SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 173


__ADS_3

"Lama nggak?" tanya Grizelda.


"Hm 4-5 harilah," jawab Syafiq


"Oke jadi nggak sabar mau kesana," ucap Grizelda dan Sahara gregetan.


"Aku lapar," ucap Syafiq tiba-tiba.


"Jadi?" tanya Sahara.


"Aku mau makan, kalian mau makan juga nggak?" tanya Syafiq mengeluarkan ponselnya dan ingin memesan makanan.


Ding ding


Hadiah Anda di kurang 400.000


Sisa hadiah Anda 2.000.457.000.000


"Aku mau pesan cemilan aja deh, kerupuk ikan," ucap Sahara.


"Aku juga mau kerupuk kentang," ucap Grizelda.


"Ya udah aku pesan makanan, kalian pesan sendiri," ucap Syafiq memesan makanannya.


"Gimana sih, katanya nawarin mau pesan apa," ucap Sahara manyun.


"Mana ada jual makanan cepat saji ada jualan kerupuk yang kalian minta, kalian pesan sendiri nanti biar aku yang bayarkan," ucap Syafiq.


"Lain kali kamu bukan supermarket donk, biar gampang mau pesan yang kita mau," Saran Sahara.


"Kalian mau di bikin supermarket juga? Mau bikin di mana?" tanya Syafiq.


"Di sebelah," jawab Sahara dan Grizelda bersamaan.


"Oke aku akan telpon toko bangunan agar mereka membuatkan ruko di sebelah," ucap Syafiq.


"Yeeeee.... makasih Syafiq," ucap mereka berdua bertepuk tangan.


"Untung saja tanahnya luas," ucap Syafiq.


Tuuut


Tuuut


Tuuut


"Halo," jawab pemilik toko bangunan.


"Setelah selesai pembuatan restoran, aku mau kalian buatkan supermarket, di samping perusahaan parfumku, nanti aku kasih tau tempatnya," ucap Syafiq.


"Baik Tuan, terima kasih atas pekerjaannya dan mempercayakan toko kami," ucap pemilik toko bangunan tersebut


"Iya, sama-sama," ucap Syafiq memutuskan pangilannya.


"Paket makanan," ucap kurir membawa makanannya.


"Terima kasih, sudah saya bayar lewar aplikasi ya bang," ucap Syafiq.

__ADS_1


"Ya Bang, terima kasih, silakan berlangganan lagi," ucap kurir itu mengatupkan kedua tangannya dan ia pun pergi.


Syafiq pun menyantap makanannya karena ia sudah sangat lapar.


Tak lama kurir pengantar cemilan pun datang.


"Paket makanan," ucap kurir itu.


"Terima kasih, berapa?" tanya Grizelda yang mengambil paketnya.


"200 ribu," jawab kurir.


Grizelda membayarkannya.


"Terima kasih, silakan berlanggangan," ucap Kurir itu dan ia pun pergi.


"Sebanyak ini? Nanti bikin kalian gendut," ucap Syafiq.


"Ah, hanya segini nggak akan bikin gendut, nantikan kami nggak makan nasi lagi," ucap Grizelda.


"Ya udah terserah kalian sajalah," ucap Syafiq kembali mengunyah makanannya.


Tririring


Tririring


Tririring


Ponsel Syafiq berbunyi dan ia pun mengangkatnya.


"Halo, ada apa Glinda?" tanya Syafiq.


"Kan di sana sudah ada detektifnya, kenapa menyuruhku lagi," ucap Syafiq.


"Mereka juga kesulitan menemukan pelakunya, jika di bilang pelakunya mungkin sudah kabur jauh," ucap Glinda.


"Jika kabur jauh 'kan jaringan polisikan luas, bisa di cari," ucap Syafiq.


"Nah itu dia masalahnya, pelakunya belum di temukan bagaimana kami ingin mencarinya, jika di biar lebih lama lagi, kemungkinan besar dia sangat sulit di tangkap," ucap Glinda.


"Kan ada sidik jarinya," ucap Syafiq.


"Hanya ada sidik jari korban saja yang di temukan di senjatanya," jawab Glinda.


"Aku jadi detektif panggilan, berapa bayaranku?" tanya Syafiq.


"Jika kau berhasil menemukan pelakunya aku akan berembuk dengan komandan untuk memberimu kompensasi," ucap Glinda yakin.


"Baiklah, aku kesana sekarang, kirimkan lokasinya," ucap Syafiq.


"Oke!" jawab Glinda memutuskan panggilannya.


Tin! tin!


Pesan pun masuk, Syafiq melihat lokasi terkininya.


"Hay ledis, aku pergi dulu ya, selamat bekerja," ucap Syafiq.

__ADS_1


"Iya, semoga berhasil," ucap Sahara.


"Oke!" jawab Syafiq melangkahkan kakinya menuju lokasi yang di kirim Glinda.


Tak berapa lama sampailah Syagiq di tempat kejadian perkara, dan di sana sangat ramai oleh beberapa polisi, petugas forensik dan para warga lainnya beserta teman dari si korban.


Syafiq mendekati Glinda dan melihat bekas korban yang di garis polisikan.


"Bagaimana? Apa ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Syafiq.


Glinda mengeleng. "Itu adalah teman mereka semua, salah satu di antaranya pacarnya tapi hanya 1 temannya yang tidak hadir, mereka mengira dialah pelakunya, salah satu warga melihat dia keluar dari rumah tersebut dan sekarang dalam kejaran polisi," ucap Glinda.


Syafiq melihat wajah para temannya itu ada 7 orang dan semuanya menangis bersedih.


"Bisa kau ceritakan kronologisnya sedikit?" tanya Syafiq.


"Salah satu warga melihat seorang pria masuk ke dalam rumah tersebut dan terdengar teriakan, sepertinya mereka bertengkar hebat. Tak lama kemudian ia keluar namun tidak ada bekas darah, mungkin mereka berpikir jika dia menghapus sidik jarinya dan hanya meninggalkan sidik jari korban agar terlihat seperti korban bunuh diri, Namun pacarnya bilang ia tak punya tak punya alasan jika ia bunuh diri karena mereka sebentar lagi akan bertunangan jadi mereka semua mengira jika pelakunya adalah dia karena dari beberapa hari mereka sering slek dan tidak tahu apa penyebabnya saat ini, aku harap kamu bisa mengunkapkan biar semuanya tidak ada tabir penutup kejahatan karena semua polisi juga masih bingung dengan permasalah ini dan kedua detektif itu juga masih bingung," ucap Glinda panjang lebar.


"Baiklah, bisakah kau bawakan mereka padaku, aku akan menanyai mereka satu persatu," ucap Syafiq.


"Tidak masalah," ucap Glinda.


Ding ding


Misi baru


Temukan pelaku utama dalam kejahatannya


Hadiah 40.000.000.000


"Aku sudah dapat 40 milyar, tidak perlu mibta kompensasi lagi dengan mereka," ucap Syafiq.


Glinda pun membawa mereka 7 orang itu di hadapan Syafiq.


"Oh kamu detektif selanjutnya?" tanya seorang pria mendekat, dia adalah detektif swasta yang di sewa oleh salah satu polisi.


"Aku bukan detektif, aku hanya ingin membantu saja," ucap Syafiq.


"Kami yang detektif saja sangat sulit menemukan bukti pelaku kejahatannya, apa lagi kamu yang bukan detektif," ucap pria itu.


"Aku berharap jika keberuntunganku akan datang padaku hari ini," jawab Syafiq.


"Lebih baik kamu mundur saja dari pada buang-buang waktu, dan panggil detektif yang lain saja," ucapnya tak suka.


"Harap tenang dia adalah detektif yang saya panggil, harap menghargai keputusan saya," ucap Glinda menatap tajam 2 orang pria itu.


"Baiklah, baiklah, semoga keberuntungan berpihak padanya hari ini," ucap mereka manyun.


"Silakan detektif Syafiq," ucap Brima.


Brima dan Glinda menjaga Syafiq agar introgasinya berjalan lancar.


"Kalian silakan perkenalkan nama kalian," ucap Syafiq.


"Saya Lia pacarnya Rendi, umur 24 tahun beberapa hari lagi kami akan menikah, kedatangan kami ke sini adalah untuk penentuan hari pertunangan kami," ucap Lia.


"Saya Keiza, teman Lia umur 23 tahun."

__ADS_1


"Saya Fizan teman Rendi, umur 27 tahun."


Bersambung


__ADS_2