
Di kediaman Pak Sukri.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum, permisi." Fatan mengetuk pintu kayu itu dengan tegas, menciptakan suara yang cukup kencang hingga dia yakin semua orang di dalam rumah itu bisa mendengarnya.
Benar saja, tak lama terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah. Di susul suara kunci pintu yang di putar dua kali.
Suasana di sekitar sudah mulai gelap, penerangan hanya berasal dari lampu lampu di rumah rumah warga yang menyala temaram. Fatan mengusap tengkuknya yang terasa dingin.
Ceklek
Pintu terbuka, tampak seraut wajah gadis manis menyembul dari sana.
"Mas Fatan!" serunya girang.
"Intan," sapaa Fatan ramah, dan membiarkan gadis yang sudah di anggapnya adiknya sendiri itu menghambur memeluknya.
"Mana bapak, Tan?" tanya Fatan setelah intan mengurai pelukannya.
"Ada di dalam, lagi makan sama ibu. Kebetulan, yuk kita makan bareng aja, Mas." Intan menarik tangan Fatan ke dalam rumah, dengan senyum mengembang dan cara jalan yang di centil centilkan.
Namun entah Fatan yang sudah biasa atau memang dia tidak mempunyai perasaan apapun pada intan, semua itu hanya tampak biasa di matanya.
"Pak, Bu ada Mas Fatan." Intan berkata pada orang tuanya yang tengah duduk di meja makan menghadap hidangan yang tampak sangat menggiurkan itu.
Fatan menelan ludah melihat semua masakan yang siap di santap di atas meja itu, bahkan Fatan sendiri lupa kapan dia makan dengan lauk selengkap itu setelah berpisah dengan Dara dulu. Kehidupan yang serba sulit membuat Fatan harus menahan diri saat sajian yang ada di rumahnya hanyalah sebatas tahu dan tempe atau sayuran yang tumbuh di belakang rumahnya, itupun hanya bisa di masak sederhana.
"Eh, Fatan. Ayo sini ikut makan sekalian," ajak Pak Sukri ramah.
"Iya, Fatan. Makan dulu, nanti baru ngobrol," imbuh Bu Sukri sambil memberikan sebuah piring kosong pada Fatan yang kini sudah duduk di tempat yang di sediakan intan, tepat di sebelahnya.
" Terima kasih Pak, Bu. Saya jadi nggak enak, baru datang malah langsung di suruh makan begini." Fatan berucap lirih.
__ADS_1
Intan tertawa dan menepuk pundak Fatan lembut, tampak akrab sekali.
"Nggak usah nggak enak, Mas. Kami tahu kok kalo di rumahmu sana nggak ada makanan seenak di sini, itu kan sebabnya kamu bertamu di jam jam makan malam seperti ini?" ucap Intan terdengar menghina, namun entah kenapa di telinga Fatan tak terdengar demikian.
"Intan, nggak boleh ngomong begitu." Pak Sukri memperingatkan sang anak.
Namun intan hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
"Tapi kan benar yang dibilang intan itu, Pak. Iya kan, Fatan? Istri kamu di rumah pasti nggak pernah masak yang begini kan?" timpal Bu Sukri turut mendukung sang putri.
Fatan menelan ludah, perkataan Bu Sukri membuatnya teringat dengan indi dan Bu Maryam yang saat ini mungkin saja belum makan sama sekali. Karna persediaan makanan di rumah sudah habis saat dia melihat ke dapur tadi, dan mungkin saja rumah mereka pun sudah gelap karena kehabisan token listrik.
"Sudah, kalian berdua ini ngomong apa sih? Sudah diam, biarkan Fatan makan dulu." Pak Sukri membentak istri dan anaknya yang hanya diam tak acuh itu, namun dari tatapan matanya mereka terlihat senang bisa menghina Fatan secara tidak langsung.
"Ayo, Fatan. Makan dulu, ambil saja mana yang kamu mau," tawar Pak Sukri sambil menyendok nasi untuk di masukkan ke piring Fatan.
"Terima kasih, Pak. Nggak papa biar saya ambil sendiri," ucap Fatan sungkan.
Pak Sukri tersenyum lalu menyerahkan centong nasi itu pada Fatan, membiarkannya mengambil makanannya sendiri.
"Makan yang banyak, Mas nanti di rumah nggak ada loh yang begini ," celetuk intan sambil menyuap makanan ke mulutnya.
Mendengar itu Fatan yang semula sungkan menjadi lebih tenang, dan tanpa pikir panjang mulai memasukkan berbagai lauk pauk yang ada di atas meja ke piringnya.
"Wah, Mas Fatan ini nggak kerja tapi makannya porsi kuli ya," celetuk intan lagi membuat Fatan yang sudah akan menyuapkan makanan ke mulutnya menjadi urung.
"Intan!" sentak Pak Sukri menatap tajam sang anak.
Intan mencebik.
"Apa sih, Pak? Teriak teriak aja."
"Sudah diam, biarkan Fatan makan dengan tenang," titah Pak Sukri tegas.
Intan diam, mereka melanjutkan makan dengan tenang hingga semua isi piring masing-masing pun ludes.
"Intan udah selesai, intan ke kamar dulu ya, Bu." Intan bangkit dari kursinya dan berjalan santai menuju kamarnya membiarkan piring kotornya tergeletak begitu saja di meja.
__ADS_1
"Bapak juga sudah selesai," timpal Pak Sukri sambil beranjak menuju kamar mandi guna mencuci tangannya yang kotor.
Fatan yang merasa harus membantu mulai bangkit dan mengambil piring piring kotor di atas meja itu dan mengumpulkannya menjadi satu. Padahal di rumahnya saja jika tidak di layani dia akan marah, namun di rumah orang rajinnya mengalahkan sponbob.
"Eh, Fatan. Kamu ngapain?" tanya Bu Sukri yang baru saja selesai meletakkan sisa lauk ke dalam lemari penyimpanan.
"Beresin ini, Bu.". Fatan menyahut ramah.
Senyum miring di bibir Bu Sukri terbit, lalu dengan cepat dia memberikan gelas kotor miliknya ke atas tumpukan piring kotor di hadapan Fatan.
"Kalau begitu sekalian ya, sekalian ini di cuci juga."
Fatan tercengang di tempatnya, pikirnya akan di larang untuk membantu rupanya malah di suruh mencuci sekalian. Sial sekali nasib Fatan malam ini, biasanya di rumah dia akan di layani namun di sini rasanya dialah pelayan itu.
"Kenapa? Kamu nggak mau ya? Padahal tadi kan kami sudah baik hati memberi kamu makan," ucap Bu Sukri mengungkit.
Fatan tampak terhenyak, namun lekas di tariknya sedikit senyum di bibirnya walau terpaksa .
"I- iya, Bu. Biar saya saja yang cuci piringnya," tukasnya kemudian.
Bu Sukri tersenyum sinis lalu menunjuk ke arah wastafel.
"Ya sudah, tolong cuci yang bersih ya. Saya mau ke depan dulu, jangan sampe ada yang pecah atau masih kotor ya itu peralatan makan mahal loh," titah Bu Sukri lagi.
Fatan menelan ludah dan mengangguk pasrah, toh dia memang pantas membantu karna tadi sudah di beri makan. Begitulah kira kira pikir Fatan.
Bertepatan dengan itu pak Sukri tampak baru keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah, wajahnya tampak terkejut melihat Fatan membawa setumpuk piring kotor ke arah wastafel.
"Loh, kenapa kamu yang angkat piringnya, Tan?" tanya Pak Sukri heran.
Namun baru saja hendak buka mulut, Bu Sukri sudah lebih dulu menyahut.
"Iya tuh, Pak. Padahal sudah ibu larang buat bantu bantu malah si fatannya maksa, ya ibu bisa apa. Memang baik sekali si Fatan ini, Pak. Coba aja besok menantu kita seperti Fatan ini, pasti beruntung sekali kita ya, Pak."
Fatan semakin tercengang mendengar perkataan terkakhir Bu Sukri, namun entah apa yang ada di otaknya hingga dia masih merasa semua nya masih di dalam batas wajar.
Pak Sukri balas tersenyum.
__ADS_1
"Ah iya, bagaimana kalau si Fatan kita ambil jadi menantu kita saja, Bu?"