
Mobil yang dikendarai Zaki berhenti di sebuah butik dengan brand ternama di kota tersebut. Zaki keluar di ikuti Indi yang terus menatap gedung di depannya dengan takjub.
Butik yang khusus menjual berbagai pakaian syar'i dan juga kebutuhan anak dan bayi itu berdiri megah dengan tatanan yang apik dan cantik.
"Kita ngapain kesini, Pak? Eh Mas Zaki?" tanya Indi sembari berjalan di belakang Zaki memasuki butik tersebut.
Zaki mendadak berhenti, namun Indi yang tidak sadar karena keasikan melihat-lihat malah menabrak punggungnya dan meringis.
"Kamu ngapain nabrak saya? Caper?" ujar Zaki datar.
'Uuuhh kepedean!' umpat Indi di dalam hati.
"Nggak, Pak eh Mas. Tadi lagi lihat-lihat terus nggak sadar kalo Mas berenti, jadi nabrak deh." Indi mendongak untuk bisa menatap mata Zaki.
Zaki hanya mengangkat bahunya acuh. Kemudian kembali berjalan menuju meja kasir yang ternyata sudah cukup mengenalnya.
"Eh, Pak Zaki. Ada yang bisa dibantu, Pak?" sapa kasir perempuan itu ramah.
Lebih tepatnya ke arah berusaha terlihat menawan di hadapan Zaki, terlihat sekali dari sikapnya yang berlemah lembut dan nada suara yang kentara sekali dibuat mendayu-dayu.
Indi sampai begidik dibuatnya, namun tak berani mengatakan apa-apa karena tempat itu bukanlah ranahnya.
"Tolong pilihkan satu set gamis terbaik kalian untuk gadis ini, dan usahakan jangan lama. Saya buru-buru," tegas Zaki sambil beralih duduk di atas sofa yang memang di sediakan untuk tamu butik tersebut.
"Loloh, Mas. Kok tiba-tiba malah beliin aku gamis sih?" heran Indi dengan mata membelalak tak percaya.
Zaki hanya mengangkat alisnya acuh, membuat Indi yang sejak tadi sudah geram bertambah geram karenanya. Tapi untuk melawan? Tentu saja tak berani.
Perempuan yang bertugas sebagai kasir tersebut tampak sedikit kesal, tapi karena sudah tugasnya mau tak mau akhirnya dia lakukan juga perintah dari Zaki selaku langganan tetap butik mereka.
"Mari, Mbak. Saya tunjukkan gamisnya," ucapnya ramah sambil menggiring Indi menuju bagian dalam butik, tempat koleksi terbaik mereka disimpan.
Indi hanya bisa pasrah dan menurut saja saat kasir itu membawanya menuju ke sebuah ruangan yang dipenuhi gamis-gamis indah nan cantik yang pernah di lihatnya. Karena selama ini Indi hanya senang memakai jilbab dengan dipadukan dengan atasan oversize dan celana jeans atau kulot. Sangat jarang memakai gamis.
"Waawww, cantiknya," desis Indi sambil menyentuh sebuah gamis dengan bordiran indah di setiap lekuknya.
"Itu salah satu koleksi terbaik kami, kalau Mbak mau Mbak bisa mencobanya. Pak Zaki pasti akan membeli semua yang sudah dicoba oleh anggota keluarganya seperti biasanya," ujar kasir itu tegas.
Agak terdengar kurang ramah di telinga Indi, namun dia berusaha untuk cuek dan tak terlalu ambil pusing.
"Oke, saya mau coba yang ini. Dimana kamar pasnya?" tanya Indi sembari mengambil gamis itu dari patung dan membawanya menuju tempat yang ditunjukkan oleh kasir tersebut.
Setelah beberapa lama mencoba akhirnya pilihan Indi jatuh pada gamis pertama yang dicobanya, dan tanpa ba bi Bu lagi Zaki langsung saja membayarnya dan menarik Indi kembali ke mobil.
__ADS_1
"Makasih banyak gamisnya, Pak. Tapi kalau boleh tau memangnya ini dalam rangka apa?" tanya Indi bingung.
Zaki menepikan mobilnya di pelataran sebuah salon ternama, namun tak langsung turun dan memilih menjelaskan semuanya pada Indi terlebih dahulu akan rencananya.
"Jadi begini, In. Saya butuh bantuan kamu untuk berpura-pura menjadi calon tunangan saya di hadapan keluarga. Cuma acara makan-makan biasa, dan kamu tidak perlu bicara banyak disana. Cukup diam, senyum dan ikuti arahan saya. Apa kamu paham?" tanya Zaki menutup penjelasannya.
Indi yang terkejut pun hanya bisa termangu sambil mengangguk pasrah.
"T ... tapi kalau begitu saya dapat apa dong? Masa saya nggak dapet sekedar uang tutup mulut gitu?" protes Indi pura-pura merajuk, padahal sebenarnya gamis yang ada ditangannya itupun sudah hampir setara gajinya selama satu bulan.
Zaki tampak berpikir sejenak, kemudian menjentikkan jarinya sambil menatap Indi.
Zaki merogoh kantong dashboard mobilnya dan menarik secarik kertas dari sana.
"Apa ini cukup?" tanya Zaki.
Mata Indi membola demi membaca tulisan di kertas tersebut.
"J- jadi, jadi ... rupanya ...."
****
Malam menjelang, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya sejak sore hari. Dara yang mengkhawatirkan adiknya yang tak kunjung pulang tampak berjalan mondar-mandir di ruang keluarga.
Fatan yang baru saja selesai menidurkan si kembar melihat istrinya yang tengah gelisah dan mendekatinya.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok kayaknya gelisah?" tanya Fatan sambil mengelus rambut istrinya yang malam itu tidak tertutup jilbab.
Tapi bukannya fokus pada istrinya, pikiran Fatan justru melayang saat kemarin dia melihat Indi tengah tertidur dengan daster pendek di ruang keluarga.
"Astaghfirullahaladzim," desah Fatan lirih, hampir tak terdengar.
"Ini, Mas. Indi belum pulang, ini udah malem banget loh. Mana hujannya makin gede lagi, aku takut dia kenapa-kenapa di jalan Mas," jawab Dara dengan wajah panik.
"Coba di telfon, Sayang." Fatan memberi ide.
Dara menoleh sekilas tapi kemudian kembali sibuk mondar-mandir lagi.
"Mau telfon pake apa, Mas? Kan hapenya Indi kemarin diambil sama orang. Dijambret," jawab Dara sedikit gugup, karena hampir saja kelepasan bilang kalau ponsel Indi hilang karena disita rentenir.
Fatan tampak mengangguk samar.
"Kan dia udah ada yang baru, Sayang," tukas Fatan.
__ADS_1
Mata Dara membulat, karena tak tahu menahu tentang Indi sudah punya ponsel baru.
"Apa Mas? Hape baru? Yang darimana dia bisa beli hape baru?" heran Dara yang kembali merasa cemas kalau adiknya lagi-lagi terlibat hutang dengan rentenir.
Fatan terkekeh pelan sambil menarik istrinya duduk di sampingnya dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Zaki yang kasih buat dia," bisik Fatan di telinga Dara.
Dara tersentak kaget dan menatap Fatan dengan tatapan tak percaya.
"Apa Mas? Zaki? Temen kamu yang punya kafe itu? Anaknya crazy rich yang super kaya pemilik perusahaan tambang itu?" seru Dara sembari mendikte satu persatu hal yang dia tau perihal Zaki, teman suaminya yang berwajah baby face tapi umurnya sebenarnya tak jauh beda dengan Fatan itu.
Beberapa orang bahkan sering salah kaprah menilai umur Zaki yang terbilang sangat jauh jika dilihat dari wajahnya.
Fatan merengutkan bibirnya, berpura-pura ngambek.
"Segitu banget mujinya, Sayang?" dengusnya.
Dara tercekat sejenak, kemudian dengan manja dia masuk kembali ke dalam pelukan Fatan.
"Tapi walaupun begitu, tetap aja suamiku ini yang paling terbaik," puji Dara pada suaminya yang tengah merajuk itu.
Dalam sekejap Fatan kembali tersenyum lebar, dan langsung menciumi pipi Dara dengan gemas. Membuat Dara tertawa geli karenanya.
"Eh, Mas. Kenapa Zaki bisa sampai beliin hape buat Indi? Dalam rangka apa?" tanya Dara setelah momen romantis di antara mereka kembali usai.
Fatan mengetuk dagunya dengan telunjuk.
"Huummm ... mungkin karena dia suka sama Indi," celetuk Fatan acuh.
Dara yang gemas mendengar jawaban suaminya langsung melayangkan cubitan cinta ke pinggangnya dan sukses membuat Fatan berjingkrak kesakitan sambil meringis manja.
"Serius," desak Dara tak sabar.
Sambil mengusap pinggangnya yang masih terasa ngilu, Fatan menjawab.
"Yah, yang Mas tangkap dari gelagatnya sih gitu. Mas kan lumayan lama kenal sama Zaki, sama keluarganya juga. Biasanya kalau dia sudah jatuh hati sama satu perempuan bakalan langsung di lamar di hadapan keluarga sih katanya,"
Dara menangkap sekilas tatapan murung dari Fatan saat bercerita tentang niatan Zaki yang sepertinya menyukai Indi dalam diam.
Namun karena ingin mempercayai suaminya sepenuh hati seperti niat awalnya, akhirnya Dara menepis kecurigaan itu dan membuang jauh pikiran buruknya akan suami dan adiknya.
Tapi fokus Dara kembali berubah kala teringat sebaris ucapan Fatan sebelumnya.
__ADS_1
"Apa kamu bilang tadi, Mas? Langsung di lamar? Dihadapan keluarga?"