SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 265


__ADS_3

Koki itu pun membuat jus untuk Grizelda dan kemudian mengantarnya.


"Silakan Nona," ucap kepala koki.


"Terima kasih pak koki," ucap Grizelda tersenyum.


"Sama-sama," angguk kepala koki kembali ke dapur.


Para pengunjung berdatangan karena ingin melihat sanset.


"Waw… tempatnya sangat cantik ya, sebentar lagi mata hari akan tenggelam, moment yang sangat pas," ucap salah satu pengunjung.


Tak lama kemudian tempat itu di serbu pengunjung.


"Ya udah kak, balik ke villa saja yuk," ajak Grizelda.


"Ayo, kakak juga mau mandi," ucap Jelita berdiri dan mereka pun beranjak dari tempat duduknya menuju villa.


"Silakan Nona, Tuan," ucap pegawai restoran itu ramah.


"Mbak, kalo boleh tau villa itu di sewakan nggak?" tanya pengunjung itu menunjuk ke arah Vila Syafiq.


"Hm sepertinya tidak Nona, karena di sana sudah banyak penghuninya," jawab pelayan itu.


"Oh begitu ya, lebih bagus lagi jika ada penginapan di sini," ucap pengunjung itu.


"Baiklah Nona, akan saya sampaikan kepada pemilik restoran, mana tau dia ingin membangun tempat penginapan di sini," ucap pelayan tersebut.


"Baiklah, terima kasih," ucap pengunjung itu menganduk-aduk minumannya.


Sekitar pukul 18:35, Syafiq dan yang lainnya bangun, mereka bangun bersamaan.


"Astaga!! udah jam 18:36 wib rupanya," ucap Yedi terbelalak.


"Biasa aja kali, kalau kamu bangunnya lusa baru kamu terkejut," ucap Syafiq duduk di ranjang lalu berdiri mengambil handuk lalu masuk kamar mandi.


"Kalo lusa aku bangun koma donk," ucap Yedi yang juga mengambil handuknya lalu masuk ke kamar mandi.


"Hey ngapain masuk berdua di kamar mandi?" tanya Brima yang juga baru bangun.


"Yeeee… aku mau pup tau," ucap Yedi menuju kloset.


"Oh, kirain kalian mau mandi bareng, aku ikut ah," ucap Brima.


"Sttttoooopp!" teriak Yedi dan Syafiq bersamaan.


"Kenapa? Kalian malu ya, punya kita 'kan sama aja 'kan," ucap Brima.


"Aku sungguh tak sanggup melihatmu abang," ucap Yedi menutup wajahnya dengan jari-jari yang terbuka lebar.


"Kenapa? Kalian malu ya karena punya kalian sebesar biji jagung," ucap Brima terkekeh.


"Menghinamu sungguh terlalu Abang," ucap Yedi.


Tok!


Tok!


Tok!


"Hey! Kalian udah bangun belum!" teriak Sahara dari balik pintu.

__ADS_1


"Jangan masuuuukkk!" teriak Yedi dan Brima bersamaan sehingga Brima nyungsep di kaki Yedi berusaha untuk bersembunyi.


"Oh baiklah, kalau sudah bangun kami tunggu di bawah," ucap Sahara.


"Ya, pergi sekarang!" teriak Brima.


Yedi dan Brima saling berpandangan. "Apa dia sudah pergi?" tanya Brima.


"Sudah, kalian ngapain gitu?" tanya Syafiq.


"Pacarmu itu, sempat dia melihat anu ku, cinta ku bakalan tak di terima oleh Glinda karena sudah di lihat orang lain," ucap Brima.


"Glindanya aja entah mau entah tidak jika dia benar-benar melihat punya Abang," ucap Syafiq.


"Menghinamu sungguh terlalu Syafiq," ucap Brima.


"Udah sana mandi, udah di tungguin tu," ucap Syafiq melilit tubuhnya dengan handuk dan keluar dari kamar mandi.


"Wah… tubuh Syafiq sixpack sekali, jika aku wanita, aku sudah meleleh melihat tubuhnya," ucap Yedi.


"Itu bukan sixpack, tapi eightpack," ucap Brima terkekeh. "Tapi ngomong-ngomong pup mu busuk juga ya," ucap Brima menuju shower.


"Tubuh Syafiq yang bagus aja pupnya busuk," ceketuk Yedi.


"Astaga!! mereka ini, di kamar mandi pun malah nyeritain aku," ucap Syafiq sambil memilih baju untuk di pakai.


Di kamar mandi Brima dan Yedi main siram-siram air. Karena Yedi terus di siram oleh Brima dengan shower.


Yedi menjadi geram, ia pun mengambil pupnya dan melempar ke arah Brima dan menempel di tubuh dan wajah Brima.


"Yediiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!! Kurang ajar kauuuuuuuu!!!" teriak Brima celemotan.


Yedi langsung keluar dari kamar dan masuk kamar kosong di sebelahnya untuk mandi dan bersih-bersih.


Syafiq turun ke retorannya yang penuh dengan pengunjung, malam yang indah dengan angin sepoi-sepoi menghembus dan terangnya lampu restoran membuat tempat menjadi indah.


"Kalian sudah makan?" tanya Syafiq menghampiri 4 gadis yang tertawa bercanda sambil menatap luasnya laut.


"Hm belum, nungguin kalian," ucap Sahara.


"Ya udah pesanlah, kita duduk di sini," ucap Syafiq.


"Orang dua itu di mana?" tanya Glinda.


"Mereka sedang mandi," ucap Syafiq.


"Oh," jawab Glinda mengangguk.


"Dita, sini," panggil Sahara kepada salah satu karyawan.


"Baik Non," angguk pelayan yang di panggil Dita itu datang.


"Biasa ya," ucap Sahara.


"Baik Nona," ucap Dita kembali ke restoran dan memesankan pesanan Sahara.


Brima pun turun dan menghampiri Teman-temannya sambil mencium tangannya dan bajunya.


"Bau lagi nggak?" tanya Brima mendekatkan lengannya kepada Syafiq.


"Hm… tidak," geleng Syafiq.

__ADS_1


"Kurang ajar si Yedi, buat ngilangin baunya aja habis shampo 1 botol sama sabun mandi 3 cair 3 botol," ucap Brima kesal.


"Kenapa emangnya?" tanya Glinda penasaran.


"Itu…" cepat-cepat Brima menutup mulut Syafiq.


"Bukan, bukan apa-apa," jawab Brima mengeleng sambil tersenyum.


Glinda mendekati Brima sambil mengendus-endus Brima.


"Hm… jangan-jangan kalian main muncratin ****** ya?" tebak Glinda.


"Astaga!! Jangan pikir yang aneh-aneh donk Glinda, aku orangnya mana begitu," jawab Brima cepat sambil melambaikan tangannya.


"Awas saja ketahuan," ucap Glinda.


"Nggak berani," ucap Brima ketakutan.


Yedi pun turun sambil senyam-senyum.


"Ini nih pelakunya," ucap Brima yang bersiap menamplok Yedi.


"Makanannya datang," ucap Dita membawa napan berisi makanan.


"Terima kasih," ucap Sahara dan Grizelda bersamaan.


Dita pun meletakkan makanan di atas meja, kursi mereka tersusun menghadap laut yang di sediakan oleh pelayan lain khusus untuk mereka.


"Maaf Tuan, ada salah satu pengunjung bertanya, apa villa yang di tempati Tuan di sewa?" tanya Dita kepada Syafiq.


"Tidak, tapi nanti aku akan buat hotel di sebelah sana jika ada yang ingin menginap," ucap Syafiq.


"Baiklah Tuan, akan saya sampaikan kepada pengunjung itu," ucap Dita.


Syafiq mengangguk.


Mereka pun menyantap makanannya.


Tririring


Tririrng


Tririrng


Ponsel Jelita berdering.


"Halo Bara," jawab Jelita.


"Aku ke sana ya," ucap Bara.


"Oke," jawab Jelita tersenyum.


"Cie… sepertinya ada yang jatuh cinta nih," ucap Sahara menyenggol Jelita.


"Ah biasalah itu," jawab Jelita tersenyum dan kembali memegang pisau dan garpunya.


"Aku harap, yang belum jadian semoga cepat jadiaan, Aamiin," ucap Sahara.


Mereka melanjutkan makan malamnya.


Bersambung

__ADS_1


jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih


__ADS_2