SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 216


__ADS_3

"Hm… baiklah jika begitu," ucap Jelita yang tak berani memaksanya lagi.


Jelita pun keluar dari kamar tersebut meninggalkan Grizelda dengan wajah cemberut.


"Mana Grizelda?" tanya Sahar ketika tidak melihat Geizelda mengikuti Jelita.


"Dia nggak mau makan, dia juga nggak mau me rumah sakit, dia hanya ingin istirahat saja," ucap Jelita.


"Hm… ya sudah jika itu mau dia. Pak, nanti antarkan Grizelda makanannya di kamar ya," ucap Syafiq.


"Baik Tuan," angguk pak koki itu.


"Kalo Grizelda nggak pergi ke perusahaan kamu, siapa yang memantau?" tanya Glinda.


"Oh iya, kak Glinda masih sakit ya, kalo gitu kakak di Vila aja," ucap Sahara.


"Iya, jagain Grizelda, masalah perusahaan ada CCTV yang pantau," ucap Syafiq menenangkan.


"Hm… baiklah, orang sepertiku yang biasanya kejar-kejaran dengan penjahat, tiba-tiba ada di rumah, itu sangat garing bagiku," ucap Glinda menyengir.


Masakan pun selesai, kedua koki itu menyediakan makanan untuk mereka berempat.


Mereka pun melahapnya dengan segera.


"Aku berangkat dulu ya," ucap Jelita buru-buru sambil melihat jam di tangannya ketika sudah selesai makan.


"Iya, kami juga akan berangkat," ucap Syafiq.


"Baiklah, kalian hat-hati di jalan," pesan Glinda.


"Iya kak," angguk Sahara.


Syafiq mengandeng tangan Sahara masuk ke dalam mobilnya dan mereka pun melaju di jalanan menuju ke kampus.


"Nanti setelah pulang kuliah, aku bawa kamu ke tempat usahaku yang lain," ucap Syafiq.


"Hm? Tempat usaha yang lain? Emang masih ada lagi? Kapan kamu membelinya?" tanya Sahara melihat ke arah Syafiq yang sedang fokus menyetir.


"Iya, tadi malam aku membelinya," ucap Syafiq.

__ADS_1


"Benarkah? Tidak menyangka, kamu sekarang bisa sekaya ini," ucap Sahara kagum.


"Anggap saja itu balasan selama ini aku hidup susah," ucap Syafiq.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di kampus.


"Ayo turun," ajak Syafiq.


"Tunggu sebentar," ucap Sahara. Ia mengambil ponselnya lalu.


Ckrak!


Ckrek!


"Hm… kenapa nggak bilang kamu mau ngambil foto," ucap Syafiq.


"Foto jelek seperti ini malah bagus. Ini akan jadi kenang-kenangan sepanjang masa, foto ini adalah sebagia pertanda jika kita pertama jadian," ucap Sahara tersenyum sambil melihat foto di layar ponselnya.


Syafiq manyun. "Ya terserah kamulah," ucap Syafiq pasrah.


Mereka berdua pun turun dari mobil dan masuk ke dalam kampus.


"Mobilnya tinggal di vila," jawab Syafiq.


"Dan sekarang kami sudah jadian," ucap Sahara memeluk tangan Syafiq.


"Serius? Kalian beneran jadian?" tanya Tedi membelalakan matanya.


"Hm apa kami kelihatan berbohong?" tanya Sahara.


"Jika begitu selamat buat kalian berdua ya, nanti aku belikan hadiah atas jadian kalian berdua," ucap Yedi.


"Di tunggu ya Yedi," ucap Sahara tertawa.


"Ya udah, kamu masuk gih ke ruangan kamu," ucap Syafiq mengacak-acak rambut Sahara.


"Ih… jadi berantakan rambut aku," ucap Sahara kembali merapikan rambutnya, ya udah aku masuk dulu ya," ucap Sahara.


Syafiq menunggu di depan pintu sampai Sahara duduk di kursinya.

__ADS_1


Terlihat Sahara melambaikan tangannya.


"Cie… bucin banget sih pasangan yang baru jadian ini, bikin orang iri aja," ucap Yedi menyenggol pinggang Syafiq.


"Kenapa kamu? Iri?" tanya Syafiq menyunggingkan senyumnya dan mereka berdua melangkahkan kaki masuk ke ruangannya.


"Hm… boleh nggak kalau aku nembak Grizelda?" tanya Yedi tiba-tiba.


"Eh… kau suka dia?" tanya Syafiq mengangkat alisnya.


"Itu pun kalau dia mau," jawab Yedi duduk di kursinya.


"Nggak mau coba sama Jelita dan Glinda?" tanya Syafiq terkekeh yang juga duduk di kursinya.


"Ah mana berani aku sama mereka, Jelita seorang Ceo, tentu saja di bertemu dengan orang-orang besar, aku jadi minder. Kalo Glinda dia sedikit galak, bisa cepat mati aku jika nembak dia, aku di tembak balik," jawab Yedi cekikikan.


"Hey… dia itu bukan galak, tapi dia itu tegas, berwibawa, dia juga disiplin hanya orang yang tepat waktu cocok dengannya," ujar Syafiq.


Tak lama Amara masuk ke dalam ruangan bersama kedua temannya.


Amara berdiri sambil menatap Syafiq.


"Hey! Amara, kamu kenapa?" tanya temannya heran melihat Amara berdiri sepeetinterpaku zdi atas lantai.


"Eh tidak apa-apa," ucap Amara terbangun dari lamunannya.


Amara berjalan pelan dan duduk di kursinya.


Dosen pun masuk ruangan untuk memulai pembagian materi.


Sesekali Amara melihat kebelakang di mana ia melihat Syafiq yang duduk di belakang sebelah kirinya berjarak 3 kursi.


"Apa aku tidak mengapainya lagi, apa ak terlambat untuk mengatakan isi hatiku yang sesungguhnya? Jika aku mengatakannya apa dia akan percaya dan menerimanya?" keluh Amara dalam hati.


Bersambung


Jangan lupa like vote komen dan hadiah.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2