SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 238


__ADS_3

"Di mana nih lokasinya?" tanya Brima.


Glinda melihat ponselnya yang di kirim lokasi oleh Syafiq.


"Belok Kiri," ucap Glinda.


Brima memutar stir mobil mengikuti arahan Glinda.


"Aduhhh… Bulu kudukku merinding bangettt," ucap Brima.


Syafiq menunggu di dekat mobilnya.


Brima pun memberhentikan mobilnya saat melihat sebuah mobil terparkir.


Brima membuka pintu dan mereka pun keluar dari mobil.


"Syafiq, kamu ngapain di tempat sepi begini? Udah gitu tempatnya serem banget lagi," ucap Brima.


"Aku juga terpaksa ke sini," ucap Syafiq.


"Terus di mana mayatnya?" tanya Brima.


"Di dalam sana, ayo," ajak Syafiq.


Sahara langsung memeluk Syafiq dengan manja.


"Kamu kok nggak tidur aja sih?" tanya Syafiq mengelus kepala Sahara.


"Nggak ada apa-apa cuma penasaran aja," ucap Sahara.


Mereka pun masuk ke dalam gubuk tersebut.


Brima menyenterkan mayat tersebut.


"Sepertinya di sudah meninggal beberapa hari yang lalu, aku akan telpon komandan dan petugas forensik," ucap Brima mengeluarkan ponselnya dan menelpon komendannya.


Tuuut


.Tuuut


Tuuut


"Halo," jawab komandannya yang masih mengantuk.


"Komandan kami menemukan mayat di sebuah gubuk," ucap Brima.


"Di mana lokasinya?" tanya Komandan itu.


"Akan saya kirim lokasi terkininya," ucap Brima.


"Baiklah, saya akan menghubungi polisi yang lain dan petugas lainnya," ucap komandannya.

__ADS_1


"Baik komandan," ucap Brima memutuskan panggilannya.


"Mari kita lihat, apa saja yang mencurigakan di gubuk ini," ucap Brima.


"Bang, aku minta izin sama abang nih," ucap Syafiq.


"Minta izin apa?" tanya Brima.


"Arwah dari tubuh ini meminta aku untuk memberikan kalung kepada kekasihnya, aku pikir kalungnya juga termasuk barang bukti dari kematian tubuh ini, tapi sang arwah ini sangat ingin memintaku untuk mengambil kalung untuk memberikan kepada kekasihnya, jadi menurit abang bagaimana?" tanya Syafiq meminta pendapat.


"Benar juga, apa pun yang ada di tubuh korban adalah bukti, takutnya ada sidik jari pelaku di kalung tersebut, apa kamu bisa melihat arwah itu?" tanya Brima.


"Karena aku bisa melihatnya makanya aku menyampaikan pesannya," ucap Syafiq.


"Bagaimana ya? Jika kau bisa melihatnya tanyakan siapa yang melakukannya dan apa ada yang memegang kalungnya," ucap Brima.


"Hey! Apa ada yang menyentuh kalungmu?" tanya Syafiq.


"Tidak ada, mereka tidak melihat kalungku karena kalung itu aku simpan di dalam sepatuku," ucap Gentayagan itu.


"Tidak ada yang memegangnya karena kalung itu ada di dalam sepatunya," ucap Syafiq.


Brima mengangguk dan membuka sepatu dan benar, ia menemukan kalung di dalam sepatunya.


"Ini kalungnya, jika tidak ada tersentuh maka bawalah, mungkin dengan begitu dia akan tenang di alam sana," ucap Brima memberikan kepada Syafiq.


"Kau keluar karena mendapat pesan darinya ya untuk memberikan kalung itu kepada kekasihnya," tebak Sahara.


"Baiklah, tanyakan siapa pelakunya?" ucap Brima.


"Tanyakan dengan dia sendiri," ucap Syafiq.


"Hey! Hey! apa yang kau katakan, bagaimana jika dia tiba-tiba menampakkan dirinya langsung," ucap Brima ketakutan.


"Justru bagus, abang bisa menanyakan langsung dan bertanya banyak hal," ucap Syafiq.


"Ayolah Syafiq, aku nggak mau kena struk setelah melihatnya, karena besok aku masih mau jalan-jalan," ucap Brima.


"Kau dengarkan sendirikan, gara-gara kau menampakkan wajah dia bisa struk…" Brima cepat-cepat menutup mulut Syafiq.


"Ampun Nyai, aku tadi hanya bercanda saja, aku hanya ingin tahu siapa yang sudah berbuat kejam kepada Anda atau Anda bunuh diri di sini," ucap Brima melihat sekeliling.


"Dasar penakut. Siapa pelakunya?" tanya Glinda kepada gentayangn itu meski ia tak melihat wujudnya.


Gentayangan itu masuk ke tubuh Sahara. Tiba-tiba Sahara pingsan.


"Sayang, Sayang, kamu kenapa?" tanya Syafiq panik.


Sahara tiba-tiba saja bangun dan menatap tajam ke arah mereka bertiga.


Tak lama kemudian para polisi berdatangan dan masuk ke tempat lokasi kejadian.

__ADS_1


Syafiq memeluk Sahara. Sayang kamu kenapa?" tanya Syafiq.


"Maaf aku meminjam tubuh pacarmu, tapi aku ingin menjelaskan langsung pada kalian," ucap Sahara yang sudah kerasukan itu.


"Hey keluar kamu, kenapa harus masuk di tubuh pacarku, masuk di tubuh lain saja, atau masuk di tubuh itu," ucap syafiq menunjuk ke arah Brima.


"Syafiq… kamu tega banget, jangan masuk tubuhku ya," ucap Brima ketakutan sambil memeluk tangan Glinda.


"Siapa juga yang ingin masuk ke tubuh pria, aku 'kan wanita," ucap Sahara.


"Bener, bener, bener, huh! Untung saja aku pria," ucap Brima mengelus dadanya.


"Apa yang terjadi?" tanya komanda itu.


"Arwah dari tubuh itu masuk ke dalam tubuh pacarku dan ingin menjelaskannya," ucap Syafiq.


"Oh benarkah, ini sangat menarik," ucap Komanda. "Kalian bawa tubuh itu untuk di otopsi, dan yang lain periksa tempatnya dan cari bukti," perintah komandan itu kepada petugas yang lain.


"Siap komandan," angguk bawahannya dan mereka pun berpencar.


"Baiklah, katakan apa yang ingin kau jelaskan," ucap komandan itu berjongkok di dekat Sahara.


"Pelakunya ada 3 orang, mereka ingin memperkosaku, namun aku memberontak dan mereka malah membenturkan kepalaku. Namun saat itu aku sempat bertanya kenapa mereka melakukan itu padaku, dan dia mengatakan jika mereka suruhan dan di bayar oleh seseorang yang sangat ingin menyingkirkanku dan membenciku, namun mereka tidak menyebut siapa namanya, padahal aku merasa jika aku tidak punya musuh," ucap Sahara.


"Kau merasa jika kau tidak musuh, tetapi musuh dalam selimut pasti ada, hanya kau saja yang tidak mengetahuinya. Kalau aku tebak orang membencimu adalah orang terdekatmu," ucap Glinda.


"Aku rasa begitu, karena kau tidak mengetahui siapa yang membencimu," jawab Syafiq.


"Katakan ciri-ciri pelakunya agar kami bisa menangkapnya," ucap komandan itu. "Kamu catat apa yang di sebutkan nona ini," ucap komandan itu kepada Glinda.


"Baik Komandan," angguk Glinda menggeluarkan buku notesnya.


"Yang satu pria berambut keriting memakai baju hitam dan celana jins biru. Yang satunya memakai baju coklat dan celana hitam. Yang satunya lagi, berbaju navi dan celana hitam dan rambut sesikit panjang. yang rambut keriting punya tato di lengannya, aku tidak tahu bentuk gambar itu namun yang memakai baju navi, di kakinya ada tato kala jengking dan yang pasti mereka semuanya sama tingginya," ucap Sahara.


"Baiklah, itu sangat membantu atas penyelidikan ini, aku akan menyuruh tim penyelidik untuk mecari mereka," ucap komandan itu mengangguk.


"Jika sudah selesai keluar kamu," ucap Syafiq.


"Tapi ingat ya pesanku," ucap Sahara mengingatkan kembali.


"Iya, iya," ucap Syafiq.


Gentayangan itu keluar dari tubuh Sahara dan Sahara pun matanya terbuka.


"Sayang, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Syafiq memeluk Sahara.


Bersambung


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2