TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 165. TETANGGA JULID 2.


__ADS_3

"Sudahlah, Bu Tejo kenapa sih masalah sepele begini saja di besar besarkan? Toh tidak merugikan sampean juga kan?" ucap Bu Hasanah lagi, kembali membela ini.


.


 Bukan karena apa apa, tapi sebagai tetangga Indi yang rumahnya paling dekat Bu Hasanah paling tahu bagaimana keseharian dan apa saja yang terjadi di rumah Indi. Sebab setiap kali bertengkar atau ribut suara dari rumah Indi selalu sampai ke rumah Bu Hasanah, yang membuat ibu dua anak itu menaruh simpati pada Indi walau banyak yang mengatakan kalau Indi adalah pelakor.


Bibir Bu Tejo tampak mencebik dengan tatapan kesal pada Indi yang hanya mampu menarik nafas dalam saja untuk sedikit mengurangi perih di hatinya yang bagaikan di sayat sayat.


" Huh, Bu hasanah mau maunya belain pelakor kayak dia. Ah sudah lah, nggak enak lama lama di sini udah panas pengap, nggak ada kipas angin apalagi AC. Ah sudah saya mau pulang saja lah, mau ngadem di kamar saya yang ad Acnya." Bu Tejo terus saja berceloteh sambil mengangkat tubuh tambunnya untuk beranjak walau dengan sedikit susah payah.


"Ah, saya juga pulang deh. Saya pulang ya, in. Cepat sehat kamu."


"Saya juga ya, in. Bu Maryam, Bu Hasanah saya duluan."


  Ucap beberapa tetangga lain yang turut membuntuti langkah Bu Tejo yang sudah lebih dulu berjalan keluar kamar tanpa bicara apa apa lagi, hanya dengusan nafas kesalnya yang terdengar sejak tadi hingga tubuh besarnya hilang di balik pintu.


 "Iya ibu ibu, makasih ya sudah di jengukin." Bu Maryam masih sempat membalas ucapan ibu ibu yang berjalan paling akhir yang berpamitan pada nya dengan senyum, walau sejujurnya hatinya pun sakit mendengar ucapan Bu Tejo tadi, terlebih ibu ibu yang lain yang walaupun dia tapi matanya tampak menyiratkan pikiran yang sama dengan Bu Tejo.


 Sepeninggalan ibu ibu itu, tinggalkan Bu Hasanah, indi dan Bu Maryam di kamar itu. Bu Maryam meletakkan bayi Indi ke atas kasur setelah bayi itu kenyang dan kembali terlelap.


"Jangan di ambil hati, in ucapannya Bu Tejo itu. Biasa lah dia itu, kan kamu tahu sendiri dia itu nggak pernah mau kalah." Bu Hasanah menatap takjub bayi Indi dan mengulurkan jarinya untuk mengelus pipi merahnya.


"Iya, Bu insyaallah Indi nggak ambil hati, tapi ... tetap saja rasanya nyesek ya, Bu." Indi memaksakan senyumnya.


"Bu Hasanah, di minum dulu tehnya." Bu Maryam kembali mempersilahkan tamunya itu dan mendekatkan piring dan gelas berisi teh yang di sajikan untuk Bu Hasanah tadi.

__ADS_1


Bu Hasanah tersenyum dan menerima gelas itu lalu meminumnya sedikit.


"Terima kasih, Bu Maryam."


Bu Maryam mengangguk, lalu mulai membereskan bekas minuman yang tadi di sajikan untuk tamu tamu lain lalu gegas membawa gelas kotornya ke dapur.


"Kamu jangan terlalu stress, in. Ingat sekarang ada bayi yang butuh kamu juga, jangan egois dan bahagia lah selalu." Bu Hasanah kembali memberikan wejangan yang baik untuk indi, Indi hanya tersenyum dan mengangguk pelan walau hatinya tahu akan berat untuk melakukannya.


"Insyaallah, Bu. Semoga saja saya diberi kekuatan dan kesabaran yang lebih lagi untuk bisa tetap waras," gumam Indi pelan.


 " Iya, usahakan supaya kamu jangan dengarkan ucapan ucapan yang tidak bermoral seperti ucapannya Bu Tejo tadi, kamu harus bisa memilah mana yang harus kamu ambil atau mana yang harus kamu buang saja ucapannya. Padahal Bu Tejo itu tidak punya AC di rumahnya, adanya kipas angin itu juga sudah mulai rusak. Cuma ya kamu tahulah, gayanya itu selangit dia nggak suka kalau ada yang menyaingi dia di kampung sini," papar Bu Hasanah yang sejatinya juga gedek punya tetangga seperti Bu Tejo.


 Indi tertawa kecil. "Apa iya, Bu?"


"Lha iya, emas emas yang dia pakai itu juga. Itu tuh emas kw belinya di toko punya anak saya kok," dengus Bu Hasanah lagi yang entah sengaja atau tidak malah meluapkan kekesalannya pada Bu Tejo pada Indi yang kebetulan ada di hadapannya.


 "Ah, masa sih, Bu emas sebanyak itu KW semua?" tanya Indi heran, sebab perhiasan emas yang di pakai Bu Tejo setiap harinya itu hampir membuatnya menyerupai toko emas berjalan.


 Kalung panjang berbandul besar, gelang keroncong, belum lagi anting anting rasa gantungan kunci motor, dan cincin yang memenuhi kesepuluh jarinya, terlebih jika di kampung itu ada yang hajatan sudah pasti Bu Tejo akan tampil lebih wor lagi, dengan perhiasan emas satu toko mungkin di pakainya.


"Lha iya kalau kamu nggak percaya, silahkan tanya sama anak saya yang punya toko emas maju jaya di pasar sana. Dia jual emas asli, tapi ada juga yang tiruan lapir kristal begitu. Nah si Bu Tejo ini sering sekali beli yang tiruan, itupun kadang suka ngutang pake bawa bawa nama saya lagi." Bu Hasanah kembali bersungut-sungut.


"Loh, kok bawa bawa nama ibu itu gimana sih, Bu?" Indi kembali bertanya karna bingung akan maksud Bu Hasanah.


"Iya, dia bilang sama anak saya kalau sudah bilang sama saya mau hutang emas dulu. Padahal nggak ada sama sekali dia bilang, dia buat begitu tujuannya supaya anak saya kasih dia ngutang. Eh ujungnya sampe sekarang juga belum di bayar, ya gimana mah bayar suaminya aja nggak kerja." .

__ADS_1


"Astaghfirullah, kok sampe segitunya ya, Bu?" gumam Indi tampak tak habis pikir dengan ulah tetangganya yang selalu tampil modis dengan banyak emas di tubuhnya itu .


"Iya nggak tahu saya juga, bahkan pernah loh dia itu sampe nyewa emas banyak sekali sama anak saya buat dib pake ke hajatan tetangga," ucap Bu Hasanah lagi dengan menggebu gebu.


 Indi hanya geleng-geleng kepala bingung harus menanggapi bagaimana lagi, ternyata segila gilanya dia dulu ada yang lebih gila lagi hidupnya. Tak habis pikir Indi memikirkannya.


"Eh, ya sudah ya, in. Saya mau pulang dulu, sudah siang." Bu Hasanah menepuk pelan kaki Indi untuk berpamitan.


"Eh, iya Bu Hasanah. Maaf merepotkan, dan nggak bisa antar sampai depan," sahut Indi sungkan..


 Bu Hasanah menggoyangkan tangannya di udara.


" Udah nggak papa, ya sudah saya pulang dulu ya. Nanti kalo ada waktu luang saya main ke sini lagi, " pamit Bu hasanah sebelum melangkah ke arah pintu keluar.


"Iya, Bu. terima kasih sudah mau datang ya, Bu." ucap Indi sebelum tubuh Bu Hasanah hilang di balik pintu kamarnya.


"Sama sama."


 Indi masih bisa mendengar suara Bu Hasanah dari dalam kamarnya.


 Indi tersenyum lalu menarik nafas dalam untuk menetralkan gemuruh di dalam dadanya. Semua perkataan Bu Tejo tadi meresap ke dalam hatinya walau sudah di usahakan untuk tidak di ingat.


 Air mata Indi menetes saat dia mendaratkan ciuman di pipi halus bayinya.


"Apa Mama nggak pantas bahagia, nak? Mama tahu dosa Mama mungkin terlalu besar untuk mengharapkan itu."

__ADS_1


__ADS_2