
"Ziva! Ibu minta uang, buat bayar ari ...."
"Loh, Zaenab? Kamu kok ada di sini?" seru Pak jamal yang tak menyangka akan bertemu sang istri lagi di rumah anaknya.
Bu Zaenab sendiri langsung tampak salah tingkah, terlebih kala menyadari kehadiran Zaki pula di sana.
"Bu, kenapa teriak teriak terus sih? Dedek lagi tidur, kalo kaget karna denger suara ibu gimana?" sela Ziva yang muncul dari ambang pintu dapur dengan sebuah nampan berisi minuman untuk bapaknya dan Zaki.
Bu zaenab masih tampak salah tingkah, dia tak menjawab. hanya jari jarinya tampak saling meremas gelisah.
"Oh ya, nduk. Bapak mau ketemu cucu bapak, makanya bapak sampe bela belain minta anterin Mas Zaki ke rumah kamu ini. Mana dia nduk, bapak mau ketemu," ujar Pak Jamal beralih kembali pada Ziva, ketimbang beradu otot atau ucapan dengan istrihya yang kabur beberapa waktu lalu itu lebih baik Pak Jamal fokus pada tujuan utamanya bertandang ke rumah sang anak.
Ziva mengulas senyum setelah menyajikan minuman di atas meja.
"Si Dedek masih tidur, Pak . Nanti setelah bangun Ziva bawa ke sini ya, bapak nginep kan?" tanya Ziva sambil melirik Bu Zaenab penuh arti.
Pak Jamal mengangguk dengan penuh semangat sembari menyesap teh hangat yang di sajikan anaknya, rasanya masih sama seperti waktu dulu Ziva masih tinggal bersama mereka.
"Iya, bapak akan menginap beberapa hari. Kamu nggak keberatan kan, nduk? Soalnya jarang jarang juga kan bapak bisa ke sini," sahut Pak Jamal lembut.
Sedang Bu Zaenab tampak terkesiap mendengar perkataan lelaki yang masih sah suaminya itu, rona tak nyaman langsung tampak dari wajahnya yang bulat dan berisi. Ingin menyahut namun dia tak enak hati jika terkesan mengusir sang suami dari rumah anaknya sendiri.
"Nggak dong, Pak malah Ziva seneng kalo bapak mau menginap. Lama juga boleh kok, Pak." Ziva kembali melempar tatapan pada sang ibu yang kini membuang muka ke arah lain, di remasnya kain yang menutupi kepalanya dengan erat sembari mengigit bibir bawahnya sendiri.
Pak Jamal tersenyum sembari mengangguk anggukan kepalanya, seperti yang dia duga putri kesayangannya itu tidak pernah berubah. Selalu menyayangi dan menghormati orang tuanya tak peduli sejahat apa sang ibu dulu mengusirnya a karna lebih memilih menikah dengan seorang pria miskin. Padahal kala itu Pak Jamal sama sekali tak mempermasalahkan, walau miskin harta dia tahu Amar adalah seorang pemuda yang jujur dan rajin, pernah dia ingin mempekerjakan amar di tokonya namun langsung di tolak Bu Zaenab mentah mentah karna takut tokonya di curangi.
__ADS_1
Padahal seringnya Bu Zaenab sendirilah yang curang di toko suaminya, mengambil uang dan barang sesuka hatinya tanpa memberi tahu sang suami.
Kembali ke suasana tadi, tak lama dari sana terdengar suara sebuah motor memasuki halaman rumah yang tak begitu luas itu. Bu Zaenab yang kebetulan masih berdiri di tempatnya a di ambang pintu langsung menoleh dan mendapati wajah anak menantunya yang hitam mengkilat karna terus terpapar matahari dan debu turun dari sebuah ojek online.
Bu Zaenab mendengus, lalu memilih cepat cepat masuk ke dalam lalu menuju kamar yang di sediakan untuknya. Tanpa berkata apa apa lagi pada suami dan anaknya, sama sekali.
"Assalamu'alaikum," sapa Amar yang baru saja sampai dan mengetahui di rumahnya sedang ada tamu dari mobil Zaki yang terparkir di depan rumah.
"Wa'alaikumsalam."
"Eh, bapak? Alhamdulillah, akhirnya bapak main ke sini juga." Amar tersenyum dan langsung meyalami tangan lelaki tua yang sudah dia anggap orang tuanya sendiri itu.
Pak Jamal mengulurkan tangannya, membiarkan Amar menciumnya a dengan takzim. Sementara tangannya yang satu lagi dia gunakan untuk menepuk pelan pundak Amar, menantu kesayangannya.
"Apa kabar kamu, le? Sehat?" tanya Pak Jamal tanpa rasa sungkan sama sekali melihat tubuh Amar yang gelap dan basah oleh keringat.
Namun baru satu langkah, dia sudah berhenti kembali karna tanpa sengaja melihat seseorang yang tak asing di depan matanya.
"Loh, Mas nya juga ada di sini? Masnya tahu dari mana rumah saya?" tanya Amar pada Zaki yang sejak tadi diam saja memperhatikannya.
Zaki tersenyum, menyambut uluran tangan Amar.
"Saya cuma mengantar Pak Jamal kok, Mas."
"Iya, Le. Mas Zaki ini tetangganya bapak, dia orangnya baik sekali nggak cuma Mas zaki nya saja tapi juga semua keluarganya baik baik dan dermawan." Pak Jamal menyahut.
__ADS_1
Zaki tersenyum dan menggeleng pelan. "Ah, pak Jamal ini terlalu melebih lebihkan."
"Loh? Melebih lebihkan bagaiamana toh? Itu semua yang saya bilang adalah kenyataan Mas Zaki, jangan merendah begitu ah." Pak Jamal kukuh dengan pendapatnya.
"Saya takut sombong nanti, anggap saja semua ini adalah bentuk pertolongan Gusti Allah SWT pada Pak Jamal melalui perantaraan saya," tukas Zaki tak melepaskan senyumnya.
Amar yang sebelumnya hendak masuk ke dalam rumah dan mandi langsung mengurungkan niatnya dan kembali duduk tak jauh dari Pak Jamal.
"Tapi saya siap bersaksi kok, Mas kalau Masnya dan keluarga memang benar benar orang baik," sela Amar pula.
Zaki sontak menolehnya.
"Maaf, maksudnya Mas apa ya? Duh kok jadi saya sih ini yang di bicarakan, saya jadi nggak enak," ujar Zaki sungkan.
Amar terkekeh pelan. " Nggak usah begitu lah, Mas. Namanya orang baik memang begitu, selalu tidak enakan jika di katakan baik, pasti selalu merendah. Padahal tanpa perlu di umbar pun orang lain tetap akan tahu tentang kebaikan hati Mas Zaki."
Zaki masih geleng kepala mendengar ucapan Amar yang menurut a terlalu berlebihan, padahal pikirannya dia tak pernah sebaik itu dalam membantu. Jadi Zaki merasa tak pantas di katakan demikian oleh Amar dan Pak Jamal.
Amar menoleh pada sang istri. "Oh ya, dek. Kamu mau tahu orang baik yang sudah membantu kita menebus biaya rumah sakitnya si dedek?"
Ziva menggeleng pelan. "Nggak tahu,Mas."
Dan Amar pun mengangkat tangannya menunjuk Zaki.
"Orang itu, ya ... orang tuanya Mas Zaki ini," ucapnya tegas dan jelas, membuat Zaki semakin tak enak hati.
__ADS_1
Mata Ziva sontak membelalak. "Oh ya? Benarkah? Kalau begitu jadi kita punya hutang Budi yang sangat besar sama keluarga Mas Zaki. Ya Allah, Ziva sama sekali nggak menyangka," tutur Ziva terharu.
"Hei, Apa ini hutang Budi hutang Budi segala? Kalau mau nolong itu ta yang ikhlas, jangan mengharapkan balasan! Dasar orang kaya sok Sokan!"