
"Oke, semuanya udah selesai, ini sudah aman, nggak perlu khawatir di bobol lagi," ucap Syafiq.
"Jika begitu terima kasih ya Syafiq, kamu emang penyelamatku, lain kali aku traktir kamu makan," ucap Jelita senang.
"Udah, nggak usah masa perempuan yang traktir laki-laki," ucap Syafiq menolaknya.
"Udah nggak apa-apa, sekali-sekali aja kok lagian kamu juga udah sering ngasih uang sama aku, aku jadi nggak enak hati sama kamu," ucap Jelita tersenyum.
"Baiklah jika kamu memaksa," jawab Syafiq menerimanya.
"Ini sudah jam 21:20 menit, udah malam, pulang yuk," ajak Jelita.
"Ayo, aku juga lelah," ucap Glinda.
Mereka pun pulang dan Tedi pulang ke rumah karena di telpon ibunya untuk jaga rumah lantara orang tuanya pergi ke rumah saudaranya yang lain.
"Ya udah aku pulang dulu," ucap Yedi.
"Oke!" angguk Syafiq.
Dan mereka pulang berbeda arah.
Sesampainya di rumah 4 gadis itu menghempaskan tubuhnya di sofa karena sangat lelah. Syafiq juga ikut duduk di sofa.
"Maaf ya gara-gara masalah perusahaanku kalian juga ikut capek," ucap Jelita merasa bersalah.
"Udah nggak apa-apa, apa gunanya teman ya kan? Lagian kami juga nggak bisa bantu apa-apa, yang banyak bantu Syafiq dan Kak Glinda," ucap Sahara.
"Gimana nggak bantu, memang itu tugasku, aku akan membantu kalian sebisaku," ucap Glinda.
"Aaaaa... kak Glinda, so sweet banget," ucap Grizelda mendekat lalu memeluk Glinda.
Yang lain juga ikut memeluk Glinda. "Makasih ya kak Glinda," ucap Jelita merentangkan tangannya memeluk semuanya.
__ADS_1
"Mereka semua akur, adem lihatnya," ucap Syafiq tersenyum melihat mereka.
"Kenapa kamu senyum? Mau ikut berpelukan juga?" tanya Sahara.
"Kalau boleh," ucap Syafiq.
"Peluk sama kursi sana," sahut Glinda.
"Sadis banget sih," ucap Syafiq manyun. Ia pun berdiri. "Ya udah, aku mau tidur dulu," ucap Syafiq.
"Oke!" jawab mereka.
Syafiq pun melangkahkan kaki masuk dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang lelah.
Wush....
Suara angin berhembus kencang dan tak lama turun hujan lebat.
"Yah... hujan, lebat lagi, moga aja nggak ada petir," ucap Grizelda.
"Pake banget," sahut Grizelda.
"Sama," sambung Jelita.
Duuuuuuaaaaaarrrrrrr!
Duuuuaaaaaarrrrrrrrrr!
"Aaaaaaaaaaaaaa....," jerit mereka semua saling berpelukan.
Duuuuuaaarrrr!
Petir sekali lagi dengan kilat menyambar-
__ADS_1
nyambar.
"Aku takut banget, tidur di kamar Syafiq yuk," ajak Jelita yang saling berpelukan.
"Ya udah ayo," ajak Grizelda.
"Kalian pergi aja, aku tidur sendiri di kamar," ucap Glinda.
"Kok kakak kayak gitu, ayolah," ucap Sahara.
"Enggak, kalian pergi aja," ucap Glinda.
"Enggak apa-apa nih?" tanya Jelita memastikan.
"Iya nggak apa-apa, sana pergi," ucap Glinda melambaikan tangannya.
Ketiga gadis itu masuk dalam kamar Syafiq.
Duuuuuaaarrrrr!
"Syafiiiiiiiq!" teriak mereka yang langsung menerpa tubuh Syafiq.
"Aduuuhhhh!" teriak Syafiq kesakitan karena anunya di tindih ke tiga gadis itu.
"Syafiq kami takut," ucap Jelita yang memegang erat baju Syafiq.
"I-iya, tapi kalian turun dulu dari tubuku," ucap Syafiq menahan sakit.
Duuuuuuuaaaaaarrrrrr!
Mereka lagi-lagi menjerit dan saling berpelukan dan kali ini anu Syafiq mereka pegang.
"Astaga mereka ini benar-benar membuat aku nggak nyaman banget," ucap Syafiq dalam hati.
__ADS_1
"Kalian lepas dulu, kalian semua baring, kalo baring nggak akan takut lagi," ucap Syafiq.
Bersambung.