
Setelah sarapan, Indi dan Fatan beserta si kembar berangkat bersama. Tidak seperti rencana awal untuk membawa motor sendiri, Fatan meminta Indi untuk berangkat bersamanya sekaligus untuk langsung menuju cafe yang dimaksud, memperkenalkan Indi dengan temannya yang memiliki cafe tersebut.
"Aku berangkat ya, Mbak." Indi mencium kedua pipi Dara dan bergegas menyusul si kembar yang sudah lebih dulu masuk mobil.
"Hati-hati! Jangan lupa kabarin Mbak juga, Dek," seru Dara sebelum mobil melaju keluar garasi.
Indi mengeluarkan jempol tangannya dari jendela, kemudian melambai ke arah Dara.
Klakson berbunyi dua kali, seperti biasa saat Fatan berpamitan pada sang istri tercinta.
"Lindungi keluarga hamba ya Allah," doa Dara pelan, kemudian beranjak masuk ke dalam rumah untuk meneruskan pertapaannya dengan segudang tugas rumah.
Sebenarnya Dara bukan hanya seorang ibu rumah tangga biasa, bisa di bilang dia adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Tanpa di ketahui suami dan keluarganya, Dara sudah mempunya sebuah butik sendiri yang berdiri tak jauh dari kompleks perumahan yang di huninya.
Butik yang menjual aneka pakaian syar'i dan kebutuhan bayi itu cukup besar dan juga cukup di kenal dengan nama "Mom n baby boutique", Dara hanya perlu mengawasi butiknya via ponsel yang terhubung dengan orang kepercayaannya di sana.
"Mas, Zaki yang Mas maksud apa orang yang sama dengan Zaki yang kemarin Indi ketemu di komplek belakang rumah kita ya?" tanya Indi sekembalinya Fatan dari mengantar si kembar sampai ke kelasnya.
Dahi Fatan mengernyit.
"Memangnya di komplek rumah kita ada yang namanya Zaki?" tanyanya heran.
Indi mengangguk mantab.
"Ada Mas, kemarin Indi juga baru aja ketemu. Dan dia ngenalin dirinya dengan nama Zaki,"
"Nama lengkapnya?"
Indi berpikir sejenak, kemudian menggedikkan bahunya.
"Nggak tau," kekehnya.
"Kalau begitu nanti kamu lihat sendiri aja, sebab Zaki yang Mas maksud itu rumahnya setahu Mas di apartemen,"
Indi mengangguk acuh, kemudian kembali diam sambil memainkan ponselnya.
Tak berapa lama mereka sampai di sebuah pelataran cafe yang di maksud Fatan.
Interior yang klasik nan apik membuat suasana di dalam cafe tersebut sangat nyaman, pengunjungnya juga lumayan ramai walau hari terbilang masih pagi. Karena selain menyediakan kopi dan makanan berat cafe tersebut juga menyediakan menu breakfast.
"Hai, Zak," sapa Fatan pada seseorang yang tengah berdiri di depan meja kasir.
Memakai hoodie dan celana jeans tak membuat wajah tampannya kehilangan wibawa sama sekali.
"Hei Mas, akhirnya sampai juga. Udah ku tungguin dari tadi loh," tukas pria yang di panggil Fatan dengan nama Zaki itu.
Indi tercenung saat melihat Zaki yang di maksud kakak iparnya memanglah orang yang sama dengan yang mengantarnya pulang tempo hari.
__ADS_1
Zaki memiringkan kepalanya untuk bisa melihat Indi lebih jelas, karena posisi Indi yang terlindung tubuh Fatan. Kemudian mengajak mereka untuk duduk di salah tau meja yang masih kosong.
"Indira kan?" ucapnya setelah mengingat wajah perempuan yang datang bersama Fatan tersebut.
"Loh? Kalian udah kenal?" tanya Fatan heran sambil melihat Zaki dan Indi bergantian.
"Iya, Mas. Soalnya kemaren dia jatuh di depan rumah saya terus ngelemp ...."
"Terus Zaki nganterin aku pulang ke rumah." Indi memotong ucapan Zaki yang hendak mengadu kalau dia sudah melempar Zaki dengan sandal jepitnya.
Mata Indi melotot berusaha memberi kode pada Zaki agar tak meneruskan lagi ucapannya.
Fatan manggut-manggut, kemudian kembali membahas tentang maksud kedatangan mereka ke kafe tersebut.
"Indi ini adik ipar Mas, Zak. Dia lagi butuh kerja sampingan sambil kuliah, seperti yang kamu bilang kemarin kamu lagi butuh tenaga tambahan kan? Manatau kamu cocok sama Indi buat jadi karyawan kamu?" papar Fatan.
Zaki memindai Indi dari atas kepala sampai ujung kaki, tampak sepatu high heels yang dikenakannya berkilau tertimpa sinar lampu hias kafe yang memang di hidupkan.
"Tapi dari penampilannya kayaknya adik Mas ini nggak lagi butuh banget pekerjaan deh," celetuk Zaki dengan senyum smirk di bibirnya.
Farah mengerutkan keningnya dalam.
"Maksud kamu?"
Tak jauh berbeda dengan Fatan, Indi pun merasa heran dengan ucapan Zaki.
Indi terkesiap dan berusaha menyembunyikan kakinya yang terbalut high heels warna nude tersebut, high heels itu bukan miliknya. Itu milik Dara yang di pinjam dengan setengah memaksa, Dara tidak mengizinkan karena hari ini Indi juga akan masuk kerja, tapi bukan Indi namanya kalau tidak ngeyel.
Fatan menepuk jidatnya, sedangkan Zaki hanya tertawa kecil saja.
"M ... maaf, kalau begitu aku akan ganti sebelum mulai kerja nanti," lirih Indi memohon pemakluman.
Fatan menatap Indi sekilas, kemudian kembali melihat jam dan menatap Zaki.
"Jadi gimana, Zak? Kira-kira Indi di terima atau nggak? Saya harus berangkat ke kantor soalnya, dan Indi juga harus saya antar ke kampusnya dulu. Saya takut terlambat kalau terlalu bertele-tele seperti ini, maaf sebelumnya." Fatan menggeser kursi hendak bangkit.
"Biar saya aja, Mas." Zaki ikut berdiri.
Fatan dan Indi kompak menoleh pada Zaki dengan terheran-heran.
"Biar saya aja yang anter Indira ke kampusnya, kebetulan saya mau keluar. Mas silahkan langsung ke kantor aja, tinggal nyebrang doang kan?" cengir Zaki tanpa rasa bersalah.
Fatan menepuk jidatnya karena baru sadar kalau kantornya berada di sebrang kafe tersebut.
"Saya lupa," gumamnya sambil terkekeh, "Kalau begitu, saya titip Indi ya. Saya permisi dulu," pamit Fatan sambil berjalan cepat menuju keluar.
Sepeninggalan Fatan, Indi justru merasa kikuk berdua saja dengan Zaki. Karena sekarang dia tau kalau Zaki adalah seorang bos pemilik kafe, bukan lagi pria tengil kurang kerjaan dan absurd seperti yang tempo hari di temuinya.
__ADS_1
"Kamu kuliah dimana?" celetuk Zaki membuka percakapan.
"Di ... di universitas Xxx," cicit Indi tanpa berani mengangkat wajahnya.
Zaki berjalan mendahului Indi.
"Ayo saya antar," gumamnya.
****
Di perjalanan Indi hanya diam, tak ada percakapan di antara mereka. Suasana canggung sangat terasa walau hanya Indi yang merasakannya.
Sedangkan Zaki acuh saja sambil tetap fokus pada kemudinya.
"Kamu baru masuk kuliah?" ucap Zaki memecah keheningan.
Indi terkejut, namun serta merta berusaha mengontrol ekspresinya.
"I ... iya, baru masuk hari ini," jawab Indi gugup.
Zaki manggut-manggut.
"Kampus selesai sore, kamu bisa sesuaikan jadwal kuliah kamu dan bekerja. Bertahu jadwal kamu pada saya nanti, jadi saya biasa sesuaikan dengan jam kerja kamu di kafe," titah Zaki tampak sangat berwibawa, sangat berbeda jauh dengan sosoknya yang dia tunjukkan saat di komplek tempo hari.
"J ... jadi saya di terima kerja?" tanya Indi turut berbahasa formal.
Zaki meliriknya sekilas kemudian mengangguk samar.
"Yah, kafe kami kekurangan tenaga untuk mencuci piring," jawabnya blak-blakan.
Mata Indi membola seiring dengan kata-kata Zaki yang menembus gendang telinganya.
"A ... apa? Tukang cuci piring?" seru Indi syok.
Seumur-umur bahkan ibunya belum pernah memintanya mencuci bahkan piring yang di pakainya sendiri, dan kini dengan santainya pria di sampingnya ini hendak
Mempekerjakannya sebagai petugas cuci piring.
Baru saja Indi hendak protes, mobil tiba-tiba berhenti mendadak. Hampir saja kepala Indi membentur dashboard mobil jika dia tak sigap menahannya dengan tangannya.
"Kita sudah sampai," ucap Zaki dan langsung turun begitu saja meninggalkan Indi yang masih mengaduh kesakitan karna tangannya terantuk jidatnya sendiri.
Tampak para mahasiswa berlarian mendekati mobil saat Zaki keluar, Indi yang penasaran pun turut keluar demi mencari tahu apa yang mereka lakukan.
"Selamat pagi, Pak Zaki." Para mahasiswa itu berebut untuk bisa bersalaman dengan Zaki.
Dan pemandangan itu lagi-lagi membuat Indi terkejut bukan kepalang.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya Zaki?" desis Indi.