
Syafiq pun menuju salah satu toko bangunan.
"Permisi pak," ucap Syafiq setelah sampai di salah satu toko bangunan.
"Ya ada apa?" tanya pemilik toko.
"Saya ingin membangun sebuah taman, jadi apa bapak punya pekerja, jadi borongannya bapak yang ambil," ucap Syafiq.
"Wah boleh juga tuh, berapa luas tanah yang harus di garap untuk menjadi tamanya?" tanya pemilik toko.
"500 meter persegi, jadi saya mau bangunkan tempat duduk dan taman bunga, bangun jalan, jadi di tengah-tengah itu isinya bunga semua, nanti pagar saya mau kaca plastik yang anti tidak di tembus senjata api," ucap Syafiq.
"Maksudnya 500 meter keliling itu di beri kaca plastik itu?" tanya pemilik toko tekejut
"Iya, biar tidak ada kecurangan, jika tidak di pagar nanti malah mereka masuknya asal aja tanpa membeli tiket, nanti di tengah-tengah taman juga buatkan danau sebagai pemandangan. Jadi apa bapak bisa? Masalah uang nggak usah khawatir," ucap Syafiq.
"Tentu saja bisa, jadi masalah menanam bunga nanti itu di kerjakan oleh para istri pekerja yang bagi mereka tidak punya pekerjaan, bagaimana menurut Tuan?" tanya pemilik toko memberi saran.
"Saya sangat setuju, nanti jika tamannya selesai, mereka tetap bekerja di sana sebagai perawat tanaman dan tukang sapu, agar pengunjung nyaman," ucap Syafiq.
"Wah Anda sungguh pengusaha sukses ya, masih muda tapi sudah membuka lowongan pekerja buat yang membutuhkan, pemuda seperti Anda yang sangat di butuhkan negara ini," puji bapak itu menepuk pundak Syafiq dengan senyum yang mengembang.
"Terima kasih atas pujiannya, saya juga sangat senang jika bisa membantu orang-orang yang tidak punya pekerjaan apa lagi bagi kalangan orang bawah," jawab Syafiq mengangguk.
"Baiklah, semuanya saya rinci, masalah bunga nanti saya akan cari di toko bunga, masalah pekerja saya yang akan cari sendiri, jika sudah dapat langsung saya kabari, bahan bangunannya juga dari saya, Anda tinggal terima bersih saja," ucap pemilik toko terkekeh.
"Baiklah, saya mempercayai bapak, saya akan kirim DP-nya, ada nomor rekening?" tanya Syafiq.
"Oh Ada, ini nomor rekening saya," ucap bapak itu memperlihatkan nomor rekeningnya di sebuah kertas yang sudah di laminating.
"Ternyata sudah di persiapkan ya," ucap Syafiq.
"Iya, biar nggak kerepotan kalo orang beli bahan langsung kirim ke rekening ini aja," ucap Bapak tertawa.
Syafiq mengangguk dan mencatat nomor rekeningnya.
Pengiriman berhasil✔
Ding ding
Hadiah Anda di kurang 50.000.000.000
Sisa hadiah Anda 5.000.140.000.000.
"Sudah saya kirim pak, coba di cek," ucap Syafiq.
"Oh sudah masuk, waw 50 milyar ya DP-nya saja," ucap Bapak itu senyum senang.
"Nanti bapak kirim pesan saja jika sudah ada yang mengerjakan tempat saya itu, alamatnya saya catat saja, dan juga tanah saya di pinggir jalan raya, dulunya juga bekas taman," ucap Syafiq.
__ADS_1
"Oh tanah yang itu ya, ya ya ya, saya sering lewat di situ, di sana memang taman yang terbengkalai yang sangat luas, tapi sayangbya di tinggal begitu saja, jadi Anda yang membeli tanah itu?" tanya bapak itu penasaran.
"Iya, berhubungan lahannya cuma di biar begiu saja, lebih baik di jadikan tempat indah," ucap Syafiq.
"Ya ya ya, Anda benar juga, jadi tidak perlu mencatat di buku alamat taman Anda, karena saya sudah tahu tempatnya" ucap bapak itu.
"Baik pak, terima kasih," ucap Syafiq.
"Iya sama-sama," angguk bapak itu senang.
Syafiq dan Sahara masuk mobil dan juga di ikuti Yedi.
"Ayo pergi cari makan dulu," ajak Syafiq.
"Iya, aku udah lapar," ucap Sahara.
Mereka pun menyusuri jalan mencari tempat makan.
Peringatan!
Peringatan!
Ada bahaya!
Ada bahaya!
"Bahaya? Apa ada sesuatu terjadi?" tanya Syafiq.
"Bagaimana ini, Yedi ada di belakang, aku takut dia terluka, mereka semua itu pasti mengincarku," ucap Syafiq.
Ding ding
Misi baru
Lumpuhkan mereka semua
Hadiah 700.000.000.000
Ke enam motor itu melaju, beriringan dengan mobil Yedi dan mobil Syafiq di sisi kiri dan kanan.
"Hey berhenti kalian!" teriak teman pria yang duduk di belakang sambil mengangkat balok kayu.
"Syafiq, apa yang terjadi?" tanya Sahara ketakutan.
"Sahara, tolong kamu yang kemudikan mobilnya," ucap Syafiq menekan stir dengan kakinya, Sahara pun berpindah dari tempat duduknya lalu memegang stir mobil.
Syafiq membuka kaca jendela mobil, lalu mengeluarkan kakinya berpegangan di tepi jendela mobil lalu menendang pemotor itu.
Kaki Syafiq mengenai kepala pemotor itu lalu mereka pun terjatuh.
__ADS_1
Lalu pemotor yang lain juga memukul mobil Yedi.
"Astaga!! Mereka apa-apa'an ini? Padahal kami nggak punya dendam," ucap Yedi kaget dengan suara pukulan keras ke mobilnya.
Yedi menyenggol pemotor itu dan mereka terjatuh.
"Hahaha... Yedi di lawan, nggak sadar dia cuma pake motor roda dua, coba roda tiga, nggak bakalan jatuh tuh," ucap Yedi terkekeh.
Salah satu motor yan di belakang melaju, dan menyalip mobil mereka lalu memelankan mobilnya di depan mobil Syafiq lalu mengeremnya.
Mobil Syafiq juga ikut berhenti. Para pemotor itu turun dari motornya dan menghampiri mobil Syafiq dan Yedi.
"Kamu duduk di dalam saja ya, jangan keluar," ucap Syafiq.
Sahara mengangguk ketakutan.
Syafiq pun keluar dari mobil dan berdiri di depan mobilnya.
"Kalian punya masalah apa dengan ku?" tanya Syafiq.
"Kami di suruh oleh seseorang yang menghancurkanmu, hanya saja tidak menyangka jika kepalamu harganya sangat mahal, makanya kami menyetujuinya," ucap pria itu memukul-mukulkan balok baku ke tangannya.
"Berapa harga kepala ku yang dia tawarkan?" tanya Syafiq.
"Itu bukan urusanmu, orang mati tidak perlu tau," ucap pria itu.
"Aku bisa membayar 10x lipat dari harga kepalaku, asalkan kalian bisa mengambil kepalanya," tawar Syafiq.
Mereka saling berpandangan.
"Apa kau yakin? Harga kepalamu seharga 10 milyar, DP-nya 3 milyar, apa kau sangup membayarnya 30 milyar untuk DP-nya saja?" tanya Pria itu.
"Heh, aku akan memberimu 100 milyar sebagai Dp-nya, setelah selesai, aku bisa membayar 500 milyar sebagai uang penyelesaiannya, bagaimana?" tanya Syafiq bernegoisasi.
"Kau jangan membual, mana uangnya? Tunjukkan dulu uangnya, baru aku akan percaya," ucap pria itu.
"Yedi, ambilkan uangnya," pinta Syafiq.
"Baiklah," ucap Yedi keluar dari mobilnya. Namun Yedi di halangi oleh beberapa orang.
"Biarkan dia," ucap pria itu kepada temannya.
Yedi pun membukan bagasi mobil Syafiq dan mengambil 1 tas penuh dengan uang lalu meletakkan di hadapan Syafiq.
"Masuk mobil," ucap Syafiq berbisik ke pada Yedi.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
terima kasih