
Sesampainya di kampus.
Ding ding
Misi baru
Temukan pelaku di bukit cinta.
Hadiah 700.000.000.000.
"Pelaku? Apa jangan-jangan itu adalah manusia. Heh! Jadi ternyata itu bukan hantu ya," ucap Syafiq menyeringai.
"Ayo ikut aku," ajak Syafiq menarik tangan Sahara.
"Kita mau ke sana lagi?" tanya Sahara dengan wajah murung.
"Iya," angguk Syafiq.
"Tapi bagaimana jika bertemu hantu," ucap Sahara ketakutan.
"Tenang saja, yang melakukannya bukan hantu, kita akan temukan pelakunya," ucap Syafiq.
"Maksudmu itu adalah manusia yang melalukannya?" tanya Sahara.
"Bisa di katakan begitu," ucap Syafiq masuk ke mobilnya dan segera menelpon Yedi.
Tuuut
Tuuut
Tuuut
"Halo," jawab Yedi.
"Kamu ikut aku ke bukit cinta," ucap Syafiq.
"Kenapa kita ke sana?" tanya Yedi heran.
"Menangkap hantu," ucap Syafiq.
"Ah yang benar kamu, aku jadi merinding," icap Yedi memegang kuduknya.
"Udah, mukamu aja udah mirip hantu, ngapain kamu takut sama mereka, sejenis aja kok. Ya udah aku tunggi di parkiran," ucap Syafiq menutup panggilannnya.
Yedi pun bergegas keluar dari ruangannya dan menuju parkiran.
Tuuut
__ADS_1
Tuuut
Tuuut
"Halo," jawab Brima.
"Bagaimana Bang, apa sudah mendapatkan hasilnya?" tanya Syafiq.
"Sudah, dan ternyata itu air biasa yang di beri zat pewarna yang sangat kental," jawab Brima.
"Ayo ikut aku ke bukit cinta," ajak Syafiq.
"Lho? Ada apa?" tanya Brima.
"Ikut saja, siapa tau kita dapat sesuatu di sana, bilang sama sama momandan jika aku yang mengajak kalian," ucap Syafiq memutuskan panggilannya.
"Hey! hey! Akh... di matikan pula panggilannya, ya sudah ikut saja dia, siapa tau memang ada seauatu di sana," ucap Brima.
Brima langsung menarik tangan Glinda.
"Hey! Apa-apa'an kamu?" tanya Glinda kesal.
"Ikut aku ke bukit cinta," ucap Brima memasukkan Glinda ke dalam mobil dan langsung melaju ke jalanan.
"Ngapain kita ke sana? bukannya tadi malam kita sudah ke sana," ucap Glinda.
"Sesuatu? Apa ya?" Glinda bertanya-tanya.
Mobil mereka melaju hingga sampailah di bukit cinta.
"Siang begini kenapa tidak ada kabut?" tanya Sahara.
"Tentu saja kabutnya menghilang oleh pancaran mata hari, jika malam hari sudah tidak ada sinarnya," jawab Syafiq.
"Lalu apa yang kita lakukan di sini?" tanya Sahara.
"Kita lihat dulu, apa yang bisa temukan," ucap Syafiq.
Tak lama kemudian Mobil Brima pun sampai dan mereka keluar dari mobil.
"Apa kalian sudah menemukan sesuatu?" tanya Brima.
"Kami baru saja sampai," ucap Yedi.
"Baiklah, kita cari sesuatu, tapi apa kita akan menangkap hantu seperti di rumah gubuk reot itu?" tanya Brima.
"Kali ini beda, kita akan bertemu wujud aslinya," ucap Syafiq.
__ADS_1
"Sahara, Glinda dan Yedi, kalian tunggu di sini, kalau ada apa-apa cepat beri tahu kami," pesan Syafiq.
"Baiklah," angguk Glinda.
"Ayo Bang," ajak Syafiq, mereka pun menuju tempay di mana tadi malam Syafiq melihat warung di sana.
Di sana ada satu batang pohon yang sangat besar, di sanalah warung itu berjualan.
Syafiq melihat ke atas pohon tersebut dan ternyata sebuah warungnya ada di atas pohon yang di tutupi daun-daun pohon sehingga warung kecil itu tidak terlihat.
"Hm… pantas saja, tiba-tiba tiba-tiba warung itu menghilang, ternyata di tarik ke atas," ucap Syafiq.
"Mereka sangat pintar ya menyembunyikan dengan rapat sehingga orang-orang tak bisa menemukanya," ucap Brima.
"Iya, aku rasa jika mereka memanfaatkan kabut itu untuk menakut-nakuti orang," ucap Syafiq.
"Ayo kita naik ke atas," ajak Brima.
Syafiq dan Brima pun memanjatkan pohon tersebut.
Ketika sampai ke atas, mereka melihat banyak sekali botol yang berisi air berwarna merah.
"Inilah botol untuk menakuti orang," ucap Syafiq.
Tiba-tiba saja warung itu bergetar dan perlahan-lahan warung itu turun ke bawah.
"Eh, apa yang terjadi?" tanya Brima kaget.
"Warungnya turun kebawah, mungkin mengunakan katrol untuk menaik turunkan warung ini," ucap Syafiq.
Warung itu bergetar ketika sampai di permukaan tanah.
"Wah, ini malah seperti rumah pohon," ucap Brima mengangguk-angguk.
"Hm… tadi malam aku ada tersandung sebuh tunggul, tapi tunggul itu saat aku lihat tidak ada lagi, aku penasaran dan sangat ingin mencarinya," ucap Syafiq.
"Ayo," ajak Brima.
Mereka pun menuju lapangan di mana tempat Syafiq tersandung.
"Hm… sepertinya memang tidak apa-apa, lapangan luas dan bersih tanpa ada sampah apa lagi tunggul, apa kamu salah mengingat?" tanya Brima memastikan.
"Entahlah, tapi aku hanya ingin memastikannya saja," ucap Syafiq berjongkok di tanah.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih