SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 237


__ADS_3

"Iya," ucap Syafiq mengangguk.


"Tapi mobil di rumah masih ada Syafiq, tidak usah repot-repot memberi kami hadiah," ucap pamannya.


"Udah, nggak apa-apa, kalian terima aja," ucap Syafiq.


"Paman jadi nggak enak hati sama kamu," ucap Pamannya menepuk pundak Syafiq.


"Paman jangan seperti itu, aku juga keponakan paman, jika kalian ada kesulitan, kalian beritahu aku ya," ucap Syafiq.


"Baiklah, tapi kamu jangan beri kami hadiah lagi ya," ucap pamannya.


"Ah, tapi menganggapku sebagai keponakan, paman harus terima," ucap Syafiq.


"Baiklah, terserah kamu saja. Bibi mau yang di tengah itu saja," ucap Bibi.


"Oke, kuncinya ada di dalam ya," ucap Syafiq.


"Terima kasih ya Syafiq," ucap paman.


"Iya sama-sama. Kalian tidur di sini saja malam ini," ajak Syafiq.


Bibi dan paman saling berpandangan. "Ya sudah kami tidur di sini malam ini," ucap Paman setuju.


"Kalian harus sering-sering ke sini ya," ucap Syafiq.


"Baiklah," Angguk Bibi tersenyum.


Setelah mengobrol panjang.


"Ini sudah agak malam, aku pamit undur diri dulu," ucap Bara.


"Baiklah, hati-hati Tuan Bara," ucap Syafiq.


"Jangan formal begitu, panggil saja kakak atau apalah," ucap Bara.


"Baiklah kak Bara, sering-sering mampir ke sini ya," ucap Syafiq.


"Tentu saja," ucap Bara tersenyum melihat ke arah Jelita.


"Aku pergi dulu," ucap Bara menuju mobilnya.


"Cie… cie… kak Jelita, sepertinya udah dapat gebentan baru nih," goda Sahara.


"Dianya yang terus mengejarku, aku mencoba buka hati untuknya," ucap Jelita.


"Kenapa? Setelah hatimu kecewa?" tebak Glinda.


"Ikh… kakak tega banget sih ngomong gitu, tapi gimana hubungan kalian berdua," ucap Jelita.


"Nggak ada hubungan apa pun," ucap Glinda.


Brima hanya senyam senyum.


"Ayo tidur, besok harus melanjutkan aktivitas?" ajak Syafiq.


"Iya, aku juga udah ngantuk banget," ucap Glinda yang langsung maju berdiri menuju vila sambil menguap.


"Pak koki dan yang lain, kalian sudah bekerja keras selama beberapa hari ini, jadi besok kalian mulai bekerja memasak untuk pengunjung, jadi kerja kalian selama beberapa hari ini aku beri kalian bonus ya. Untuk kalian yang mengantar makanan nih 1 juta perorang dan untuk kokinya 2 juta perorang," ucap Syafiq memberi mereka uang.


"Terima kasih Tuan," ucap mereka senang.


"Iya sama-sama, kalian pun beristirahatlah," ucap Syafiq.


"Baik Tuan," angguk mereka membereskan pekerjaan mereka.


Ding ding


Hadiah Anda di kurang 11.000.000


Sisa hadiah Anda 3.620.408.000.000


Mereka pun masuk ke kamar masing-masing dan tidur.


Ding Ding


Misi baru


Menolong Arwah gentayangan.


Hadiah 500.000.000.000


Syafiq yang mulanya sudah berbaring kembali duduk.


"Astaga! Haishh………" keluhnya. Ia pun berdiri dan keluar dari kamar.


"Mau ke mana Syafiq?" tanya Yedi.


"Keluar sebentar," ucap Syafiq.


"Oh baiklah," angguk Yedi kembali berbaring.


Syafiq meburuni anak tangga sambil melihat jam tangannya menunjukkan pukul 23:35 menit.

__ADS_1


"Baiklah, sebentar lagi jam 24 malam, berarti aku harus menunggu beberapa menit lagi," ucap Syafiq masuk ke dalam mobilnya.


Syafiq duduk di kursi pengemudi dan berdiam diri sesaat.


"Di mana akan ku cari ya? Apa di tengah jalan?" tanya Syafiq. Ia pun mengstaterkan mobilnya dan menginjak pedal gas mobilnya lalu melajukan mobilnya.


Syafiq mengemudi mobilnya di tengah jalan sendirian, di jalan sangat sepi tanpa adanya aktifitas.


Suara mobil Syafiq memecahkan kesunyian jalan.


Tepat di pukul 24:00 sebuah bayangan lewat. Syafiq melihatnya dan segera memberhentikan mobilnya.


"Ke mana dia pergi?" tanya Syafiq memutar mobilnya lalu mengikuti bayangan itu.


Syafiq terus mengikutinya bahkan sampai melewati vilanya dan terus menjauh.


Hingga sampailah di sebuah tempat. Gentayangan itu menghilang di sebuah gubuk reot yang tak layak di tempati.


Syafiq memberhentikan mobilnya dan ia keluar dari mobil.


Karena penasaran, Syafiq pun masuk ke dalam gubuk reot itu. Karena gelap Syafiq menghidupan senter ponselnya.


"Astaga!!!!" teriak Syafiq karena terkejut.


Syafiq mendekati tubuh yang terbaring di lantai itu, tubuhnya sudah kaku tak bernyawa. Tubuh kaku itu sudah mengeluarkan bau busuk, namun belum terlalu busuk, meninggalkan di perkirakan 1-2 hari yang lalu.


Syafiq pun mencari nomor ponsel Brima untuk menghubunginya. Belum sempat menghubunginya terdengar suara.


"Tolong… tolong aku," terdengar suara perempuan dengan suara yang sedikit menyeramkan.


Syafiq menyenter di dekatnya namun tidak ada.


"Tolong… tolong bantu aku," ucap suara itu lagi.


"Apa yang mau ku bantu?" tanya Syafiq menyenter di segala arah dan ia pun tersenter wajah perempuan itu yang membuat ia terkejut dan mundur beberapa langkah.


"Bantu aku," ucapnya sambil menangis.


"Iya, apa yang bisa aku bantu?" tanya Syafiq.


Bayangan itu melihat ke arah tubuhnya dan Syafiq juga melihat ke arah tubuh kaku itu.


"Eh setelah aku menyadari ternyata tubuh dan gentayangannya nggak mirip ya," ucap Syafiq.


"Tolong berikan kalung itu kepada dia," ucap gentayangan itu.


"Hm? Dia siapa?" tanya Syafiq heran.


"Kekasihku," jawabnya.


"Aku tidak bisa memberi tahunya, karena ini hukum alam," ucapnya.


"Ya sudah jika tidak ingin memberi tahunya, untuk apa aku repot-repot membantumu, lebih baik aku tidur di rumah, aku pulang dulu," ucap Syafiq berdiri dan melangkahkan kaki.


Gentayangan itu menghalagi langkah kaki Syafiq dan berdiri di hadapan Syafiq.


"Tunggu dulu, aku mohon bantulah aku, aku sangat mencintai dia, sampai mati pun aku terus mencintai dia. Aku ingin memberikan kalungku untuknya agar dia ingat terus denganku," ucap Gentayangan itu.


"Terus, saat aku mendengar curhatmu aku merasa kasihan dan mencari kekasihmu? Kau tidak ingin memberi tahu siapa dia dan bilang itu adalah hukum alam, jika begitu kenapa kau tidak minta tolong sama teman gentayanganmu juga, aku tidak punya waktu mencari kekasih yang tidak aku kenal itu," ucap Syafiq.


"Jika aku sebut namanya maka aku akan sirna, aku ingin selalu ada di dekatnya," ucap gentayangan itu sedih.


"Apa maksudmu ingin selalu di dekatnya? kalau kau sudah mati maka kau dan dia sudah beda dunia, dan kau ingin hidup berdampingan dengan manusia, kau yang melangar hukuman alam," ucap Syafiq.


"Aku sangat mencintai dia, aku tidak ingin berpisah darinya, cukup aku yang bisa melihatnya meskipun ia tak bisa melihatku," ucap gentayangan itu sedih dan meneteskan air mata.


"Hey! Ayolah, secinta apa pun kau dengannya, kau harus tetap pergi ke alammu, jangan mengacau di dunia manusia, mungkin dengan kau memang lebih baik pergi ke alammu dari pada kau sakit hati, karena hati manusia tak bisa di tebak," ucap Syafiq.


"Aku juga percaya jika dia masih mencintaiku karena aku melihat dia masih menyimpan fotoku tertata rapi di meja kamarnya," ucapnya penuh yakin.


"Mungkin dia lupa membuangnya," ucap Syafiq mencibir.


"Tidak aku percaya dia masih mencintaiku, maka dari itu jika aku tidak meminta tolong denganmu, dengan siapa lagi aku meminta pertolongan, sedangkan yang lain melihatku ketakutan," pintanya.


"Astaga! Kau yang sudah menjadi gentayangan pun masih saja keras kepala," keluh Syafiq menatap gentayangan itu manyun.


"Tolong bantu aku, sekali ini saja," ucap gentayangan itu memohon.


"Baiklah, aku akan membantumu, tapi kamu pergi ke duniamu dan jangan berkeliaran lagi jika kamu sudah tahu kebenarannya," ucap Syafiq.


"Baiklah, aku berjanji padamu," ucap gentayangan itu.


Syafiq berbalik badan dan kembaali berjongkok dan mengambil kalung tersebut.


"Tapi tunggu dulu, meskipun kalung tetap saja ini barang bukti, aku harus menelpon bang Brima dulu," ucap Syafiq yang langsung menghubungi Brima.


Tuuut


Tuuut


Tuuut


Nomor yang Anda tuju tidak menjawab panggilan Anda, cobalah beberapa saat lagi.

__ADS_1


"Bang Brima pasti masih molor nih," ucap Syafiq.


"Apa yang harus aku lakukan pada mayat ini ya? Apa aku membawakan dia ke kantor polisi, tapi nanti takutnya mempengaruhi hasil otopsi, Bang Brima nggak di angakt pula, apa aku harus menelpon Glinda saja ya," ucap Syafiq.


Syafiq pun mencoba menghubungi Glinda.


Tuuut


Tuuut


Tuuut


"Halo," jawab suara seseorang, sepertinya bukan suara Glinda.


"Hey! Ngapain kamu menelpon kak Glinda malam-malam, kamu selingkuh ya sama kak Glinda?" tanya Sahara yang mengangkat telpon Glinda. Sedangkan Glinda sudah tidur.


"Eh kamu sayang, kenapa belum tidur?" tanya Syafiq.


"Kalo aku tidur aku nggak akan menangkap basah kamu menelpon seseorang di belakangku," ucap Sahara kesal.


Syafiq memutuskan panggilannya dan menelpon lewat ponsel Sahara.


"Ngapain kamu balik nelpon ke ponselku," ucap Sahara kesal dan itu panggilan video call.


Syafiq memperlihatkan tubuh mayat itu. "Astaga! Apa itu?" tanya Sahara ngeri.


"Mayat, makanya aku menelpon Glinda karena Bang Brima tidak mengangkat panggilanku, makanya kamu jangan berburuk sangka denganku, bangunkan Glinda itu dulu," pinta Syafiq.


"Oke sebentar," ucap Sahara.


"Kak Glinda, kak, bangun, ada telpon dari Syafiq," ucap Sahara membangunkan Glinda.


"Ada apa Sahara?" tanya Glinda bangun dengan mata sayup.


"Syafiq menelpon," ucap Sahara memberikan ponselnya kepada Glinda. Glinda pun menerimanya.


"Halo," jawab Glinda meletakkan di telinganya.


"Itu panggilan Video call kak," ucap Sahara.


"Oh iya kah," ucap Glinda melihat layar ponselnya.


"Ada apa Syafiq?" tanya Glinda.


"Ini aku menemukan mayat perempuan di sebuah gedung kosong, aku mencoba menghubungi Bang Brima tapi tidak di angkatnya, bisa kah kau memangil Bang Brima?" tanya Syafiq.


"Baiklah, sebentar," ucap Glinda bangun berdiri dan menuju kamar Brima.


Tok


tok


tok


"Brima bangun!" teriak Glinda.


Namun tidak ada sahutan. Glinda mengedor pintu kamarnya.


"Brima, jika kau nggak bangun sekarang aku akan masuk ke kamarmu dan menendangmu ke planet pluto," ucap Glinda.


"Astaga jauhnya. Ya, ya Ada apa?" tanya Brima menyahut dari dalam kamar.


Brima pun membukakan pintu terlihat dari wajahnya ia masih mengantuk dan menguap.


"Ada apa malam-malam begini?" tanya Brima menyenderkan tubuhnya di pintu.


"Syafiq meminta kita untuk datang ke lokasi, ada yang meninggal," ucap Glinda.


"Di mana?" tanya Brima.


"Mana aku tahu, dia akan kirim lokasinya," ucap Glinda.


"Kok Syafiq tahu ya kalo ada mayat, lagian ngapain dia keluar malam-malam," ucap Brima.


"Karena instingnya lebih kuat dari kamu," ucap Glinda.


"Ya udah ayo pergi," ucap Brima kembali masuk dan menganti seragamnya.


Glinda juga masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian seragamnya.


"Aku ikut," ucap Sahara.


Glinda dan Brima saling berpandangan. "Kamu di rumah saja ya," ucap Brima membujuknya.


"Aku mau ikut, janjintidak menganggu kalian," ucap Sahaya mengangkat 2 jarinya.


"Haish… ya sudahlah ya," ucap Brima.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan melaju di jalanan menuju tempat lokasi.


Bersambung


Jangan lupa like vote komen dan hadiah

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2