TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 148. IZIN


__ADS_3

"Baru pulang, Lis?" tanya Halim pada adik iparnya yang baru saja menjejakkan kaki di teras rumah itu.


"Iya, Mas. Capek banget, Elis masuk dulu ya, Mas." Elis menenteng sandal yang tadi pakainya hendak di letakkan di atas rak khusus.


 Mereka memang saat ini tinggal bersama, karna rumah yang berhadapan jadi Halim maupun Laila kadang berpindah untuk sekedar menemani Elis ataupun Bu Hana yang berada di rumahnya sendiri.


"Tunggu, Lis." Halim menyela, membuat langkah Elis yang sudah mencapai ambang pintu terhenti.


"Kenapa, Mas?" tanya Elis dengan tampang lelah, namun dia tak mau menjadi tak sopan dengan mengacuhkan panggilan lelaki yang kini berstatus Kakak iparnya itu.


"Ada yang mau Mas sampaikan, hmmm ... tapi kamu janji ya jangan tersinggung," ucap Halim berteka teki.


 Kening Elis tampak membentuk lipatan.


 "Memangnya apa dulu, Mas. Kalo menyesatkan ya Mas nggak punya hak untuk minta Elis nggak tersinggung dong, Elis bukan malaikat yang nggak punya rasa marah, Mas." Elis menyahut dengan agak kesal karena dirinya sudah sangat lelah namun masih harus menanggapi kakak iparnya yang random itu.


"Kok ngomongnya ngegas gitu sih, dek? Nggak sopan loh ngomong begitu sama yang lebih tua," celetuk Laila yang baru muncul dari dalam rumah sambil membawa secangkir kopi permintaan suami tercintanya.


 "Iya, Mbak. Abisnya Elis capek banget, Mbak. Elis minta maaf ya, Mas. Udah ngomong keras," ucap Elis dengan nada lebih lembut.


 Halim tersenyum dan mengangguk.


"Iya, nggak papa kok. Mas cuma mau bilang sama kamu, kebetulan Mas punya kenalan dokter gigi, nah kalau berkenan bagaimana kalau kamu coba pasang behel supaya letak gigi kamu lebih dinamis. Maaf, bukannya maksud mengejek atau mengatai, Mas cuma mau memberi tahu saja," papar Halim sambil menyeruput kopi hitam buatan istri tercintanya yang kini terlihat lebih terawat dan berisi itu.


 Elis tampak menatap Laila, seakan meminta pendapat.


"Kalau Mbak sih yes," kekeh Laila memperlihatkan jajaran gigi putihnya yang rapi.


 Elis mengangkat tangannya, sedikit menyentuh bagian giginya yang memang terbilang tonggos (maju) dan susunannya berantakan. Kalau boleh jujur, hal itu jualah yang membuat Elis agak minder berkumpul dengan orang banyak, tak jarang orang akan memberikan tatapan jijik atau malah mengejeknya tanpa memikirkan perasaanya. Namun mahalnya biaya perawatan untuk mengembalikan bentuk giginya ke bentuk normal, membuat Elis urung untuk melakukannya sejak dulu. Dan memilih menyimpan semua sakitnya seorang diri.


 Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Elis menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Ya sudah Mbak, Mas. Kalau begitu Elis mau, tapi ...."


"Tapi apa? Kalau masalah biaya kamu nggak usah pikirkan, kamu adik istri Mas artinya kamu juga adik Mas sekarang. Nggak usah sungkan, insyaallah Mas bisa menanggung hidup kalian." Halim menyela tegas.


"Cukup doakan saja semoga rejeki Mas terus mengalir, supaya bisa memberikan yang terbaik untuk kalian," imbuhnya lagi.


"Tapi Laila masih mau kerja di sekolah, Mas. waktu itu Mas sudah janji tidak akan meminta Laila untuk berhenti," rajuk Laila .


"Elis juga masih betah kerja sama Mbak Dara, Elis nggak mau kalau di suruh berhenti, Mas." Elis menimpali.


 Halim hanya tersenyum kecil menanggapinya.


"Baiklah kalau begitu mau kalian, tapi nanti uang yang kalian dapat itu simpan yang baik gunakan untuk kesenangan kalian saja. Untuk yang lain biar Mas yang aka memenuhi, ya?" tandas Halim.


 Laila menatap suaminya dengan haru, lalu tanpa malu malu lagi menjatuhkan kepalanya ke dada bidang sang suami.


"Terima kasih ya, Mas. Kamu memang suami terbaik yang di kirim Allah SWT untuk Laila," gumam Laila.


 Elis mencebik. "Huh,dasar pengantin baru. Dimana mana seakan dunia milik bedua aja, yang lain mah ngontrak!"


"Iya, utang dulu!" seru Elis sembari melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah di iringi suara tawa dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu.


****


 Di kediaman Pak Jatmika.


"Ngelamun aja, bos?" sapa salah satu bodyguard Pak Jatmika yang kebetulan tengah lewat karna hendak menuju ke garasi yang menjadi satu dengan tempat istirahat mereka.


"Hmmm ...."


 Pak Jatmika tal menjawab, jangankan menjawab menoleh saja tidak.

__ADS_1


 Sebagai anak buah yang penuh perhatian dan pengertian, Ucok pun memilih mengurungkan niatnya untuk masuk dan beristirahat. Raut wajah sang bos yang tidak biasa itu sudah mengetuk pintu hatinya bahkan sampai di dobrak dobrak.


"Jatuh cinta memang sulit, bos. Apalagi udah tua, udah berumur, bakalan sulit mendapatkan seseorang yang kita mau. Biarpun banyak harta tapi kalau tidak gut luking susah juga bos, masih mending kerja jadi pesuruh tapi ...."


"Kamu lagi ngatain saya?" sela Pak Jatmika yang merasa kesal sendiri mendengar ocehan anak buahnya yang berotot seperti Leri tersebut.


 Ucok menggaruk kulit kepalanya yang pelontos sembari cengengesan menampakkan barisan giginya yang menguning karena kebanyakan ngopi, kalo ngerokok di larang ya gaes karena Pak Jatmika punya asma.


"Ya nggak begitu maksudnya, bos. Ah si bos ini sensitif kali, masih baik awak mau nemaninnya di sini," dengus Ucok berpura-pura merajuk.


 Pak Jatmika mendengus, sudah sangat hafal dengan tingkah laku anak buahnya yang satu ini. Sukanya ngambek tapi di tabok duit biasanya juga baik lagi.


"Saya kan nggak minta di temenin," ledek Pak Jatmika kemudian membuat Ucok seketika mati kutu.


"Heheheh, kalau gitu boleh lah ya bos kalau awak pergi keluar sebentar?" tanya Ucok lagi, kembali cengengesan.


"Mau kemana kamu?"


"Keluar, bos. Sini sini aja loh," bujuk Ucok lagi dengan logat bataknya yang lumayan kental bin medhok.


"Nggak!"


"Lha kok nggak boleh sih, bos?" tanya Ucok dengan tampang kecewanya yang imut imut iyuhhh itu.


"Kalau sampe kamu di taksir orang di jalan terus di culik gimana?"


 Dahi Ucok membentuk guratan panjang. "Kan awak bukan anak kecil, bos?"


 Pak Jatmika tersenyum miring. "Iya emang bukan, tapi kan kamu tuyul. Tuyul raksasa', nanti kalo kamu ilang darimana lagi asal duit saya?" kekeh Pak Jatmika bernada canda.


"Ah si bos, nggak lucu ah." Ucok mendengus lalu beranjak dari tampang duduknya dan masuk ke tempatnya beristirahat, garasi maksudnya.

__ADS_1


 Sepeninggalan si Ucok, sepi kembali merambahi suasana malam yang baru saja di mulai itu. Perumahan elit yang sepi itu terasa semakin sepi karna sangat jarang makhluknya yang mau keluar di jam jam seperti ini, paling ada yang lewat juga kalau bukan gopud ya kang paket, mentok mentok ya tukang nasi goreng atau bakso keliling.


"Hah, sunyinya jadi orang tua begini. Duhai istriku yang sudah tenang di surga, apa boleh kalau suamimu ini nikah lagi? Sepi sekali loh masa tuaku, kalau boleh nanti aku bikinin peti mati dari emas deh, janji. Sekalian kita pasang wifi di dalamnya ya, istriku," gumam Pak Jatmika seperti orang gila.


__ADS_2