
"Orang tuaku di butakan oleh uang pria tua itu, aku sendiri tidak tahu dari mana mereka mendapatkan pria itu, tiba-tiba saja ia datang bersama 2 istrinya ke rumah dan melamarku. 3 hari lagi adalah hari pernikahanku, jika sudah hari itu maka sudah hancurlah hidupku," ucap gadis itu.
"Jadi ini masalah uang? Apa kamu sudah mengatakan jika kamu tidak mau menikah dengan pria itu?" tanya Syafiq.
"Sudah, tapi mereka tetap memaksaku, hari ini aku berhasil keluar karena di sekap oleh orang tuaku agar aku tidak kabur di hari pernikahan nanti. Itu gara-gara 100 juta dan sebuah mobil mewah, aku di jual kepada pria yang beristri dua dan aku menjadi istri ke tiga. Orqng tua tega mengorbankan kebahagiaanku, dia bilang ini sebagai tanda terima kasih ku karena mereka sudah merawatku sedari kecil, apa yang harus aku lakukan? Satu-satunya cara adalah aku harus bunuh diri, aku lebih baik mati dari pada menikah dengannya," ucap gadis itu.
"Sudah aku katakan, mati bukan masalah, tapi jika seandainya kamu membawa uang dari luar, apa orang tuamu tetap menikahkan kamu?" tanya Syafiq.
"Maksud dari uang luar?" tanya gadis itu tak mengerti.
"Maksudnya uangnya dariku, apa orang tuamu tidak akan menikahkanmu?" ulang Syafiq.
"Tidak tau, yang pasti orang tua ku menginginkan uang," ucap gadis itu.
"Hm… begini, aku akan beri kamu uang dan juga kamu bisa beli mobil, kami akan ke sana untuk membantumu, bilang sama orang tuamu jika kamu uang dan mobil ini hasil pinjaman dariku. Semuanya serahkan padaku," ucap Syafiq.
"Tapi Tuan apa tidak apa-apa membantuku seperti ini? Jadi bagaimana aku akan membayarnya?" tanya Gadis itu.
"Tidak apa-apa, Kamu tidak perlu membayarnya, kamu bilang saja minjam," ucap Syafiq.
"Terima kasih Tuan, terima kasih semuanya," ucap gadis itu terharu.
Makan pun datang.
"Sialakan Nona, silakan Tuan di nikmati," ucap pelayan itu meletakkan makanannya di atas meja.
"Makan dulu, nanti untuk menjelaskan kepada keluargamu juga butuh tenaga," ucap Syafiq.
"Terima kasih," ucap gadis itu. Karena kelaparan, ia pun memakan makanannya dengan lahap.
Syafiq memegang tangan Sahara.
"Tidak apa-apa 'kan aku membantunya?" tanya Syafiq.
"Ya tidak apa-apa, apa pun yang kamu lakukan aku mendukungmu," ucap Sahara tersenyum.
Setelah selesai makan, mereka pun berangkat berangkat menuju bank.
Syafiq menarik uang tunai dan memasukkan uang ke dalam tas dan dan memasukkan ke dalam bagasi mobilnya.
Uang tunai persiapan guna untuk jika ia tak bisa mengunakan kartu ATM dan pembayaran lewat rekening.
Mereka pun langsung berangkat menuju rumah gadis tersebut.
Sesampainya di sana, orang tua gadis itu, pria tua dan kedua istrinya berkumpul di rumahnya.
Mereka tampak bersiap-siap untuk mencari gadis yang kabur itu.
Mobil Syafiq masuk ke perkarangan rumah tersebut dari arahan sang gadis.
__ADS_1
"Siapa itu?" tanya bapak gadis itu melihat banyak mobil yang datang ke rumahnya.
Mereka semua keluar dari rumah dan berdiri di terasnya, termasuk pria tua bangka itu.
Syafiq dan yang lain keluar dari mobil. sedangkan Sahara memeluk gadis itu.
"Ternyata kamu! Pergi ke mana kamu!" teriak bapaknya menarik tangan anak gadisnya dengan marah.
Syafiq menghalangi sang bapak tersebut. "Bolehkah kita bicara pak?" tanya Syafiq.
"Apa maksudmu menghalangi saya, dia anak saya, kamu jangan ikut campur," ucap bapak itu marah.
"Aku tidak mau menikah dengannya Ayah," ucap gadis itu menangis sambil memeluk Sahara.
Adik perempuan gadis itu juga ikut menangis dan memeluk kakaknya.
"Kakak," ucap adiknya.
"Kakak baik-baik saja," ucap gadis itu mengelus kepala adiknya.
"Kamu cepat masuk rumah!" bentak bapak itu kepada adik gadis itu.
"Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur, tapi bisa kah kita bicara baik-baik," ucap Syafiq.
"Tidak Ada yang perlu di bicarakan, kaluan lebih baik pulang, jangan ikut campur masalah ini jika tidak mau kena akibatnya," ancam bapak itu.
"Jika saya memberikan uang 100 juta, apa bapak tidak mau melepaskan anak bapak dengan kebahagiannya?" tanya Syafiq.
"Aku pinjam uang dengannya untuk membeli kembali kebahagiaanku," ucap gadus itu tegas.
"Lalu bagaimana kau membayarnya hah! Lebih baik kau menikah dengannya, hidupmu bergelimang dengan harta dari pada meminjam uang dan membayar seumur hidupmu," ucap bapak itu kasar.
"Bukan hidupku yang bergelimangan dengan harta, melainkan kalian yang bergelimangan dengan harta dengan cara menjual anaknya sendiri kepada pria tua itu!" teriak anaknya tak mau kalah.
"Kurang ajar! Jaga ucapanmu!" teriak bapak itu ingin menampar anak gadisnya, namun Brima memegang tangan bapak itu menghalanginya.
"Saya polisi" ucap Brima menunjukkan kartu identitasnya kepada bapak itu. "Jika bapak menamparnya ini adalah kekerasan pada anak, kami akan membawa bapak ke kantor polisi dalam upaya perlindungan pada anak, sebelum itu terjadi, lebih baik kita bicara dengan kepala dingin," ucap Brima.
"Apa mau kalian? Tidak seharusnya kalian orang luar ikut campur masalah keluarga kami" ucap bapak itu.
"Ini memang keluarga Anda, tapi ada anak yang teraniaya oleh perbuatan Anda, kami ingin meluruskan masalah ini," ucap Syafiq.
"Dia membayar hutang denganmu, apa itu lebih teraniaya, jika dia menikah dengannya dia bisa hidup enak tanpa memikirkan hutang," ucap Bapak itu.
"Aku lebih baik membayar hutang seumur hidupku dari pada menikah dengan pria tua bangka yang menjijikan itu," ucap gadis itu memanas.
"Kamu!" ucap bapaknya geram.
"Sudahlah pak, kita cari jalan keluarnya dulu," ucap sang ibu.
__ADS_1
"Asal kamu tahu, bapak lakukan ini demi ibumu, dia sakit dan harus di operasi, di mana kita akan mencari uang untuk biaya operasinya, kamu harus ngerti itu," ucap sang bapaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau iya pun untuk pengobatan ibu, lalu kenapa kalian meminta mobil juga, apa untuk biaya pengobatan ibu juga dengan mobil itu!" teriak anaknya.
"Itu… itu untuk kendaraannya," ucap bapaknya menundukkan kepalanya.
"Kendaraan? Kenapa bapak tidak meminta uang saja untuk pengobatannya, kenapa harus meminta mobil pula. Dan kenapa tidak bicara kepadaku, jika untuk biaya pengobatan ibu aku bisa mencarinya, tapi kenapa kalian harus menjualku kepada dia," ucap anaknya dengan berlinangan air mata.
"Kami tidak menjual kamu nak. Kami hanya menikahkan kamu dengannya, dia juga sudah berjanji jika dia akan membiayai pengobatan ibu dan akan membahagiakanmu," ucap sang ibu menangis.
"Tapi kenapa kalian tidak bertanya padaku, apa aku bahagia atau tidak!"
"Mungkin sekarang belum, tapi setelah kamu menikah dengannya perlahan-lahan kamu akan menikmati hidupmu," jawab ibunya.
"Heh! Perlahan-lahan? Siapa yang tahu? Malah aku akan menjadi gila di buat oleh kedua istrinya itu, dan saat itu baru kalian menyesal, atau kalian tidak menyesalinnya karena kalian sudah dapat mobil mewah, atau mungkin ibu menikah dengan bapak karena bapak kaya juga, seperti kakek tua itu, ibu jadi istri yang keberapa? Apa hidup ibu juga dulu bergelimangan harta? Atau hidup luntang lantung," ucap anaknya meskipun matanya sembab tapi ia penuh dengan keemosian.
"Kamu jangan jadi anak durhaka!" bentak bapaknya.
"Cukup! Berapa biaya pengobatan Ibu?" tanya Syafiq.
"100 juta," jawab ibu.
"Jika begitu saya akan meminjamkan uang 200 juta, tapi anak bapak sebagai gantinya bekerja di restoran saya untuk membayarnya," ucap Syafiq.
"Aku tidak akan melepaskannya begitu saja, aku akan membayarnya 300 juta," ucap kakek tua tak mau kalah.
"Aku akan meminjamkannya 500 juta" ucap Syafiq.
"Aku akan membayarkannya 550 juta," ucap kakek itu.
"Aku akan meminjamkan 700 juta," jawab Syafiq.
"Aku akan membayarnya 800 juta," sahut sang kakek.
"Aku akan meminjamkan 1 milyar," jawab Syafiq.
"Aku… aku akan membayarnya 1,1 milyar," jawab sang kakek tertekan.
"Aku akan meminjamkan 3 milyar," ucap Syafiq.
"Aku… aku… aku akan membayar 3,1 milyar," ucap akek itu berkeringat dingin.
"Baiklah, aku akan meminjamkan uang 30 milyar," ucap Syafiq.
Kakek tua itu langsung pingsan karena syok.
"Papa, papa!" panggil kedua istrinya melihat suami jatuh tersungkur.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih.