SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 255


__ADS_3

Bletak!!!


"Aduuh!!!" teriak Brima memegang kepalanya.


"Jangan bicara sembarangan," ucap Glinda menatap tajam Brima.


"Iya, iya maaf," ucap Brima.


Mereka mengikuti mobil Syafiq dari belakang dan juga mobil Yedi.


Syafiq membawa Sahara jauh dari kota dan dan menuju arah bukit.


"Kita ke mana?" tanya Sahara.


"Ke bukit cinta, semoga di sana tempat bisa membaikkan hubungan kita," ucap Syafiq.


Sahara hanya terdiam.


Mereka pun terus melaju menuju bukit, bukit itu di katakan bukit cinta karena konon katanya ada sepasang kekasih yang bersumpah sehidup semati di sana dan mereka mati bersama, dengan cara bunuh diri bersama berharap jika mereka bertemu di surga dan hidup bahagia.


Sebenarnya tempatnya horor karena ada orang mati di sana, tapi banyak menyakinkan jika mereka yang bertengkar akan berbaikan.


Tapi cerita sebenarnya adalah, sang wanita mati tapi sang pria benar-benar tidak mengoreskan pisau itu di lehernya, karena pisau itu sudah di ganti menjadi besi yang pipih mirip dengan pisau.


Ia tidak boleh mati karena ia masih punya keluarga dan demi mengapai cita-cita, ia harus mengorbankan cintanya demi keluarga, karena ia tak mau mati dengan sia-sia karena cinta.


Syafiq membawa Sahara ke sana bukan mempercayai kisah tersebut, tapi di sana tempat yang tenang dan banyak kunang-kunang, mungkin Sahara bisa menceritakan penyebab dia marah, biasanya wanita akan percaya sesuatu hal yang membuat ia senang.


Sesampainya di sana mereka pun turun dari mobil.


"Waww… tempatnya sangat cantik," ucap Sahara terkesima dengan tempatnya yang indah dan kunang-kunang berterbangan.


"Kamu suka?" tanya Syafiq.


"Suka, tempatnya sangat tenang dan banyak kunang-kunang," ucap Sahara berlari mengejar kunang-kunang dan menangkapnya.


"Kenapa kau menangkapnya?" tanya Syafiq.


"Karena ia sangat cantik," ucap Sahara.


"Jangan di tangkap, umurnya hanya sehari, biarkan dia terbang menikmati hidupnya dan kita cukup menikmati keindahannya. Begitu juga dengan cinta, jalani saja dengan yang semestinya, tidak ada dendam dan amarah, tidak ada rahasia dan saling terbuka, nikmati saja prosesnya nanti kita akan menikmati hasilnya," ucap Syafiq sambil menatap langit yang penuh bintang.


Sahara melepaskan kunang-kunang itu kembali terbang ke udara.


"Maafkan aku karena marah denganmu," ucap Sahara.


"Ternyata kau mengerti dengan perkataanku, lalu kenapa aku bertanya tidak kau jelaskan," ucap Syafiq.


"Itu karena aku kesal denganmu," ucap Sahara manyun.


Syafiq memegang tangan Sahara. Mereka tak peduli dengan kedatangan keempat temannya, toh mereka juga akan sibuk sendiri nanti.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu kesal? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Syafiq.


"Ya, kau menamparku," ucap Sahara.


"Ha? Aku menamparmu? Kapan?" tanya Syafiq mengaruk-garuk kepalanya tak mengerti.


"Saat aku melihat mu tertidur dan aku ingin menciummu, tapi tiba-tiba kau menamparku, kau sendiri melihat pipiku yang memerahkan? Ini di sebabkan olehmu," ucap Sahara.


"Astaga, maafkan aku ya sayank, mungkin jika kau ingin mengulang kembali ingin menciumku aku siapa kapan saja," ucap Syafiq.


"Aku sudah tak mood untuk melakukannya," ucap Sahara kesal.


"Tapi jika kau ingin melakukannya jangan lupa bilang-bilang ya, aku pasti akan pura-pura tidur agar tak sengaja menamparmu," ucap Syafiq bersemangat.


"Udah ah! Membahas ini membuat aku hilang mood untuk melihat pemandangan indah ini," ucap Sahara.


"Tapi Syafiq, apa tidak apa-apa kita ke sini, katanya beberapa hari yang lalu sekelompok pasangan saat pulang dari bukit ini ada yang melihat penampakan," ucap Sahara.


"Lalu kenapa? Apa kau takut?" tanya Syafiq.


"Sedikit," angguk Sahara dengan mimik wajah yang sedikit berubah.


"Untuk apa kau takut? Kau sendiri mirip sama penampakan itu," ucap Syafiq terkekeh.


"Astaga! Menyebalkan!"


Pakkk!!


"Awwww…!! Sakit tau," ucap Syafiq memegang kepalanya.


"Itu semua untuk menghilangkan rasa takutmu, lagian di sini tak lama lagi akan di buka menjadi tempat wisata, nanti penampakannya juga akan menghilang," ucap Syafiq.


"Udah ah! malas meladenimu," ucap Sahara mengejar kunang-kunang menangkapnya lalu melepaskannya kembali.


"Sudah aku katakan kau jangan menangkapnya," ucap Syafiq mengingatkan.


"Aku melepasnya kembali," ucap Sahara melompat untuk menangkapnya lagi.


"Tanganmu itu kasar, sedangkan hewan itu rapuh, dia di tangkap olehmu langsung mati di tanganmu," ejak Syafiq.


"Syafiiiiiiq kamu menyebalkan!!!" teriak Sahara geram dan malah mengejar Syafiq.


"Hayo sini tangkap aku jika kau bisa," ucap Syafiq terkekeh.


Dbukk!!


"Aduuh!" teriak Syafiq terjatuh karena kakinya menabrak sesuatu.


"Rasain kualat tuh karena ngerjaina aku," ucap Sahara gantian dia yang tertawa.


Saat di lihat sesuatu membuat Syafiq terjatuh tidak ada.

__ADS_1


"Eh ke mana tunggul itu tadi?" tanya Syafiq heran.


"Hm… mungkin kau salah lihat, itu bukan tunggul, melainkan kau tersangkut dengan kakimu sendiri," ucap Brima.


"Aku harap begitu, aku memang tidak menabrak sesuatu," ucap Syafiq mengangguk.


"Aku yakin aku menabraknya tadi," ucap Syafiq dalam hati. "Tapi ke mana perginya, atau itu menghilang?" Syafiq bertanya-tanya dalam hati.


Mereka berenam asik bermain di sana, namun bukan hanya mereka berenam saja, namun banyak pasangan lain yang datang karena mereka berharap jika mereka bisa sehidup semati


Setelah puas bermain mereka pun memutuskan untuk pulang.


"Ayo pulang, ini sudah semakin larut," ajak Syafiq.


"Iya, aku haus sekali, coba saja di sini ada penjual minuman," ucap Sahara.


"Iya nanti aku carikan," ucap Syafiq.


Mereka pun masuk mobil dan melaju di jalanan.


"Eh tunggu, itu ada penjual," ucap Sahara tiba-tiba.


Syafiq langsung menstopkan mobilnya.


"Ya udah kamu tunggu di sini ya, biar aku yang beli," ucap Syafiq keluar dari mobil dan langsung berlari ke arah warung.


"Buk air mineralnya 2," pesan Syafiq.


Ibuk itu mengambil 2 botol air, namun air itu bukan air putih, melain warna merah dan memberikan kepada Syafiq.


Meskipun aneh, Syafiq menerimanya. "Sebentar ya buk, aku memberikan kepada pacarku dulu," ucap Syafiq dan berlari ke arah mobil karena Syafiq takut Sahara ke hausan.


"Nih," ucap Syafiq memberikan kepada Sahara.


"Hm… di sana nggak ada air mineral?" tanya Sahara menerimanya.


"Sepertinya begitu, karena ibuk itu hanya memberikan ini kepadaku," ucap Syafiq.


"Ya sudah aku bayar dulu ya, ini minumannya belum di bayar," ucap Syafiq.


"Tapi Syafiq… ke mana pergi warung itu?" tanya Sahara menunjuk ke arah warung yang tadi semula ada kini menghilang.


Syafiq membalikkan kepalanya melihat tempat itu di tutupi oleh kabut.


"Ada yang tidak beres nih," ucap Syafiq.


"Ayo Syafiq kita pulang, aku takut," ucap Sahara merengek ketakutan.


"Iya kita pulang," ucap Syafiq masuk ke dalam mobil dan melaju pergi meninggalkan tempat tersebut.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan hadiah


Terima kasih


__ADS_2