SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 225


__ADS_3

"Tega banget sih," ucap Brima sedih.


"Abang malam ini tidur saja di sini, besok malam abang juga datang ya, kita bikin acara," ucap Syafiq.


"Wah… itu pasti mengasikkan, baiklah aku tidur di sini," ucap Brima senang.


"Abang sudah makan belum?" tanya Syafiq.


"Sudah, tapi kalo di tawarin nggak nolak sih," ucap Brima cengengesan.


"Dasar rakus," ucap Glinda manyun.


"Pak koki buatkan steak untuk Bang Brima, kamu mau makan lagi nggak Yedi?" tanya Syafiq kepada temannya itu.


"Nggak lah, udah kenyang kok," ucap Yedi.


"Buatkan 1 saja pak koki," pinta Syafiq.


"Siap Tuan," jawab sang koki.


"Wah… Syafiq, kamu cari tempatnya sangat strategis sekali, ini benar-benar pemandangan yang sangat bagus," ucap Brima kagum.


"Iya, ini juga tempatnya banyak di minati para pengunjung," jawab Syafiq melihat ke arah laut.


Makanan Untuk Brima sudah selesai, Pak koki itu mengantarkannya ke hadapan Brima.

__ADS_1


"Terima kasih pak," ucap Brima tersenyum.


"Sama-sama Tuan," angguk pak koki yang kembali lagi ke dapur.


Sahara keluar dengan wajah sedih dan menjatuhkan diri di kursi.


"Kok lemas banget kamu? padahal kelihatannya sudah mandi," tanya Jelita.


"Grizelda dia nggak mau keluar, udah puas aku mengajaknya keluar, dia tetap nggak mau, aku tanya dia sakit apa? Dia kenapa? Tapi jawabnya selalu nggak apa-apa aja," jawab Sahara sedih.


"Aku rasa dia emang butuh sendiri dulu," sahut Jelita.


"Iya, aku juga merasa begitu, nanti biar aku dan Jelita yang coba bicara sama dia," ucap Glinda.


Mereka pun ngobrol biasa di sepanjang malam. Dari balik jendela kaca, Grizelda melihat mereka yang sedang mengobrol asik.


"Apa yang salah denganku, kenapa aku sangat merasa sedih melihat mereka berpacaran, apa aku harus pergi dari sini untuk menghilangkan rasa sakitku," ucap Grizelda menutup sebelah matanya sambil menangis.


Grizelda melihat wajah Syafiq tersenyum melihat ke arah Sahara, sebenarnya itu senyum biasa yang lemparkan Syafia kepada Sahara dengan canda mereka, tapi di mata Grizelda itu adalah senyum kasih sayang dan membuatnya bertambah sakit.


Saat mereka sudah mengantuk, mereka pun masuk ke dalam Vila, Grizelda cepat-cepat berbaring dan masuk dalam selimutnya.


Mereka pun masuk kamar. Brima, Syafiq dan Yedi tidur bersama. Sedangkan yang para wanita tidur di satu kamar.


Mereka pun berbaring bersama di satu kasur yang sangat besar.

__ADS_1


"Sahara, kakak boleh jujur?" tanya Jelita.


"Kakak mau ngomong apa?" tanya Sahara memiringkan tubuhnya.


"Kakak juga suka sama Syafiq, tapi kakak cukup sadar diri untuk mencintai dia," ucap Jelita.


"Kenapa harus sadar diri, kakak 'kan seorang Ceo, orang yang berpengaruh, jika seandainya Syafiq memilih kakak, aku yang harusnya sadar diri," ucap Sahara.


"Tapi dia memilih kamu, kakak rasa itu wajar saja, karena kalian emang sudah bersama sejak lama, haish… ingin rasanya pergi dari sini, tapi pacar bisa di cari, yang ada mereka nyakitin saja, namun teman yang mengerti seperti kalian, yang baik seperti kalian, yang tulus seperti kalian ini tidak akan dapat kakak cari lagi, kalian itu keluargaku yang sangat berharga, kakak nggak mau meninggalkan kalian," ucap Jelita.


Mendengar ucapan Jelita, Grizelda tersentak. "Benar juga apa yang di katakan kak Jelita, teman seperti mereka tidak akan pernah aku temui lagi, sedangkan pria bisa di cari," ucap Grizelda dalam hati.


"Jika kakak mau kakak boleh mengambilnya," ucap Sahara tertawa.


"Kamu ingin menjatuhkan reputasiku? Masa seorang ceo jadi pelakor, bisa bangkrut perusahaanku," ucap Jelita mencibir.


"Terus kalo kak Glinda gimana?" tanya Sahara.


"Aku tidak tertarik dengan bocah tengil itu, dan juga aku tidak tertarik jadi pelakor. Polisi jadi pelakor, bisa nggak laku aku," ucap Glinda.


Bersambung


Jangan lupa like vote komen dan hadiah.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2