
"Syafiq, kamu nggak kenapa-napa 'kan?" tanya Sahara melihat robekan bajunya.
"Tidak apa-apa kok," jawab Syafiq.
"Ini buk dompet Anda," ucap Brima menyerahkan kepada seorang ibu yang sedang kebingungan.
"Terima kasih, terima kasih sudah menemukan dompet saya," ucap ibu itu.
"Sama-sama, lain kali simpan di tempat yang aman ya buk agar tidak hilang, tapi sebenarnya dompet ini bukan di temukan, tapi di curi oleh seseorang dan teman saya yang sudah mengambilnya dari tangan pencuri itu," ucap Brima.
"Benarkah? Maaf sudah merepotkan teman Anda, saya ingin bertemu dengan teman Abda Tuan, apa dia masih di sinj?" tanya ibuk itu.
"Itu orangnya yang memakai kaos putih yang robek itu," ucap Brima menunjuk ke arah Syafiq.
Syafiq mengelengkan kepalanya ke arah Brima, namun ibu itu berlari ke arah Syafiq.
"Terima kasih Tuan, terima kadih banyak atas bantuan Anda, sebagai gantinya saya akan memeberikan beberapa lembar uang ini," ucap Ibu itu membuka dompetnya dan mengambil uang tersebut dan mengukurkan ke arah Syafiq.
"Saya terima niat baik Anda, tapi saya tidak bisa menerimanya," ucap Syafiq.
"Kenapa Anda tidak menerimanya, apa karena kurang, dan ini saya tambahkan lagi," icap obu itu mengambil beberapa lagi.
"Karena Anda lebih membutuhkan," ucap Syafiq.
Ibu itu langsung terdiam.
"Simpan saja uangnya untuk kebutuhan sehari-hari Anda, saya tidak menerimanya," ucap Syafiq.
"Baiklah jika begitu, sekali lagi terima kasih," ucap ibu itu membungkukn badan beberapa kali.
'' Iya, sama-sama," angguk Syafiq. Ibu itu pun pergi kembali membawa barang belanjaannya.
"Ya udah, ayo kita lanjut lagi," ajak Syafiq.
Mereka kembali mealanjutkan perjalanannya mencari hotel tersebut.
"Itu dia hotelnya, akhirnya sampai juga," ucap Jelita.
"Iya, aku mau makan juga," ucap Grizelda.
"Tadi bukannya kamu sudah makan banyak, nanti jadi gendut lho," ucap Yedi.
"Hidup itu untuk makan, kalo nggak makan aku nggak bisa hidup," ucap Grizelda.
Sesampainya di sana, Syafiq dan yang lain menghampiri salah satu pegawai yang bekerja di sana.
"Saya mau pesan kamar," ucap Syafiq.
"Berapa kamar yang Anda butuhkan Tuan?" tanya pegawai itu.
Syafiq melihat ke arah mereka.
"Satu kamar bisa untuk 2 orang," ucap pegawai itu.
"Baiklah, kami mau 4 kamar," ucap Syafiq.
"Baik Tuan, untuk berapa hari?" tanya pegawai itu.
"1 minggu," jawab Syafiq.
"Baik, untuk satu kamar perharinya 2.000.000, untuk satu kamar 1 minggunya 14.000.000, untuk 4 kamar 1 minggunya, 56.000.000," ucap pegawai itu.
"Baiklah, biar aku yang bayar," ucap Syafiq mengeluarkan kartu ATM-nya.
"Kamarku dan kamar Jekira, aku yang bayar," ucap Bara.
"Udah, nggak usah, aku yang bayar. Pegang tangannya," perintah Syafiq kepada Yedi dan Brima untuk memegang tangan Bara agar dia tidak membayarnya.
__ADS_1
Syafiq mengesek ATM-nya di mesin pembayaran.
Pembayaran berhasil✔
Ding ding
Hadiah Anda di kurang 56.000.000
Hadiah Anda menjadi 7.020.794.000.000.
"Ini Tuan kartu pembuka pintu kamarnya," ucap pegawai itu.
Syafiq menerimanya.
"Sudah aku bayar, ayo kita ke kamar," ajak Syafiq.
"Ini di lepaskan nggak?" tanya Yedi yang masih memegang tangan Bara.
"Kalu mau di pegang terus," ucap Syafiq.
"Astaga! Kalian ini," ucap Bara.
Mereka pun masuk di kamarnya, Brima bersama Bara, Yedi bersama Syafiq, Sahara bersama Grizelda, Jelita bersama Glinda.
"Huh! Sungguh melelahkan, tapi di sini cantik banget, ada kolam renangnya juga, aku jadi ingin mandi," ucap Sahara menonggolkan kepalanya dari jendela.
"Ayok," ajak Grizelda bersemangat.
Mereka pun ganti baju minim, tapi tidak terlalu pendek.
Tok!
Tok!
Tok!
"Ayo ke kolam renang," teriak Sahara.
"Iya, ini juga lagi siap-siap," ucap Glinda.
Pintu pun terbuka.
"Ayo," ajak Jelita.
"Ini kenapa seperti baju tidur ya," ledek Sahara.
"Ih, ini emang baju tidur," jawab Jelita.
"Jadi kakak mau berenang apa mau tidur sih," celetuk Grizelda.
"Berang sambil tidur," ucap Jelita.
"Ya udah deh Terserah dia," sahut Glinda.
Mereka pun menuju kolam renang, untungnya di sana tidak ada orang yang berenang.
"Wah… aku merasa hidup kembali," ucap Jelita.
Mereka berendam dan berenang sepuasnya.
"Apa Anda ingin makan dan minum sesuatu Nona?" tanya salah satu pelayan yang tiba-tiba nongol.
"Hm… aku mau jus jeruk," ucap Sahara.
"Aku mau jus alpukat," sahut Griezelda.
"Aku mau jus belanda," ucap Jelita.
__ADS_1
"Aku mau es teh manis hangat," sahut Glinda.
Mereka semua tertawa termasuk pelayan tersebut.
"Ada apa kalian tertawa?" tanya Glinda heran.
"Apa karena ke seringan bekerja kakak jadi heng?" tanya Grizelda terbahak-bahan.
"Ternyata pergi ke sini adalah tempat yang tepat untuk kakak healing untuk menghilang stres karena terus melihat kriminal di negara kita," ucap Jelita.
"Benar, untunglah Syafiq mengajak kita jalan-jalan sehingga pulang nanti kakak bisa kembali bekerja," jawab Sahara yang masih tertawa.
"Kalian kenapa sih?" tanya Glinda yang belum mengerti.
"Kaka pesan apa sih? Es teh manis, apa teh manis hangat?" tanya Sahara.
"Emangnya aku tadi pesan apa?" tanya Glinda tak sadar.
"Kakak itu tadi pesan ES TEH MANIS HANGAT," ucap mereka bersamaan.
"Oh iya kah? Kalau gitu aku pesan jahe susu hangat," ucap Glinda.
"Nah, ini baru bener," ucap Sahara.
"Kalian malah mengejekku," ucap Glinda manyun.
"Apa ada yang ingin di pesan lagi?" tanya pelayan itu.
"Kek rasa strawberry," ucap Sahara.
"Iya, pesan itu semuanya," ucap Glinda.
"Baiklah, harap menunggu," ucap pelayan tersebut dan ia pun pergi.
"Hey! Awas!" teriak Syafiq dari lantai 2 terjun ke kolam renang dari jendela.
Byurrrrr!!!!!
"Syafiiiiiiiqqqq!" teriak Glinda dan Jelita geram.
"Maaf, maaf, maaf, tapi seru juga," ucap Syafiq.
Byurrrr!!!
Kali ini Yedi yang terjun. Sedangkan Brima dan Bara mereka cari aman saja, keluar dari pintu.
"Kamu juga ikut-ikutan!" ucap Glinda kesal.
Yedi hanya cengengesan.
"Besok kamu mau ke mana?" tanya Brima kepada Syafiq.
"Ke perusahaan QR," ucap Syafiq.
"Oh ngapain?" tanya Bara.
"Aku kemaren sempat mengirim pesan pertemuan untuk hari besok, aku ingin menyelesaikan tugas kampus, jika ada kesempatan aku ingin mengajak kerja sama dengan perusahaan itu," ucap Syafiq.
"Setahuku perusahaan itu bergerak di bidang disainer ya, perusahaan besar itu biasanya hanya bekerja sama dengan perusahaan sejenisnya, tapi apa kamu punya perusahaan seperti itu?" tanya Bara.
"Aku bahkan tidak punya perusahaan, aku juga tidak tahu permintaanku itu di terima," ucap Syafiq mengangkat bahunya.
"Benarkah? Ini sangat heran jika mereka menerima seseorang yang ingin mengajak kerja sama tanpa perusahaan," ucap Bara berpikir.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
terima kasih