
Mereka pun memilih baju yang pas dengan ukuran tubuh mereka.
Teruma tama Yedi, dia sangat antusias saat memilih baju musim dingin.
"Wah, warna ini aku rasa sangat cocok denganku," ucap Yedi memilih mantel tebal warna oren.
"Hey! Hey! Kalau ada orang ke hausan, dia pasti akan memerasmu, karena bajumu seperti jeruk," ejek Brima terkekeh.
"Warna ini sangat keren, orang turis biasanya memakai baju dengan warna-warna yang mencolok, itu adalah khas orang-orang turis," ucap Yedi.
"Ya sudah, jika begitu kenapa kau tidak memilih yang warna pink saja," ucap Brima.
"Iya, aku akan mencari warna pink nanti," jawab Yedi.
"Astaga!! Apa yang dia pikirkan?" tanya Brima menaikan sudut bibirnya ke atas.
"Ayo Bang, abang juga pilih warna yang keren donk," ajak Yedi melingkarkan tangannya di leher Brima dan menariknya.
"Nah! ini dia, ini adalah baju khas orang turis," ucap Yedi mengambil salah satu baju yang motifnya penuh dengan bunga.
"Sini aku lihat," ucap Brima merampas dari tangan Yedi.
"Aku juga pernah lihat orang turis di televisi memakai baju seperti ini, ya udahlah aku mau satu," ucap Brima.
"2 donk, aku juga mau beli 2," ucap Yedi mengambil bajunya lagi.
Sedangkan Syafiq memikih dengan santai, ia tak terlalu antusias seperti mereka.
Lain lagi ke 4 gadis itu, mereka bahkan beli baju yang hampir sama, katanya bestie.
Syafiq sudah selesai membeli baju untuknya dan duduk di kursi tak jauh dari tempat di samping kasir untuk menunggu teman-temannya ambil bermain ponsel.
"Syafiq," panggil seseorang. Syafiq mendonggakan kepalanya melihat ke arah pemilik suara.
"Hm... kamu," ucap Syafiq mengenali orang tersebut. Dia Eilesya, anak pembisnis kaya itu.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Eil juga ikut duduk di samping Syafiq.
"Aku sedang menunggu teman-temanku," jawab Syafiq.
__ADS_1
"Oh," Eil mengangguk. "Eh, kamu belanja juga, wah banyak juga belanjaanmu," ucap Eil membuka paper bag milik Syafiq.
Syafiq menutup kembali paper bagnya karena Eil setelah membuka tidak menutupnya.
"Terus di mana teman-temanmu?" tanya Eil antusias.
"Mereka masih asik memilih pakaian," jawab SYafiq.
"Oh, kamu belanja banyak seperti ini apa belanja bulanan?" tanya Eil.
"Tidak, aku mau pergi keluar negeri," jawab Syafiq.
"Oh, ngapain?" tanya Eil.
"Ada urusan," jawab Syafiq singkat dan ia kembali melihat ponselnya.
"Hm... ke negara mana?" tanya Eil.
"Negara M," jawab Syafiq.
"Aku juga mau ke negara M, kamu kapan perginya?" tanya Eil dengan pertanyaan yang tak ada habisnya.
"2 hari lagi," jawab Syafiq.
"Hm Boleh," angguk Syafiq.
"Baik, aku tunggu di bandara ya, kamu harus janji tunggu aku juga," ucap Eil tersenyum senang.
Syafiq hanya diam tak menyahutinya.
"Kamu ke sini mau ngapain?" tanya Syafiq melihat kursi yang di duduki Eil.
"Ya belanja bajulah, persiapan untuk pergi ke negera M," ucap Eil tertawa renyah.
"Pergilah sekarang, nanti mallnya keburu tutup," ucap Syafiq melihat arloji di tangannya.
"Iya, temani aku yuk," ajak Eil.
"Hey! Hey! Ngapain kalian di sin berduaan?" tanya Yedi melihat Syafiq dan Eil duduk berdekatan.
__ADS_1
"Eh kamu, temannya Syafiq 'kan, senang bertemu kalian, wah banyak sekalu barang belanjaan kalian, aku saja belum beli apa-apa," ucap Eil.
"Ya udah sana kamu beli, jangan godain pacar orang donk," Ucap Yedi.
"Ih! Mulutmu ketus banget sih, kita semuanya 'kan teman," ucap Eil.
"Iya, kita semua adalah teman, kamu kok sensi banget sih sama dia," ucap Brima membela Eil.
"Syafiq, siapa dia?" tanya Sahara melihat wanita di samping Syafiq.
"Perkenalkan, aku Eilesya, teman satu lokal sama Syafiq," ucap Eil memperkenalkan diri.
"Oh, aku Sahara, pacar Syafiq," ucap Sahara memperkenalkan diri, namun ia tampak tidak senang.
"Oh, semoga kita bisa jadi teman ya," ucap Eil.
"Syafiq, kamu udah bayar belanjaanmu?" tanya Sahara tidak mempedulikan Eil berbicara.
"Udah, ayo aku bayarin belanjaan kalian," ucap Syafiq.
Sahara merangkul tangan Syafiq membawanya ke meja kasir.
"Ya udah kami pergi dulu ya," ucap Brima kepada Eil.
"Iya, selamat bersenang-senang," jawab Eil tersenyum manis sambil melambaikan tangannya.
Mereka pun semuanya pergi, seketika wajah Eil yang tadinya tersenyum manis, tiba-tiba merubah air wajahnya menjadi cemberut
"Genit," ucap Grizelda.
"Kamu ngapain sok-sok'an ramah sama dia," ucap Glinda tak suka.
"Ya kita memang harus ramah sama semua orang, karena kerjaan kita untuk mengayomi masarakat," ucap Brima.
"Jangan belagu deh kamu, aku nggak suka sama dia," ucap Glinda.
"Ya terserah kamu deh," ucap Brima
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih