
50 menit, mereka sampai di pusat kota.
Syafiq memelankan laju mobilnya dan melihat-lihat perusahaan yang mereka cari.
"Eh... sepertinya di depan itu ya," ucap Sahara menujuk ke sebuah gedung 5 lantai tersebut.
"Tempat ini tidak tinggi, namun termasuk perusahaan berpengaruh juga ya," ucap Yedi.
"Iya, ayo kita turun," aja Sahara.
Mereka pun semua turun dari mobil dan berkumpul.
"Menurut aku, cukup aku dan Bang Bara saja yang masuk ke perusahaan, kalian tunggu di luar saja, atau mau jalan-jalan juga nggak apa-apa, tapi jangan jauh-jauh," ucap Syafiq.
"Baiklah, selamat bekerja," ucap Yedi melambaikan tangannya.
"Ya udah, ayo kita masuk," ajak Bara.
Syafiq dan Bara masuk ke dalam perusahaan.
"Selamat datang Tuan, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu pegawai memgatup kedua tangannya.
"Iya, saya ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan ini," jawab Syafiq.
"Apa Anda sudah membuat janji?" tanya pegawai tersebut.
"Sudah," angguk Syafiq.
"Atas nama siapa?" tanya pegawai itu lagi.
"Syafiq."
"Sebentar ya Tuan, saya cek dulu," ucap pegawai itu melihat layar komputer di depannya.
Pegawai itu mengangguk.
"Baiklah Tuan, sebentar lagi pimpinan kami akan datang, silakan Anda menunggu," ucap Pegawai tersebut.
"Mari Tuan, saya antarkan di ruang tunggu," ajak salah satu pegawai itu. Mereka berdua pun mengikuti ke ruang yang sangat nyaman dan ada TV-nya.
"Silakan bersantai dulu Tuan, nanti setelah pimpinan datang, saya akan beri tahu," ucap pegawai itu.
"Terima kasih," ucap Syafiq.
Pegawai itu pun pergi dan menutup pintu.
"Gedung ini memang tidak terlalu tinggi, tapi tempat ini sangat luas," ucap Bara.
"Bang Bara sudah berapa lama Abang membangun perusahaan?" tanya Syafiq.
"Itu adalah perusahaan Ayahku, aku adalah ahli warisnya, namun aku mewariskannya sejak duduk di bangku sekolah menengah Atas," jawab Brima.
"Begitu ya, Abang sangat beruntung," ucap Syafiq.
__ADS_1
"Kamu juga sangat beruntung, di usia semuda ini sudah banyak yang sudah kamu dapatkan, kamu bukan hanya kaya, kamu juga bisa melakukan hal semua yang kamu suka dan kamu inginkan," ucap Bara.
"Tapi Abang juga bisa melakukan hal yang Abang suka," jawab Syafiq tersenyum.
"Sebenarnya baru sekarang Abang bisa bebas, Abang hanya bermain bersama teman-teman hanya saat duduk di bangku sekolah dasar kelas 4. Dan sejak saat itu, Abang sangat jarang bermain bahkan boleh di katakan teman dekat Abang tak punya, Abang hanya terus-terus belajar dan mengikuti les, dengan niat agar perusahaan Ayah tidak jatuh di tangan orang lain. Dan akhirnya perusahaan itu resmi menjadi milik Abang," ucap Bara panjang lebar.
"Tapi… bukannya setiap pembisnis akan di jodohkan dengan anak pembisnis lainnya?" tanya Syafiq.
"Kamu benar, aku memang sempat di jodohkan oleh anak rekan kerja Ayah, namun aku tidak mau, aku ingin .encari seseorang yang aku sukai, aku sempat di beri obat perangsang oleh ibuku karena ibu sangat menyukai gadis itu, tapi untungnya aku sempat melarikan diri. Sampai aku ketemu Jelita, karena orang tuaku tahu jika Jelita adalah ceo perusahaannya dan akhirnya mereka menyetujui kami, meskipun aku belum menyatakan perasaanku dengan resmi," ucap Bara.
"Tenang saja, jika Abang ingin meyatakan perasaan Abang dengan resmi, aku akan membantu membuatkan acara untuk Abang nanti," ucap Syafiq merangkul pundak Bara.
"Terima kasih ya, aku sangat senang, sekarang aku merasa punya teman," ucap Bara terharu.
"Selamat datang pimpinan," ucap pegawai itu kepada pemilik perusahaan.
Pemilik perusahaan itu hanya mengangguk.
"Maaf pimpinan, ada seseorang yang sudah buat janji dengan Anda, apa ingin menemuinya?" tanya pegawai itu kepada atasannya.
"Oh baiklah bawa dia keruangan saya, tapi saya tak bisa berlama-lama, saya masih punya urusan," ucap pimpinan tersebut.
"Baik Pimpinan, saya akan memanggilnya," ucap pegawai tersebut.
Pegawai itu menuju ke ruang tunggu.
Tok!
tok!
Tok!
"Baik," angguk Syafiq.
Mereka berdua kembali mengikuti pegawai tersebut.
"Silakan masuk Tuan, pimpinan sudah menunggu di dalam," ucap pegawai itu mempersilakan.
"Terima kasih," angguk Syafiq. "Ayo Bang," ajak Syafiq. Mereka pun masuk ke dalam.
"Apa sudah menunggu lama?" tanya pimpinan itu.
"Tidak juga, terima kasih sudah meluangkan waktu Anda untuk kami," ucap Syafiq.
"Iya," jawabnya singkat.
"Perkenalkan nama saya Syafiq dan ini teman saya Bara," ucap Syafiq memperkenalkan diri mengulurkan tangannya.
"Nama saya Andes," jawab pimpinan itu menyambut tangan Syafiq.
"Oh iya, katanya kamu yang ingin mengerjakan tugas kampus sekalian ingin mengajak kerja sama, kamu punya perusahaan apa?" tanya Andes.
"Saya hanya punya perusahaan yang menjual tas, jam tangan dan parfum branded saja, sisanya hanya usaha kecil-kecilan," ucap Syafiq.
__ADS_1
Andes mengangguk.
"Aku akan memikirkannya nanti, silakan Anda tinggalkan nomor ponsel Anda, nanti saya akan menghubungi lagi, maaf saya hari ini ada janjian, jadi tidak bisa menemani Para Tuan lebih lama lagi," ucap pimpinan itu.
"Yeni, silakan Antar para tamu ini," panggil Andes.
"Baik pimpinan," angguk pegawai itu masuk ke dalam ruangan.
"Mari Tuan, saya antar," ucap pegawai itu mempersilakan.
"Baik, Terima kasih," ucap Syafiq mengangguk. Syafiq dan Bara pun keluar dari ruangan tersebut.
"Cih, buang-buang waktu saja, hanya perusahaan kecil seperti itu ingin mengajak kerja sama, aku harus menelpon mitra kerja samaku saja, ini lebih menguntungkan," ucap Andes menelpon mitra kerja samanya.
Syafiq dan Bara pun keluar dari perusahaan tersebut.
"Kamu tau apa artinya itu?" tanya Bara.
"Iya, dia tidak ingin bekerja sama denganku," jawab Syafiq.
"Jadi apa langkah kamu selanjutnya?" tanya Bara.
"Berhubungan dia tidak ingin mengajakku kerja sama, mari buat dia menyesal," ucap Syafiq tersenyum menyengir.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Bara heran.
"Ayo ikut aku," ajak Syafiq.
Syafiq mendatangi sebuah perusahaan yang sangat kecil di antara deretan perusahaan besar di sana, gedung itu hanya punya 1 tingkat saja, Syafiq masuk ke dalamnya.
"Permisi, apa bisa aku bertemu dengan bos kalian?" tanya Syafiq.
"Saya sendiri pemilik tempat ini? Ada apa?" tanya pemilik gedung tersebut.
"Biarkan aku membeli tempat ini," ucap Syafiq.
"Berapa ingin Anda beli?" tanya pemilik perusahaan kecil itu.
"Tawarkan saja harganya," ucap Syafiq.
"1 triliun," ucap pemilik gedung itu.
"Setuju," jawab Syafiq cepat.
Pria itu ternganga tak percaya.
"Apa Anda serius?" tanya pria itu.
"Berikan nomor rekeningmu, dan juga surat kepemilikan gedung ini," ucap Syafiq.
"Baik Tuan, terima kasih banyak Tuan," ucap pemilil gedung berlari mencari sartifikat gedung tersebut.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
terima kasih.