
Namun mereka yang merasa punya kemampuan yang tetap bertahan. Syafiq pun tetap bertahan.
"Ayolah Syafiq, kamu jangan main-main lagi, bagaimana jika kamu tidak bisa mengobatinya dan kamu malah di eksekusi, kita cari aman saja," ucap Emerson khawatir.
"Aman kok, kalo kamu takut, sana kamu pergi ke samping," ucap Syafiq.
Emerson di buat bingung oleh ucapan Syafiq, dia harus minggir apa tetap mengikuti Syafiq?
"Baiklah, ini semua yang mengikutinya, kami akan memberi nomor antrian," ucap pengawalnya.
"Aku harus bagaimana nih?" tanya Emerson sudah tak sempat lagi untuk mundur.
Mereka pun mengambil nomor antrian.
"Syafiq aku bagaimana donk?" tanya Emerson takut.
"Bilang saja jika kau asistenku," ucap Syafiq dan Syafiq mengambil nomor antriannya yaitu nomor 56, sedangkan yang mengikuti ada 209 orang.
"Saya ingatkan sekali lagi, jika kalian tidak punya kemampuan untuk menyembuhkannya, lebih baik kalian mundur sebelum kalian masuk ke dalam," ucap pengawal itu mengingatkan.
Yang nomor 1 sudah masuk, tapi tak lama ia keluar dengan wajah babak belur.
Mereka berdelik ngeri, ada beberapa orang mundur dari barisan diam-diam.
Antrian 4, 5 dan juga sudah masuk, tapi mereka keluar dengan wajah dan tubuh yang bonyok.
Antrian selanjutnya masuk dan keluar meminta ampun, karena ia di tendang dan di pukuli.
"Ini sangat sadis," ucap Emerson.
"Apa tidak ada polisi yang menangkap mereka melakukan hal kejam begini?" tanya Syafiq.
"Biasanya mereka sudah konfirmasi terlebih dahulu, dan mereka yang mengikuti sayembara ini juga keinginan mereka dan mereka sudah tahu konsukuensinya, kan sudah di katakan dari awal jika terjadi sesuatu mereka akan terkena akibatnya," jelas Emerson.
"Mereka yang tidak bisa atau yang ingin coba-coba, mundur adalah pilihan terbaik," ucap Syafiq mengangguk.
"Tapi kenapa kamu ingin mencobanya?" tanya Emerson.
"Aku tidak mencobanya, aku memang ingin menyembuhkannya," ucap Syafiq.
"Ya terserah kamulah, aku harap kamu benar-benar bisa menyembuhkannnya, atau kita akan berakhir seperti mereka," ucap Emerson bedelik ngeri karena 2 orang keluar dengan mulut yang berdarah dan juga hidungnya dan satunya, tangannya yang patah.
Setelah hampir 1 jam menunggu, kini giliran Syafiq.
"Syafiq, aku takut sekali," ucap Emerson gemetaran.
"Santai, jika kau seperti ini justru kita malah terlihat orang yang benar-benar berpura-pura bisa menyembuhkan," ucap Syafi.
"Oke! Aku coba tenagkan diriku," ucap Emerson menarik nafasnya panjang.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah mewah tersebut dan di sana ada seorang anak yang terbaring kaku tak bergerak, di dalam ilmu kedokteran mereka bisa di sebut koma, tapi dokter tidak bisa menemukan penyakit apa pun pada tubuh anak itu jadi dokter menyuruh mereka agar di rawat di rumah saja karena anak tersebut tidak sakit.
"Ini anaknya silakan dekati," ucap ayah Anak itu sedangkan pengawal ada 10 di sana, untuk menghajarnya jika mereka tidak bisa menyembuhkannya.
Syafiq memegang tangan anak itu, memang peredaran darahnya sangat lancar dan Syafiq juga memegang perutnya, ya kosong karena tidak makan.
"Jika aku mengatakan jika dia di suntik dengan obat yang bercampur dengan hawa hitam, apa Anda percaya?" tanya Syafiq.
"Di suntik dengan hawa hitam? Apa maksudmu, seseorang yang sangat dekat dengan Anda yang melakukannya," ucap Syafiq.
__ADS_1
"Yang sangat dekat? Istriku? Pengurus rumah dan para pengawalku," ucap Ayah anak tersebut bingung.
"Anda pikirkanlah siapa yang sangat dekat dengan Anda, masalah menyembuhkannya, aku bisa menyadarkannya tapi ingat, jika terjadi sesuatu kalian jangan mendekat dan jangan ambil keputusan sendiri, karena penyakit ini tidak biasa," ucap Syafiq serius.
"Aku akan beri kamu waktu 10 menit, jika tidak terjadi apa pun atau terjadi seauatu yang tidak di inginkan maka hukumanmu akan berat dari mereka," ucap Ayah anak tersebut.
"Tidak masalah," ucap Syafiq.
Gunakan poin untuk mengeluarkan penyakit di dalamnya.
Memindai...
Memuat...
Loading...
Mulai...
10%...
20%...
30%...
40%...
50%...
60%...
70%...
90%...
100%...
Selesai.
Poin Anda di potong 200 poin
Sisa poin Anda 80 poin.
"Dudukkan anak ini Emerson," pinta Syafiq.
Emerson dengan tangan yang bergemetar mendudukkan anak yang koma itu dan Syafiq memegang perut dan kemudian mengelus menaikkan keatas kepalanya lalu menekannya.
Anak itu pun mutah darah, dan orang yabg berada di sana sangat terkejut.
"Eksekusi dia," perintah ayah Anak tersebut kepada pngawalnya
Pengawalnya pun bersiap ingin menangkap Syafiq.
"Tunggu! Kau bilang ingin memberiku waktu 10 menitkan, maka tunggulah sejenak," ucap Syafiq.
Darah yang di muntahkan anak tersebut mengeluarkan hawa hitam dan darah yang berada di lantai dan di kain di depan anak itu tadi perlahan-lahan seperti membakar, kain itu pun menjadi bolong-bolong dan juga lantainya bekas darah itu menjadi gosong.
"Ternyata benar, ini penyakit yang tidak biasa," angguk ayahnya setuju.
"Tapi siapa yang melakukannya?" tanya ayah anak itu berpikir.
__ADS_1
Anak itu pun bangun dan menangis.
"Berikan dia minum," ucap Syafiq.
Mereka pun memberi minum air putih dan anak itu menjadi tenang.
Anak itu memeluk Syafiq sambil memeluk Syafiq.
"Aku takut, aku takut, aku terus mimpi buruk," ucapnya ketakutan.
"Sekarang kamu sudah sadar, tidak akan ada mimpi buruk lagi," ucap Syafiq menenangkan.
"Tapi aku sangat takut, aku tidak mau tidur lagi," rengeknya.
"Mimpi itu sudah hilang, kamu tidak akan mimpi lagi, jika kamu tidur, hanya ada mimpi indah yang ada," ucap Syafiq.
"Bagaimana jika mimpi itu datang lagi?" tanya anak itu.
"Jika dia datang lagi, aku akan mengusirnya, dan membunuhnya" ucap Syafiq tersenyum.
"Janji ya," ucap anak itu mengulurkan jari kelingkingnya.
Syafiq tersenyum dan mengaitkan dengan jari kelingkingnya juga.
"Siapa yang melakukan padamu?" tanya Syafiq.
"Tidak tahu, dia hanya samar-samar hitam di samping ayah, aku tidak melihat wajahnya, dan dia terus menakutiku dengan wajahnya yang sangat seram dan ingin membunuhku," ucap anak itu.
"Aku ingin minum lagi," ucap anak itu.
Dan Syafiq pun memberikan gelasnya yang tadi.
Saat anak itu melihat air di dalamnya ia sangat terkejut.
"Aaaaaa... dia datang!" teriaknya kencang dan menumpahkan air tersebut.
"Siapa yang memberikan air ini tadi?" tanya Syafiq serius.
Mereka bingung karena tidak terlalu memperhatikannya.
"Cepat kejar dia dan cari, aku rasa ia sudah lari," perintah Syafiq.
Anak itu kembali pingsan di pelukan Syafiq. "Sepertinya dia kembali terminum kembali obatnya," ucap Syafiq.
Gunakan poin untuk menyembuhkannya kembali.
Ding ding
Poin Anda tidak mencukupi.
"Astaga, cepat cari dia, dia pasti punya penawarnya!" teriak Syafiq.
Bapak itu pun ikut mengejarnya.
Yang hanya ada tinggal ibu anak tersebut
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hidiah
__ADS_1
terima kasih