TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 245.


__ADS_3

 Zaki turun dari mobilnya setelah memarkirkannya dengan rapi di garasi, berjalan menuju rumah seraya mengendurkan dasi yang bertengger rapi di lehernya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya pelan, sembari menunduk untuk melepas sepatunya.


"Wa'alaikumsalam."


 Zaki sontak menoleh saat mendengar suara yang asing di telinga menyahut salamnya, di rumah itu biasanya jika bukan Bu Ambar, Dara dan Elis sangat jarang ada orang lain selain Indi dan Bu Maryam yang beberapa kali bertandang.


"Loh, kamu siapa?" tanya Zaki yang memang belum mengenal siapa Zulfa.


 Zulfa yang kala itu tengah memeras kain yang dia gunakan untuk mengelap lantai teras langsung menunduk, tak berani menatap wajah Zaki yang terlihat seolah mengintimidasi di mata Zulfa yang masih trauma akan sikap kasar mantan suaminya.


"Eh, Zaki? Sudah pulang? Kok nggak langsung masuk?" tegur bu Ambar yang baru saja keluar setelah mendengar suara Zaki dari arah teras, sejak tadi Bu Ambar memang sengaja duduk di ruang tamu menanti anaknya itu pulang.


 Zaki menoleh dan menunjuk Zulfa dengan raut kebingungan. " Dia siapa, Bun? Kok ada di rumah kita?"


 Tubuh Zulfa seketika menegang, rasa traumanya yang belum hilang membuatnya seketika langsung ketakutan jika di sebutkan namanya dengan ketus seperti itu.


 Bu Ambar mendekat dan menarik tangan Zaki untuk naik. "Ini Zulfa, anaknya Bu Zaenab sama Pak Jamal yang bungsu."


 Zaki mengangguk paham. "Lalu buat apa dia ada di sini, Bun? Bukannya Bu Zaenab juga ada di rumah anaknya yang kemarin Zaki antar Pak Jamal ke sana itu ya?"


"Sudahlah, panjang kalau mau di ceritakan semuanya sekarang lebih baik kamu masuk dulu terus mandi dan ganti baju. Nanti setelah itu baru kita bahas lagi, Oh ya Zulfa kamu teruskan ini ya." Bu Ambar menunjuk lantai yang sebagian masih ada jejak kotoran itu.


 Zulfa mengangguk ringan lalu kembali berjongkok dan mengusap lantai dengan kain lap yang di pegangnya.


 Tak lama setelah Bu Ambar masuk ke dalam rumah bersama Zaki, Bu Zaenab muncul dari arah samping rumah. Bu Ambar memang sengaja meminta Bu Zaenab yang mengangkat air dari keran samping rumah untuk mengepel terasnya, sekaligus karna ingin memberi pelajaran pada tetangga tukang mintanya itu agar sadar dan mau berusaha.


"Hhuuufff, capeknya. Ember segini kecil saja kalau di isi air kok ya beratnya minta ampun," keluh Bu Ambar sambil duduk di tangga teras, tak berani menaiki lantai teras lagi takut pakaiannya yang juga berdebu itu ikut kembali mengotori lantai yang sebagian sudah di bersih di pel Zulfa.

__ADS_1


"Hitung hitung olahraga, Bu," celetuk Zulfa tenang, sudah sejak tadi perempuan dengan lesung pipi di wajahnya itu menggerakkan tubuhnya untuk membuat lantai itu kembali menjadi bersih dan tak tampak sama sekali raut raut kelelahan di wajahnya. Mungkin itulah yang dinamakan alah bisa karena terbiasa.


 Selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah mulai dari yang berat hingga yang ringan membuat tubuh Zulfa menjadi terlatih, pekerjaan sepele seperti mengepel bukanlah perkara berat untuknya.


"Olahraga kok di paksa sih, fa? Ada ada aja kamu itu," gerutu Bu zaenab sambil memegangi tenggorokannya yang mendadak terasa kering.


 B Zaenab menoleh ke dalam rumah yang pintunya sengaja di buka karna sejak tadi Bu Ambar terus duduk di sana mengawasi pekerjaan mereka. Namun kini tempat duduknya itu tampak kosong karna Bu Ambar yang pergi dari sana.


"Kenapa, Bu? Kok ngelihatinnya serius sekali?" tanya zulfa yang heran melihat tingkah ibunya.


 Bu Zaenab menoleh sekilas. "Nggak papa, ibu haus dek."


 Zulfa mendesah pelan, jika boleh jujur pun sebenarnya dia juga haus. Namun jika harus meminta minum pada Bu Ambar atau yang lain jujur saja dia masih sungkan, ingin pulang dan mengambil minum di rumah lebih tidak mungkin, pintu rumah terkunci dan tak ada jalan masuk yang lain. Itu juga yang membuat mereka sejak tadi malam terpaksa tidur di teras menahan dinginnya angin malam, apalagi semalam malah turun hujan.


"Duh, ibu nggak tahan sekali. Apa ibu minum air ini aja ya? Kayaknya jernih dan bersih ini air kerannya?" ucap Bu Zaenab sambil menciduk air dari dalam ember yang tadi di gunakan untuk membawa air dari samping rumah ke teras. Air itu memang jernih dan tak berbau, namun Zulfa tak yakin air itu bisa di konsumsi.


 Bu Zaenab akhirnya kembali menarik tangannya yang sebelumnya sudah masuk ke dalam air, di tatapnya air itu sembari menelan ludah. Tampak sekali kalau Bu Zaenab memang sedang sangat kehausan saat ini.


 Tak tega, akhirnya Zulfa mencoba memberanikan diri untuk meminta minum pada si empunya rumah yang sebenarnya belum terlalu dia kenal itu.


Tok


Tok


Tok


"Permisi, Mbakk." Zulfa memanggil sambil mengetuk pintu, karna tak ada orang yang tampak di sekitar ruang tamu. Ingin masuk namun dia tak berani melampaui batasnya sebelum di izinkan.


 Ceklek

__ADS_1


"Ya?" sahut Zaki yang kebetulan baru saja keluar kamar setelah selesai mandi sore. Dia yang mendengar panggilan Zulfa langsung merespon karna khawatir perempuan itu butuh sesuatu.


"Emmm ... mas, maaf mengganggu apa boleh saya minta minumnya sedikit? Ibu saya kehausan," ucapnya pelan dan kepala tertunduk dalam, lebih dulu merasa khawatir pada respon Zaki yang mungkin saja tak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


"Loh? Tadi sama bunda belum di kasih minum?" tanya Zaki sambil berjalan mendekat ke arah Zulfa berdiri.


 Zulfa menggeleng. "Belum, Mas mungkin ibunya Mas lupa."


"Ya sudah ,tunggu sebentar di situ."


 Zaki berlalu ke dapur dimana tadi Dara dan Bu Ambar pamit untuk menyiapkan makan malam. Setelah itu tak lama dia kembali dengan satu botol air mineral jumbo dan dua gelas kaca di atas nampan.


"Ini, minumlah. Kata bunda beliau minta maaf karna lupa memberikan minum, sebab sedang sibuk di dapur memasak." Zaki menyodorkan nampan itu ke hadapan, dan Zulfa dengan sigap menerimanya namun saat itu malah tangan Zulfa tanpa sengaja menyentuh jemari Zaki yang masih memegangi nampan.


 Zulfa mengangkat wajahnya kaget, begitu pula Zaki yang seketika langsung menarik tangannya sehingga nampan berisi air minum itu hampir saja jatuh ke lantai jika saja Zulfa tak seimbang memegangnya.


"Maaf," ucap Zaki sambil membuang muka ke arah lain.


"Tidak, Mas. Saya yang salah, saya yang minta maaf, tolong maafkan saya."


"Tidak apa," sahut Zaki datar.


"Kalau begitu, terima kasih atas minumnya. Saya permisi," tukas Zulfa lalu segera beranjak menuju tempat dimana Bu Zaenab menunggu untuk minuman tanpa rasa itu.


 Zaki melirik sekilas pemandangan mengharukan itu, lalu setelahnya berlalu tanpa berbuat apapun.


 Sementara zulfa, setelah meminum air itu dia sempat memegang tangannya yang tak sengaja bersentuhan dengan kulit Zaki tadi. Dia tersenyum kecil kala merasakan adanya gelenyar aneh di dalam dadanya saat mengingat kejadian itu.


"Tangannya lembut sekali," lirih Zulfa sebelum kembali melanjutkan kegiatannya mengepel lantai.

__ADS_1


__ADS_2