
"Huh, buang buang saja terus uangmu itu untuk memanjakan dia. Lihat saja nanti setelah uangmu habis dan dia akan jadi anak manja yang bisanya cuma meminta tanpa memikirkan susahnya mencari uang," dengus Bu Maryam yang merasa tak di gubris oleh Indi.
"Sudah, Bu berhenti bicara dan diamlah!" marah Indi yang tak tahan lagi untuk hanya diam mendengar umpatan ibunya yang menurutnya sudah sangat keterlaluan itu.
Mata Bu Maryam sontak melotot lebih lebar lagi, di tatapnya indi dengan tatapan tak percaya. Anak yang sejak dulu begitu di sayangi dan di manjakan ya itu kini malah membentaknya hanya karna dia memberikan nasihat kecil padanya -- menurut Bu Maryam aja ini tapi--
Dan setelah bentakan itu, tak lagi terdengar suara dari Bu Maryam. Tampaknya wanita yang sudah menyandang gelar nenek itu sakit hati atas reaksi indi tadi. Hingga membuat dia lebih banyak diam sambil membuang pandangannya ke arah luar.
"Mbak, sudah sampai.".
Suara sang supir mobil taksi online itu memecah keheningan di antara mereka. Sesaat Indi menoleh ke belakang dimana Bu Maryam dan Intan masih tampak diam di tempatnya masing masing.
"Aku akan turun di sini, dan mungkin juga akan lama. Kalau kalian mau langsung pulang silahkan, tapi silahkan pikirkan sendiri caranya," pungkas Indi datar.
Dan setelah membayar sejumlah uang yang tertera di aplikasi ojek online, Indi turun dari mobil dan langsung berjalan menuju restoran cepat saji yang tak hanya menjual ayam dan burger tapi juga es krim kesukaan anak semata wayangnya, Inara.
Indi melangkah lurus ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang, hatinya yang panas dan kesal pada sang ibu perlu di dinginkan dengan bersantai sejenak dengan buah hatinya yang saat ini tampak terlonjak senang di dalam gendongannya.
"Inara mau es krim yang mana?" tanya Indi lembut sembari menunjuk menu yang ada di atas layar monitor tepat di atas meja kasir.
__ADS_1
Inara mengangkat tangan mungilnya, menunjuk satu dari banyaknya pilihan menu yang di tawarkan. Dan pilihannya tentu saja, es krim sundae rasa coklat.
Indi lekas memesan, tak hanya untuk putrinya tapi sekaligus untuknya juga. Dia ingin bersantai sejenak di tempat itu meninggalkan semua masalah yang di pikulnya walau hanya beberapa saat lamanya nanti.
"Loh, kamu cuma pesan itu aja? Buat ibu mana?" tanya seseorang yang berdiri di belakang Indi.
Cepat indi berbalik dan mendapati wajah ibunya dan Intan di belakangnya, padahal pikirnya tadi dua orang itu akan pergi pulang meninggalkan dia di sana karna tak ingin mampir lama. Tapi nyatanya, benarlah tebakan Indi jika ibu dan intan tak akan bisa kemana pun jika tanpa dirinya. Begitu kok bisa bisanya Bu Maryam memperlakukan Inara dengan kepelitannya yang mendarah daging itu. Sungguh keterlaluan sekali.
"Kalau ibu mau ya pesan saja sendiri," ketus Indi lalu segera berlalu dari hadapan bu Maryam.
Namun secepat kilat tangannya langsung di tahan oleh Bu Maryam, hingga kini mereka mulai menjadi perhatian orang orang yang tengah menikmati makanan di tempat itu juga.
Tak ingin membuang waktu lebih lama dan karena memikirkan Intan yang juga sama belum makan dan tak mempunyai uang tentunya. Indi segera berbalik lagi dan memesankan sekaligus untuk Bu Maryam dan Intan.
"Sudah ya, Indi mau ke sana. Tolong jangan ganggu ketenangan Indi dan Inara jika ibu tidak mau pulang jalan kaki," bisik Indi sengaja mengancam Bu Maryam agar ibunya itu tak akan banyak protes lagi.
Sebelum Bu Maryam sempat menjawab Indi langsung berlalu ke arah tempat duduk yang dekat dengan arena bermain anak , agar setelah makan Inara bisa bermain sejenak di sana.
Indi mulai menyuapi Inara es krim, dan gadisnya itu tampak makan dengan lahap dan riangnya. Kentara sekali anak itu sangat ingin es krim namun tak mendapatkannya mungkin karna tak di beri oleh Bu Maryam tadi. Entahlah, Indi sendiri masih tidak habis pikir kenapa ibunya sekarang bisa setega itu pada cucunya sendiri.
__ADS_1
Dengan cepat satu cup es krim sundae itu sudah berpindah ke lambung si kecil, saat Indi menawarinya makan nugget Inara langsung menggeleng dan menunjuk tempat bermain anak. Indi mengangguk dan menurunkannya dari kursi tinggi khusus bayi tempat dia menaruh Inara tadi, lalu membiarkan putrinya itu berlarian menuju arena bermain yang kebetulan tengah sepi itu. Jadi Indi tak perlu khawatir melepasnya bermain sendiri di sana, sembari tetap di awasi dari tempatnya duduk sekarang. Menyantap makanan dan sesekali tertawa kecil melihat kelucuan Inara.
"Kami duduk di sini juga ya," ucap bu Maryam tiba tiba datang dan langsung menempati tempat duduk di sebelah Indi.
Indi mengernyit heran melihat kedatangan ibunya yang kini mulai menyebalkan itu, sedangkan Intan hanya menurut saja kemana mereka akan membawanya.
"Kenapa di sini? Memangnya nggak malu duduk sama anak durhaka, Bu?" sindir Indi telak, sembari menggigit burger ayam yang tadi di pesannya.
Bu Maryam berdecak. "Tempat lain penuh, lagi pula kenapa sih kalau ibu duduk di sini? Ibu ini kan ibu kamu? Siapa yang akan melarang seorang ibu duduk di dekat anaknya sendiri?" gerutu Bu Maryam kesal.
Tak ingin menjadi pusat perhatian karna ucapan bu Maryam yang menggelegar, membuat indi akhirnya mengalah dan lagi lagi memilih diam. Sungguh, jika bisa rasanya ingin sekali dia menjawab setiap ucapan yang terlontar dari bibir tua Bu Maryam. Tapi mengingat Bu Maryam adalah ibu kandungnya, membuat Indi takut juga. Bagaimana kalau sebagai ibu kandung nanti Bu Maryam marah dan mengutuknya menjadi jambu mete? Hiiiyyy, tak bisa Indi bayangkan menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi seonggok jambu yang banyak di kenal orang sebagai jambu monyet itu. Jadi untuk amannya, Indi memilih diam dan melanjutkan makannya dengan tenang.
"Kamu ini mesankan makanan buat ibu kok ayamnya kecil sekali begini, sedangkan buat kamu sendiri segede gajah begitu. Dasar kamu pelit!" gerutu Bu Maryam lagi, namun tetap memakan apa yang terhidang di hadapannya walau sambil mengomel.
Indi menarik nafas dalam, mencoba tidak terpancing dengan ibunya yang semakin menjadi jadi itu. Di tariknya kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan yang sangat panjang serupa joker, eh.
"Bu, itu kan dari tadi sebelum duduk di sini sudah ibu cemilin duluan kan? Makanya ayamnya jadi kecil, nah yang ibu bilang besar punya Indi ini, ini roti burger sisa remekannya si Inara, Bu memangnya ibu mau? Kalau mau ya ini Indi kasih sama kuah kuahnya sekalian," geram Indi sambil menyodorkan sebuah cup berisi roti burger sisa Inara yang di celupkannya ke dalam sisa sup ayam yang tadi juga di pesan indi.
Dan Bu Maryam hanya bisa menatap hampa pada apa yang ada di depannya, tanpa bisa berkata apa apa lagi.
__ADS_1