
"Wah sepertinya kau suka anak-anak ya, bagaimana jika anak kita sebanyak itu," ucap Syafiq tersenyum.
"Boleh, asalkan kamu yang melahirkan," ucap Sahara manyun.
"Hahaha… 2 saja cukuplah," ucap Syafiq.
"Makan yuk," ajak Sahara.
"Baiklah, hm… makan di kaki lima enak nih," ucap Syafiq memberhentikan mobilnya di depan penjual mie tiaw.
Mereka pun keluar dari mobil dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.
"Bang, mie tiaw 2 porsi," pesan Syafiq.
"Baik tunggu sebentar," ucap penjual mie.
Ia pun memasak mienya sementara Syafiq dan Sahara sedang menunggu dan melihat pemandangan.
"Sudah lama banget nggak makan di pinggir jalan begini," ucap Sahara.
"Untuk tempatnya jauh dari polusi," ucap Syafiq mengangguk.
"Ini mienya, mau pesan minuman apa?" tanya penjual.
"Es teh manis saja," ucap Syafiq.
"Aku juga sama," sahut Sahara.
"Baik," angguk penjual itu segera membuatkan mereka minuman pesanan mereka.
Beberapa menit kemudian minuman mereka selesai.
"Silakan Tuan, Nona," ucap penjual itu.
"Terima kasih," ucap Sahara dengan senang hati menerimanya.
Mereka melahap makanannya dengan nikmat.
"Ini sudah jam 13:20 menit, mau kemana lagi kita?" tanya Sahara melihat arlojinya.
"Ke mana ya? Hm… ke tempat tanah yang ku beli kemaren yuk," ajak Syafiq.
"Ayo," angguk Sahara setuju.
Tririring
Triririrng
Tririring
__ADS_1
Ponsel Syafiq berbunyi.
"Halo komandan," jawab Syafiq.
"Dengan sangat menyesal, saya harus menyampaikan ini," ucap komandan.
"Apa yang terjadi komandan?" tanya Syafiq mengkerutkan dahinya.
"Al sudah meninggal," ucap komandan.
"Apa!!! Apa maksud komanda Al yang tadi aku introgasi tadi ya," tanya Syafiq kaget.
"Iya, di meninggal karena bunuh diri di kamar mandi tahanan, ia mengunakan sebuah besi kecil, para polisi juga tidak tahu dia mendapatkan dari mana, setelah para tahanan menemukannya di kamar mandi saat hendak mandi mereka sangat terkejut jika Al sudah berlumuran darah di tubuhnya dan besi kecil di tangannya," jelas komandan tersebut.
"Bagian tubuh mana yang terluka?" tanya Syafiq.
"Di leher dan di lengannya tempat pembuluh darah," jawab Syafiq.
"Apakah Komandan yakin jika itu adalah bunuh diri, bukan pembunuhan?" tanya Syafiq.
"Ya, tubuhnya juga sudah di otopsi, bahwa arah luka tersebut dari kiri ke kanan dan juga lengannya. Sudah di pastikan jika dia memang bunuh diri. Mungkin dia juga syok setelah mengetahui kebenaran tentang pacarnya yang masih mencintai dia lalu lebih memilih mengakhirkan hidupnya," jawab komandan tersebut.
"Apa perlu kamu ke sana kembali?"
"Saya rasa itu tidak perlu, karena sebentar lagi jenazahnya akan di bawa pulang ke rumah duka," ucap komandan itu.
"Iya, karena saudara Syafiq banyak membantu pekerjaan kami, jadi saya merasa jika saudara Syafiq bagian dari kami juga," ucap komandan.
"Baiklah jika begitu, saya tutup telponnya," ucap Syafiq.
"Baiklah," angguk komandan memutuskan panggilannya.
"Kenapa?" tanya Sahara.
"Al yang tadi kita introgasi meninggal dunia karena bunuh diri," ucap Syafiq.
"Apa!! Bunuh diri? Apa yang dia pikirkan?" tanya Sahara kaget.
"Entahlah, mungkin dia syok," jawab Syafiq.
"Jadi apa jadi kita ke tempat tanahmu itu?" tanya Sahara.
"Jadi," angguk Syafiq. "Berapa bang?" tanya Syafiq.
"2 mangkok mie 25 ribu di tambah 2 gelas es teh 20 ribu, semuanya 45 ribu," jawab penjual.
"Ada uang nggak?" tanya Syafiq kepada Sahara.
"Kenapa? Aku yang bayarin?" tanya Sahara.
__ADS_1
"Hehehe iya, aku nggak punya uang kes," ucap Syafiq menyeringai.
"Ini bang, ambil saja kembaliannya," ucap Sahara.
"Terima kasih Nona, terima kasih Tuan," ucap Penjual itu senang.
Syafiq dan Sahara masuk dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju tempat tanah yang di beli Syafiq.
"Wah… ini sangat luas," ucap Sahara setelah mereka sampai di lokasi.
"Iya, sayang sekali 'kan jika tanah di pinggir jalan begini di biarkan terbengkalai, tatanan kota akan menjadi jelek," ucap Syafiq.
"Jadi kamu mau buka apa di sini?" tanya Sahara.
"Menurut kamu aku bangun apa di sini?" tanya Syafiq meminta pendapat.
"Berhubungan ini bekas taman, bagaimana jika kita membangun lagi," saran Sahara.
"Kamu sangat cerdas, aku memang ingin membangun taman di sini, lumayan buat ngilangin suntuk," ucap Syafiq menatap luas tanahnya.
"Emangnya kapan kamu suntuk? Kau malah terlihat seperti orang kelelahan karena satu hari ada saja yang kau kerjakan," ucap Sahara.
"Hoaaammm… setelah kau mengatakan itu malah aku jadi mengantuk," ucap Syafiq menguap dan membarikan kepalanya di bahu Sahara.
"Hm … kenapa kau tiba-tiba mengantuk?" tanya Sahara melihat ke arah Syafiq.
"Sepertinya aku kurang tidur," jawab Syafiq.
"Ayo masuk ke mobil dan tidurlah sebentar," ucap Sahara meletakkan tangan Syafiq di bahunya dan membawanya masuk ke mobil.
"Terima kasih sayang, aku tidur sebentar ya," ucap Syafiq mencium kening Sahara dan kemudian ia memejamkan matanya dan tidur.
Sahara tersenyum sambil memegang keningnya.
Di saat Syafiq tidur, Sahara diam-diam mencium pipi Syafiq.
Plaaakkk!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sahara, namun saat ia melihat ke arah Syafiq, ia masih tertidur pulas.
"Apa dia mengigau? Astaga! Tamparannya sangat sakit," ucap Sahara memegang pipinya yang sedikit memerah.
"Sungguh menyebalkan, lihat saja nanti saat kau bangun," ucap Sahara mengosok-gosok pipinya agar tidak terlalu merasakan sakitnya.
Bersambung
jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih.
__ADS_1