring di kasur


Yang rencananya mereka ingin tidur tapi pada akhirnya mereka malah mengobrol sampai jam 3 dini hari.


"Aku udah ngantuk banget, aku pasang Alarm biar nggak ketinggalan pesawat," ucap Syafiq yang sudah menguap


"Ya udah, aku juga ngantuk," ucap Emerson.


Dan mereka berdua pun tidur.


xxx


Tok!


Tok!


Tok!


"Syafiq, bangun!" teriak Grizelda dari balik pintu.


Syafiq pun terbangun.


"Iya," jawab Syafiq berdiri meskipun dengan mata yang masih mengantuk.


Syafiq pun membukakan pintu kamarnya.


"Ehm... ada apa?" tanya Syafiq dengan mata sayupnya.


"Ini udah jam berapa coba?" tanya Grizelda.


"Jam berapa?" Syafiq balik bertanya.


"Jam 8 pagi, kita berangkat jam berapa?" tanya Grizelda.


"Jam 9, masih ada 1 jam lagi kok, ya sudah aku mandi dulu," ucap Syafiq menggosok-gosok matanya.


Bersambung


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2