
"Aku mau pulang sekarang, jika terjadi sesuatu pada Ayahku aku harus bagaimana," ucap wanita itu.
"Tante, terima kasih atas makanannya, aku pergi dulu," pamit wanita itu menundukkan kepala dan melangkahkan kaki.
"Tunggu," ujar Syafiq.
Wanita itu pun berhenti lalu membalikkan badannya.
"Mari aku antar ke rumahmu," ucap Syafiq menyeka mulutnya dengan tissu.
"Tidak apa-apa, aku pulang sendiri saja," ucapnya kembali melangkahkan kaki.
"Kau mau pulang dengan apa? Jalan kaki? Menjelang itu Ayahmu sudah babak belur," ucap Syafiq berdiri.
"Aku pamit dulu Bi," ucap Syafiq mencium punggung tangan bibi.
"Iya hati-hati," jawab Bibi.
Syafiq melangkahkan kaki melewati wanita itu dan masuk mobilnya yang di ikuti Yedi. Lalu Syafiq menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Masuk, aku akan mengantarkanmu pulang," ujar Syafiq.
Wanita itu pun masuk mobil duduk di samping Syafiq, sedangkan Yedi membawa mobilnya sendiri.
"Yedi kamu duluan saja, nanti aku nyusul," ujar Syafiq dari dalam mobil.
"Ya udah, Oke!" jawab Yedi mengacungkan jempol dan Yedi pun melajukan mobilnya menuju kampus,
"Katakan di mana rumahmu?" ujar Syafiq melihat ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Jalan gang mangga," jawab wanita itu mengengam erat tangannya.
Syafiq mengangguk mengerti dan kemudian melajukan mobilnya tapi beda arah.
"Itu... kamu tidak perlu menolongku sejauh ini," ucap wanita itu menunukkan kepala dengan meremas tangannya.
"Aku menolongmu karena hal lain," jawab Syafiq.
"Aku pikir kau bebeda. Ternyata kau sama seperti pria lainnya, karena ada maunya," ujar wanita itu dengan wajah masam sambil melihat keluar jendela.
"Apa maksudnya karena ada maunya? Aku kan menolong karena ada misi," ujar Syafiq dalam hati.
"Jika aku menolong tanpa sebab nanti kau akan jatuh cinta padaku, dan kau nanti malah menganggapku seperti super heromu," ujar Syafiq manyun.
"Mukanya tebal sekali," ujar wanita itu berbisik.
Misi baru
Membantu wanita membayar hutang
Hadih 1.000.000.000
Syafiq langsung melajukan mobilnya melesat di jalanan.
"Hey! Kau ingin cari mati!" teriak wanita ketakutan.
"Lebih baik kau mati bersama orang ganteng sepertiku dari pada mati di tangan rentenir itu," ujar Syafiq menyungingkan senyumnya.
Wajah wanita langsung manyun meskipun dalam ketakutan.
__ADS_1
Dan sampailah mereka di sana. Dari kejauhan terlihat seorang pria separuh baya di kelilingi oleh para pria baju hitam sedangkan seorang pria yang berbadan gendut duduk di kursi dengan mengayunkan kakinya.
"Katakan di mana anakmu?" tanya pria gendut itu menhintrogasi pria baya itu.
"Aku tidak tau, jika pun aku tahu, aku tidak akan mengatakannya, dan aku tidak akan menyerahkan dia kepada kalian begitu saja," jawab pria paruh baya itu tegas.
Bukk!
Wajah pria paruh baya itu di tendang oleh anak buah pria gendut itu.
"Katakan atau kau akan ku siksa!" bentak pria gendut itu.
"Tidak akan, aku bersukur jika dia tidak ada di kota ini lagi," jawab pria paruh baya itu.
"Siksa dia!" perintah pria gendut itu, ia sangat geram dengan jawaban ayah wanita itu.
"Tidaaaaaak!" teriak wanita itu memeluk ayahnya.
"Hahahaha, akhirnya kau datang juga gadis kecil," ucap pria gendut itu tertawa.
"Kenapa kau malah kesini, cepat pergi!" ujar ayahnya panik.
"Tidak Ayah, jika aku pergi Ayah pasti akan di pukuli mereka," ujar Wanita itu menangis.
BERSAMBUNG
jangan lupa like vote komen dan hadiah
terima kasih
__ADS_1