SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 208


__ADS_3

"Rumahnya tertutup rapat nih, bagaimana aku mengintipnya?" tanya Syafiq dalam hati.


Ia pun mengendap-endap dan berdiri di samping jendela.


"Haish... jendelanya tertutup oleh tirai, aku harus cari cara untuk melihat yang mereka lakukan," ucap Syafiq dalam hati.


"Oh ada lobang angin di sana, aku gunakan ponselku saja untuk melihat dan merekam suara mereka," ucap Syafiq.


Ia mencari kayu dan menginkat ponselnya di kayu tersebut menggunakan tali sepatunya lalu menjulurkan ponselnya di lubang pente8.lasi dan memvideokan mereka lalu menyambung dengan hansfree dan meletakkan di telingannya.


Syafiq mendengar percakapan mereka. "Ini semua sudah beres, kalian edarkan, lain kali jika kalian ada apa-apa cukup kirim pesan saja dan tunggu setelah aku pulang kerja, jika di saat dalam pekerjaan mereka akan curiga," ucap Brigpol Yuda.


"Baik Bang, karena kali ini yang masuk banyak," ucap salah satu pria itu.


"Baiklah, jika begitu aku kembali lagi ke kantor polisi, kalian cepat simpan barang-barangnya," ujar Brigpol Yuda.


"Baik Bang," ucap mereka merapikan barangnya dan menyimpankan sesebuah tempat rahasia.


"Ya udah aku pergi dulu," ucap BrigPol Yuda memakai jacketnya dan kembali memastikan jika barangnya sudah tersimpan dengan benar.


Syafiq menarik ponselnya kembali dan berlari ke arah Brima.


"Bang cepat sembunyi," ucap Syafiq memelu mereka semua dan menjatuhkan tubuhnya secara bersamaan di samping mobil.


Mobil Brigpol Yuda pun lewat, ia melihat mobil Syafiq namun ia tidak mempedulikannya dan melaju pergi.


Setelah mobil itu lewat mereka pun bangun.


"Hey apa yang kamu lakukan?" tanya Brima memegang pinggangnya yang sakit.


"Tentu saja agar tidak ketahuan," ucap Syafiq.


"Kan bagus jika kita menangkapnya di tempat dan kita punya bukti yang kuat," ucap Brima.


"Bang mereka itu sedang bisnis nar koba, saat kita meangkapnya di tempat, itu bukan rumahnya dan malah ia berpura-pura menangkap pelakunya, atau dia menggunakan senjatanya untuk menembak salah satu dari kita dan menyuruh anak buahnya untuk pergi dan menyembunyikan barang mereka, aku takut salah satu dari kita akan terluka," ucap Syafiq.


"Jika dia pergi bagaimana kita akan mencari buktinya," ucap Brima.


"Sudah aku pikirkan itu, aku sudah punya buktinya, ayo kita sekarang pergi ke rumah itu sebelum mereka pergi," ajak Syafiq.


Mereka pun bersama-sama pergi dan langsung menendang pintu tersebut hingga pintu itu terpelanting.


"Wah tendanganmu kuat sekali," puji Brima terkekeh.


Kedua pria itu kaget dan kalang kabut ingin lari.


Dor!


"Jangan bergerak!" teriak Brima menembakan ke atas.

__ADS_1


Namun keduanya berlari lewat pintu belakang Brima menembak salah satunya dan mengenai pangkal paha dan ia pun terjatuh.


"Tangkap dia," perintah Brima kepada bawahannya.


Mereka memborgol tangan pria itu dan mengangkatnya, sedangkan yang satunya lagi sudah kabur.


"Kalian jaga dia, aku dan Syafiq mencari barang buktinya," ucap Brima.


"Baik pak," angguk mereka.


Syafiq memutar vedio di ponselnya untuk melihat mereka membawakannya di mana.


"Ke dalam kamarnya bang," ucap Syafiq.


Pintu itu ternyata terkunci.


"Tendang lagi," ucap Brima memberi kode.


Syafiq menendangnya lagi dan pintu itu terbuka.


Syafiq dan Brima mencari-cari bahan buktinya namun tidak di temukan.


"Lho? Di mana mereka menyimpannya?" tanya Syafiq heran.


"Apa ada sesuatu tempat yang mungkin rahasia?" tanya Brima.


"Aku rasa juga begitu," angguk Syafiq. Ia berjongkok lalu meletakkan telinga di setiap kotak marmer.


Salah satu kotak yang bunyinya berbeda.


"Bang sepertinya ini kotaknya, ayo kita bongkar," ucap Syafiq.


"Ngapain di bongkar, kamu kan kuat," ucap Brima terkekeh.


Syafiq mengangkat kakinya lalu memecahkan marmernya dan marmer itu pecah.


Di bawanya ada kotak kayu, dan Syafiq mengangkatnya ke atas.


"Mana kuncinya nih?" tanya Syafiq.


"Kamu 'kan kuat," ucap Brima mengangkat alisnya sambil tersenyum.


Syafiq langsung manyun. Ia mengengam erat kunci gemboknya lalu menarik dengan kuat dan gembok itu terlepas.


Syafiq membukanya dan di sana sudah banyak nar koba yang sudah di bungkus per 1 ons.


"Wah... aku rasa ini ada 5 kiloan, pantas saja istrinya bilang tidak ada masalah keuangan," ucap Brima.


"Coba cari lagi bang, mungkin ada yang mereka simpan lagi," ucap Syafiq.

__ADS_1


Brima mengangguk, Brima membongkar lemari mereka dan menemukan uang ratusan juta di sebuah tas.


"Mereka sangat kaya dari kerjaanku yang siang malam melek terus," keluh Brima.


"Terus, abang mau kerja ini juga?" tanya Syafiq.


"Apaan kamu, aku rela tak punya uang dari pada terperangkap di penjara," ucap Brima.


"Kita sita semua yang ada, aku rasa temannya akan datang mencari barang yang tersisa," ucap Syafiq.


Mereka pun mengambil sartifikat rumah dan termasuk kartu identitas mereka.


"Semuanya sudah di Ambilkan?" tanya Syafiq.


"Sepertinya sudah, Ayo kita ke kantor polisi," ajak Brima.


Syafiq mengangkat kotak kayu tersebut keluar dari ruang tersebut.


Sesampainya di mobil, Syafiq memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya.


"Abang dan satu teman abang masuk di dalam mobilku untuk menjaga sanderanya, biar aku yang setir, mobil Glinda biar teman abang yang lain bawakan," ucap Syafiq.


"Baiklah," angguk Brima.


Mereka pun masuk ke mobil dan menuju kantor polisi.


Sesampainya di sana, Syafiq keluar dari mobil dan membukan pintu untuk Brima.


Brima keluar dari mobil membawa tawananya.


Yuda sangat terkejut orang yang dia kenal kini lewat di depan matanya.


Syafiq juga membawa kotak kayu dari bagasinya dan di bantu polisi yang lain untuk membawa barang buktinya.


Komandan keluar dari ruangannya dan mendapati Brima membawa seseorang.


"Ada apa ini?" tanya Komandan itu.


"Hormat Komandan, maaf jika kami menangkap seseorang tidak mengorfirmasi dulu dengan komanda, kami lakukan ini agar pelaku tidak kabur," ucap Brima.


"Kejahatan apa yang dia lakukan?" tanya Komandan itu.


Syafiq meletakkan kotak kayu iti di atas meja dan juga bukti yang lainnya.


Komandan mendekatinya lalu membukannya.


Bersambung


Jangan lupa like vote komen dan hadiah

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2