SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 157


__ADS_3

"Sepertinya begitu," angguk Grizelda.


"Cepat cari pelayan itu," ucap Syafiq.


Para polisi itu pun mencarinya para pelayan restoran dan Glinda juga ikut mencari pelayan tersebut karena ia kenal dengan wajah pegawai yang mengantar makanannya tadi.


Akhirnya pelayan itu mereka dapatkan di dalam toilet dan membawanya keluar dan mengintrogasinya.


"Katakan! Kenapa kamu melakukannya?" tanya Brima.


"aku... aku... hanya iseng saja," ucap pegawai itu menundukkan kepala.


"Apa kamu bilang! Hanya iseng! Iseng dengan nyawa orang, jika begitu beri dia hukuman mati saja," ucap Brima kesal.


"Ampun pak, jangan hukum mati saya pak polisi, saya juga terpaksa melakukannya," ucap pegawai itu.


"Terpaksa kenapa? Apa kamu di ancam orang?" Tanya Brima lagi


"Huhuhu... saya... saya hanya di suruh," ucap pegawai itu menangis.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Brima mendekati pegawai itu.


Ia melihat sekelompok koki di sana, ada salah satu koki mengoyangkan tangannya namun di saat mereka semua melihat le araj koki itu, mereka semua terdiam, mereka jadi bingung siapa koki di antaranya yang pegawai itu lihat.


"Katakan siapa dia!" bentak Brima.


pegawai itu hanya menangis tanpa menjawabnya.


"Katakan siapa!" bentak Brima lagi.


"Dia... dia adalah itu," tunjuk pegawai itu ke arah sekelompok koki itu.


"Apa mereka semua?" tanya Glinda.

__ADS_1


Pegawai itu mengeleng sambil menangis.


"Katakan dengan jelas, siapa! Tangisanmu itu tidak membantu jawaban apa pun!" ucap Brima kesal.


"Dia," ucapnya menunjuk salah satu koki di sana. "Kak Merlin," ucapnya.


"Merlin kamu..." ucap para koki itu terputus.


"Bukan aku, sumpah bukan aku, kamu Sita jangan mengada-ada ya, kamu jangan memfitnahku, tarik kembali tududanmu," ucap koki yang bernama Merlin mendekati pegawai itu sambil menunjuk ke arahnya dan ingin menghajar Sita, namun di tahan oleh beberapa polisi itu.


"Apa kamu melakukannya?" tanya Brima.


"Tidak! Bukan aku melakukannya, Sita kamu jangan memfitnah yang bukan aku lakukan, kau yang melakukanya kenapa kau malah membawaku juga! tarik kembali ucapanmu!" teriak koki itu tak terima dan sangat marah.


Syafiq memperhatikan Merlin berbicara dengan melihat gerak geriknya saat ia marah.


"Di antara kalian lebih baik mengaku saja, jika tidak maka hukumannya akan bertambah berat," ucap Syafiq tiba-tiba.


Mereka semua melongo melihat ke arah Syafiq yang seharusnya mereka sudah tau pelakunya yang sudah berada di depan mereka, tapi kenapa Syafiq malah bertanya lagi siapa pelaku sebenarnya?


"Aku sudah melihat gerak-geriknya, ternyata dia tidak bohong jika memang bukan dia pelakunya, tapi masih ada pelaku lain yang masih bersembunyi di antara kalian," ucap Syafiq.


"Siapa?" tanya mereka satu sama lain.


"Mengaku saja, aku jamin jika mengaku sekarang maka hukumannya tidak berat," ucap Syafiq.


"Kamu juga, hukumanmu bertambah berat karena kamu menyeret orang lain yang tak bersalah," ucap Brima kepada pelayan tesebut.


"Ampun pak saya juga terpaksa," ucapnya menangis.


"Sekarang lebih baik kanu jujur saja siapa pelakunya atau hukumanmu bertambah berat," ancam Brima.


"Dia... kak Seto," jawab pelayan itu dan saat mereka melihat ke arah kelompok itu yang bernama Seto menghilang mereka pun segera mengejarnya dan mereka mendapati seto sedang melarikan diri dengan mobil, terpaksa polisi harus menggunakan senjata apinya dan menembak ban mobilnya dan tepat sasaran.

__ADS_1


Ban mobil itu meledak dan mobil pun oleng hingga menabrak pembatas jalan.


Seto keluar dari mobil dan berlari ia di kejar oleh polisi itu dan bersembunyi di belakang rumah para warga.


Saat ia ketahuan bersembunyi dan ia pun kembali di kejar oleh polisi.


"Berhenti! jika tidak kami akan menembakmu" panggil Polisi itu.


Namun Seto terus berlari tanpa mendengar peringatan dari polisi tersebut.


Dor!


Sebuah tembakan kena di kaki Seto dan ia pun jatuh tersungkur ke jalanan.


Polisi membekuknya dan kemudian membawa Seto ke tempat semula.


"Kenapa kamu lari! Karena kamu tidak mau mendengar peringatan kami, dengan terpaksa menembakmu, berarti benar ya, kamulah pelakunya," ucap Brima.


Seto hanya terdiam tanpa menjawabnya dan meringgis kesakitan.


"Jawab!" bentak Brima.


"Iya," angguk Seto dan akhirnya ia mengaku.


"Kenapa kamu lakukan itu?" tanya Brima.


"Aku ingin menjadi kepala kokinya," ucap Seto.


"Lalu kenapa dengan cara ini kamu lakukan?" tanya Glinda.


"Itu agar dia di pecat dan aku naik menjadi kepala koki," ucap Seto.


"Masih banyak cara lain yang bisa kamu gunakan, kenapa harus cara ini? Misalnya kamu bekerja lebih giat dari dia," ucap Glinda.

__ADS_1


"Percuma, dia keahlian memasaknya tidak ada yang bisa menandingi dia," ucap Seto.


Bersambung


__ADS_2